Seminggu Terakir Rupiah Mulai Stabil

RADAR PALEMBANG, UANG-Pergerakkan transaksi rupiah terhadap dolar mulai menunjukkan arah positif. Rupiah sejak seminggu terakhir menguat di kisaran Rp 9.100-Rp 9.210 perdolar. Namun, meskipun sudah mulai mengarah penguatan, masih sulit diprediksi kemana selanjutnya arah pergerakkan dua mata uang tersebut.

Penguatan rupiah mulai terjadi tanggal 7 April lalu tepatnya sejak Boediono dinyatakan terpilih sebagai Gubernur BI peridoe 2008-2013 menggantikan posisi Burhanuddin Abdullah. “Kalau dibandingkan dua minggu lalu, pergerakkan rupiah cenderung masih fluktuatif, bergerak naik turun terutama oleh spekulan,” terang Bagian Valas Bank Mega A Rivai, Ariandi, kemarin.

Selain karena faktor terpilihnya gubernur bank sentral tersebut, adanya informasi bahwa lembaga moneter internasional (IMF) akan menjual sekitar 12 persen cadangan emasnya atau sekitar 430 ton, membuat dolar makin terpuruk sehingga kesempatan bagi rupiah untuk berjaya.

‘’Disamping itu, harga minyak mentah sekarang mulai naik lagi, perdagangan hari ini (kemarin,red) minyak sudah diperdagangkan di level USD 112 perbarrel. Belum lagi harga emas juga ikut terkerek naik,’’tegasnya.

Ariandi mengakui, kalau saat ini pergerakkan rupiah agak sulit diprediksi. Jika minggu ini menguat belum tentu minggu depan juga demikian. Sebab, kemungkinan rupiah untuk anjlok lagi masih besar. Alasan utamanya pada penetapan acuan harga minyak dalam APBN-P yang dibuat pemerintah mengambang. Artinya harga minyak acuan anggaran negara mengikuti harga pasar sehingga bisa naik setiap saat. Kalau terjadi kenaikkan harga minyak akan memacu inflasi bulan ini. ’’Dan ujung-ujungnya rupiah bisa jeblok,’’ ulas dia.

Apabila dibandingkan dengan kondisi mata uang negara lain dengan dolar, pergerakkan rupiah termasuk agak aneh. Ketika mata uang lain seperti Euro menguat terhadap dolar, mata uang negara ini justru melemah. ’’Makanya untuk kondisi selama bulan ini, saya sarankan kepada nasabah untuk melakukan wait and see, jangan dulu melakukan penjualan.’’

Tetapi, jika mengacu nilai transaksi seminggu lalu, penguatan rupiah yang terjadi tidak justru meningkatkan transaksi nasabah. Jika biasanya transaksi hanya mencapai USD 300 ribu-USD 500 ribu perhari, selama seminggu ini transaksi perhari naik hingga USD 900 ribu. Kebanyakan transaksi yang dilakukan nasabah adalah pembelian untuk kemudian dana tersebut disimpan dan menunggu sampai rupiah sedikit melemah.

’’Tapi kita lihat pada tanggal 14-25 April nanti, kemungkinan rupiah melemah ada. Karena biasanya nasabah corporate mulai lakukan pembayaran utang yang jatuh tempo, sehingga dolar banyak dicari dan akhirnya rupiah melemah,’’ terang dia.(ade)

Tinggalkan Balasan