Konsumen Berjubel, Pengusaha Naikkan Tarif
Kebiasaan yang hampir mustahil untuk tidak dilakukan oleh para penyedia bibit karet saat musim tanam tiba adalah melakukan menaikan tarif. Semakin banyak permintaan semakin tinggi harga yang ditawarkan. Berikut pantauan koran ini.
Sikin-BANYUASIN
Sudah menjadi hukum pasar, harga barang cenderung mengalami kenaikan jika permintaan barang dari pihak konsumen terus meningkat. Kondisi ini, juga terjadi pada bisnis pembibitan karet. Hanya saja, biasanya, mereka para pemilik pembibitan jauh jauh hari sudah memasang kuda kuda untuk menaikan harga sebelum para konsumen menyerbu.
Bahkan, sebagain dari mereka memasang target kenaikan dalam jangka waktu tertentu. Kebiasaan ini menjadi tren yang selalu terjadi setiap memasuki musim tanam. Sehingga, belum memasuki musim tanam pun, bayang bayang kenaikan harga sudah dirasakan oleh pihak konsumen.
Menariknya, pada saat permintaan mengalami puncak, justru yang mempermainkan harga berasal dari pihak konsumen. Konsumen mampu membayar berapa pun asalkan mendapatkan bibit karet tersebut. Pada akhirnya yang melakukan perang harga pihak konsumen, bukan semata mata kebijakan penuh dari pemilik bibit karet.
“Kalau nantinya sudah puncak dan itu yang biasanya terjadi setiap tahun adalah harga mengalamai lonjakan yang sangat besar. Kadangkala, mereka para pembeli yang berusaha mematok harga tinggi asalkan mendapatkan bibit yang diinginkan. Seperti pada tahun lalu, bibit sudah menipis dan hanya tinggal beberapa saja. Ada konsumen yang sanggup membayar mahal, bahkan jauh lebih mahal dari pasaran asalkan mereka mendapatkan bibit tersebut. Jadi, kenaikan harga juga dari faktor pembeli yang memang ingin mendapatkan bibit dengan harga yang jauh lebih mahal,”terang Manto, salah satu pemilik pembibitan di desa Rejodadi Kecamatan Banyuasin III.
Tentu saja, yang paling diuntungkan dengan kondisi diatas adalah para pemilik bibit. Dimana kenaikan harga sudah pasti terjadi, dan mereka sama sekali tidak terbebani. Pasalnya, para konsumenlah yang ngotot membayar lebih dari harga pasaran asalkan mendapatkan bibit yang diinginkan.
Konsumen berpikir lebih baik mengeluarkan uang lebih banyak dari harga biasanya ketimbang tidak mendapatkan bibit sama sekali. Karena tidak mendapatkan bibit, resikonya jauh lebih besar ketimbang harus takut dan merasa rugi merogoh koceknya untuk membeli bibit. Jika para petani karet atau konsumen tidak mendapatkan bibit karet tersebut, seangkan tanah sudah dipersiapkan, maka para pemilik lahan/konsumen bibit dengan terpaksa harus menunda penanaman karet hingga tahun berikutnya.
Dipastikan, jika mengalami penundaan hingga satu tahun, biaya operasional pembukaan lahan baru akan mengalami peningkatan dua kali lipat. Karena, tanah yang dibiarkan tanpa ditanami karet akan menjadi belukar dan harus diolha lagi untuk ditanami tahun berikutnya.
Sehingga wajar, lanjut Manto, kalau para konsumen berani membayar dengan harga lebih yang tentunya akan mempengarui harga pasaran di tempat lainnya asal mereka tidak menunda penanaman karet untuk lahan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Untuk musim tanam tahun 2008 yang mengalami puncaknya pasca lebaran idul fitri, para pemilik pembibitan sudah melakukan ancang ancang menaikan harga hingga ke level Rp 3.000 perbatang. Padahal, pada saat normal sebelumnya, harga bibit tersebut masih berkisar antara Rp. 2100-2200 per batang untuk semua jenis bibit.
Sekarang saja, bibit tersebut sudah mengalami kenaikan perbatangnnya hingga mencapai angka Rp. 2500. dipastikan. Apalagi, pasca lebaran tersebutlah permintaan akan mengalami lonjakan dan mengalami puncaknya.
“Kalau sekarang saja sudah naik perbatangnnya mencapai angka Rp 2.500, nah kita perkirakan nanti pada puncak permintaan yang terjadi pasca lebaran harga akan kembali naik. Diperkirakan akan mengalami kenaikan hingga Rp. 3000 perbatang. Kalau sekarng memang belum terlalu banyak yagn membeli karena mereka para konsumen menyiapkan uang untuk keperluan idul fitri. Makanya kita perkirakan puncak pembelian akan jatuh pada pasca lebaran idul fitri mendatang,”terang Fahmi, salah satu pemilik pembibitan di desa pangkalan Panji. (**/habis)
DIarsipkan di bawah: utama | Ditandai: bibit karet
