Permintaan Meningkat, Saham CPO akan Berjaya

RADAR PALEMBANG, OIL-Prospek saham produsen crude palm oil (CPO) di masa-masa mendatang bakal cerah. Harga komoditas itu akan terus menguat seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi alternatif di pasar luar negeri.

Berdasarkan data perkembangan harga palm oil di pasar Malaysia, selama tahun ini, harga tertinggi dicapai pada Bulan Maret 2008 yang harganya hampir menyentuh RM 4,000 permetric ton. Kemudian bulan berikutnya, harga CPO cenderung bergerak stabil antara RM 2,96-RM 3,48, dan Bulan Agustus ini harganya turun di level RM 2,700 permetric ton. Diprediksi harga CPO tahun 2009 mendatang akan stabil rata-rata di RM 2,500 permetric ton.

Pergerakan harga CPO ini searah dengan pergerakan harga minyak mentah. Meningkatnya harga minyak membuat kebutuhan energi alternatif juga bertambah. “Apalagi ada pendapat beberapa analis yang mengatakan harga minyak hingga akhir tahun ini bisa diatas USD 150 perbarrel,” ujar Analis Sarijaya Securitas Dwi Mulyadi didampingi Riset Analis Mikha Vita Wijaya, kemarin.

Bakal mencuatnya harga minyak mentah dilandasi oleh situasi politik AS yang makin memanas. Belum lagi akhir tahun ini kebutuhan minyak akan meningkat akibat konsumsi energi panas saat musim dingin juga melonjak.

Namun, sebagian analis lainnya beranggapan sebaliknya. Minyak mentah akan menemui titik keseimbangan di harga USD 80-100 perbarrel. Pertumbuhan ekonomi di AS yang membaik belum akan membawa perubahan besar terhadap harga minyak. Sampai tahun 2016 mendatang diperkirakan harga minyak mentah akan ada di kisaran USD 114-116 perbarrel, asalkan kondisi ekonomi internasional stabil.

Dengan prediksi pergerakan harga CPO yang menggembirakan itu, perkembangan saham-saham produsen CPO juga bakal mengikuti. Ada empat saham produsen CPO yang memiki market kapitalisasi terbesar di sektor perkebunan yakni PT Astra Agro Lestari Indonesia Tbk, PT London Sumatra Plantations Tbk, PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk dan PT Sampoerna Agro Tbk.

Secara fundamental, kondisi keuangan masing-masing perusahaan sangat positif. Laba bersih yang diperoleh masing-masing emiten periode semester pertama (Januari-Juni) 2008 mengalami lonjakan drastis. Peningkatan laba utamanya terjadi akibat dukungan harga CPO yang menguat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Harga yang membaik juga dimanfaatkan perusahaan dengan meningkatkan volume penjualan.

Perkembangan harga sahamnya juga sangat positif. Emiten CPO yang seringkali jadi patokan harga saham perkebunan yakni AALI. Ketika harga AALI meningkat, saham produsen CPO lainnya juga akan melonjak. Saham AALI menguasai sedikitnya 30 persen dari transaksi saham sektor perkebunan di pasar bursa efek indonesia.

Sementara dari nilai rata-rata transaksi harian di BEI sekitar Rp 4 triliun,  penguasaan kelompok perkebunan satu level dengan kelompok properti masing-masing Rp 70 miliar, posisi tertinggi ada pada kelompok infrastruktur Rp 302 miliar diikuti kelompok pertambangan (mining) Rp 300 miliar lalu perdagangan dan industri Rp 122 miliar dan consumer goods Rp 120 miliar.

Bila dilihat secara tehnikal, saham-saham perkebunan cenderung mengikuti arah gerakan AALI. Posisi 14 Januari 2008 lalu harga AALI mencapai titik tertinggi selama tahun ini Rp 33.150, diikuti UNSP Rp 2.725, LSIP 13.700, SGRO Rp 4.725 saat IHSG ada di 2.730.

Kemudian ketika indeks turun di 2.159 pada 2 Sptember 2008 lalu, harga AALI mengalami posisi terendah di Rp 17.800, sedangkan UNSP di Rp 1.090, LSIP Rp 5.550, dan SGRO Rp 2.375.(ade)

Tinggalkan Balasan