Omzet Industri Kompor Ambruk
Sejak program konversi mitan ke elpiji terus didengungkan dan semakin popular di hari masyarakat ke bawah. Giliran industri kompor kini gulung tikar, karena omzet ambruk drastic tinggal 20 persen.
Asih Mahyurini, PALEMBANG
Biasanya sebelum program konversi popular, ia mampu menjual rata-rata 500 kompor per bulan, mulai dari distribusi di Palembang, hingga daerah lain seperti Prabumulih, OKI, OI dan Muara Dua Baturaja. Sekarang tingga 50-100 per bulanya.
‘’Dua puluh persen itupun, untung-untungan dek. Kalau lagi ada yang pesan, ya kita buat. Katanya untuk antisipasi saat gas habis, mereka masih pakai kompor dengan minyak, meski harga minyak tanah Rp 7.500 per liter,”kata Najib salah satu anggota kelompok pengrajin kompor di kawasan Sukabangun.
Untuk rincinya, permintaan Palembang malah hanya dikisaran 70-100 buah yang dipasok oleh distributor di 16 Ilir. Selainya masih dikirim ke Prabumulih dan baturaja. Upaya mengalihkan program lain, kata najib memang ada. Seperti pembuatan kompor serbuk. Itupun masih banyak kendala. Karena tak semua daerah sanggup membelinya.
Bukan masalah harga, yang memang relatif terjangkau. Tapi masalah bahan baku serbuk yang sulit didapatkan. ‘’Kalaupun ada biasanya pasokan serbuk banyak dari OKU Timur. Itupun kita tidak bisa pasok, kita serahkan ke konsumen untuk cari serbuknya sendiri.’’
Upaya lain, saat ini masih diusahakan, adalah mulai merintis lagi pembuatan kompor briket.sasaranya selain di Muara Enim, adalah di MUBA dan Banyuasin. Ketiga daerah, jenis komporbriket mulai popular.
Najib mengaku, sudah jatuh bangun melakoni usahanya. Hampir setiap 3-4 tahun ada ebijakan baru tentang bahan bakar. ’’Saat kita mulai naik omzet kompor briket beberapa waktu lalu, ternyata tiba-tiba redup. Lalu saat harga minyak naik, kompor minyak mulai popular lagi, tapi sekarang ternyata harus redup tiba-tiba dengan kebijakan konversi gas. Mulai beralih ke kompor serbuk. Eh, itu juga masih terkendala, dan akhirnya mau bidik lagi kompor briket,’’beber Najib sembari menggeleng-gelengkan suaranya.
Untuk bahan baku, meski akunya naik. Tapi, bahan, sebenranya tak terlalu berpengaruh dengan harga kompor. “Kita ambil untung kecil. Tinggal kuatkan pasarnya sajalah sekarang ini,”ucapnya.(ayu)
DIarsipkan di bawah: palembang raya | Tagged: UMKM
