BERITA EMITEN

Opsi IPO KS Tetap Dipilih

Pemerintah menjamin tidak akan kembali menawarkan saham PT Krakatau Steel melalui opsi strategic sales (penjualan strategis) jika opsi IPO (initial public offering) gagal dilaksanakan tahun ini. Opsi IPO tersebut dinilai yang terbaik ditengah harga baja yang terus melambung.

“Tidak (akan di-strategic sales). Opsi (IPO) itu terbaik karena harga baja kan sedang tinggi sehingga harga sahamnya bisa lebih bagus,” ujar Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil kepada Jawa Pos kemarin. Sebelumnya, Menneg BUMN menantang KS untuk segera melakukan penawaran perdana saham pada November tahun ini. Hal itu diungkapkan setelah KS menolak diakusisi perusahaan baja dunia, Ancellor-Mittal melalui skema penjualan strategis.

Menurut dia, pelaksanaan IPO sejumlah BUMN memang tersendat karena proses persetujuan di DPR berjalan lambat. Tapi Sofyan menolak anggapan bahwa DPR sengaja tidak menyetujui privatisasi tersebut dengan tertentu. Lambatnya pembahasan di DPR karena prosesnya harus berjalan sesuai koridor yang sebenarnya. “Bukan menolak untuk menyetujui, tapi memang belum disetujui karena harus ada Panja segala macam itu,” lanjutnya.

Pihaknya berharap IPO Karakatau Steel tetap dapat dilaksanakan tahun ini. Sebab jika melihat proyeksi harga baja yang terus melambung, maka harga saham KS bisa terdongkrak ketika IPO. Oleh karena itu, opsi IPO dinilai cukup realistis jika melihat kondisi pasar saat ini. Menurut dia tidak ada alasan yang tepat bagi DPR untuk tidak menyetuji IPO PT Krakatau Steel.” Tidak ada alasan yang kuat (untuk menolak), karena pasarnya sedang bagus,” tambahnya.

Hingga kuartal pertama tahun 2009, harga baja diperkirakan terus naik. Faktor penunjangnya antara lain, suplai baja dunia yang akan berkurang drastis hingga 6 juta ton akibat adanya overhaul (perbaikan) mesin blast furnace (peleburan) baja di berbagai negara. Overhaul itu dilakukan untuk mengganti batu tahan api yang ada di mesin peleburan. Kalau overhaul kecil biasanya dilakukan setahun sekali, sedangkan overhaul besar 7-8 tahun sekali. (wir/jpnn)

Emedia Beli 8,3 % Saham MERK

Emedia Export Company m,bH, Jerman, (Emedia) telah membeli 1.860.500 saham atau sebesar 8,3% dari total kepemilikan PT Merck Indonesia (MERK) pada 21 Agustus 2008. General Manager Emedia, Uta Kemmerich-Keil, dalam laporannya ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, mengungkapkan, pihaknya telah membeli saham MERK tersebut dari Alphosus Dharmawan, PT Porto Amari dan Global Wealth Management dengan harga Rp50 ribu per lembar.

Menurut Uta, tujuan pembelian saham ini dalam rangka investasi di perusahaan farmasi yang memiliki induk perusahaan dan pemegang saham dari Jerman, Merck Holding GmbH. (jpnn)

Tinggalkan Balasan