Indonesia Resmi Keluar OPEC

RADAR OPAPALEMBANG, OPEC- Indonesia akhirnya secara resmi menyatakan mundur dari keanggotaan organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization Petroleum Exporting Countries/OPEC). Hal itu disampaikan dalam Konferensi OPEC ke-149, yang berlangsung tanggal 9-10 September 2008, di Wina, Austria.’’OPEC memahami situasi Indonesia sebagai net oil importer,’’ kata Gubernur OPEC untuk Indonesia Maizar Rahman, melalui pesan singkatnya, kemarin (10/9).

Menurut dia, konferensi dan Indonesia sepakat dengan status suspensi keanggotaan. Mereka juga mengharapkan Indonesia dapat kembali menjadi anggota OPEC sepenuhnya. ’’Bila situasinya sudah memungkinkan,’’ terangnya.

Dengan demikian, Indonesia mengakhiri keanggotaannya selama 47 tahun di OPEC. Indonesia tercatat bergabung dengan OPEC pada tahun 1961. Indonesia juga merupakan satu-satunya wakil Asia di OPEC.

Keputusan untuk keluar dari OPEC yang didengungkan pemerintah sejak Mei lalu, dipicu oleh laju produksi minyak mentah yang terus turun, dari 1,6 juta barel per hari (bph) pada 1996 menjadi hanya sekitar 970 ribu bph tahun ini.Tahun depan, produksi diperkirakan kembali turun ke angka 960 ribu bph.

Di sisi lain, konsumsi BBM di Indonesia terus meningkat yang hingga kini mencapai 1,3 juta bph. Kondisi itu membuat Indonesia menyandang predikat sebagai net oil importer.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Indonesia akan bergabung lagi dengan OPEC jika tingkat produksi minyak kembali meningkat. ’’Jika produksi kita sudah kembali pada level yang memberi kita status net oil exporter, maka saya pikir kita akan segera kembali ke OPEC,’’ ujarnya.

Menanggapi kemungkinan Indonesia kembali menjadi anggota OPEC, pengamat perminyakan Kurtubi menilai hal tersebut membutuhkan waktu panjang. Sebab, lanjut dia, upaya menggenjot produksi minyak tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. ’’Mungkin sepuluh tahun lagi. Saat itu produksi kemungkinan bisa di atas konsumsi, dan Indonesia kembali jadi net exporter,’’ katanya.

Menurut dia, upaya menaikkan produksi tidak bisa dilakukan dengan hanya mengandalkan lapangan-lapangan minyak yang sudah ada saat ini (eksisting) yang terus mengalami laju penurunan alamiha atau natural declining rate 13 persen tiap tahun. ’’Tetapi harus dengan penemuan-penemuan cadangan baru,’’ terangnya.

Hal senada juga diungkapkan pengamat perminyakan dari Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto. Menurut dia, sulit bagi Indonesia untuk menaikkan produksi secara signifikan dalam lima tahun kedepan. Apalagi, konsumsi BBM nasional terus naik 6-7 persen per tahun. ’’Jadi, meski OPEC membuka kesempatan untuk bisa masuk lagi, prediksi saya, itu akan sulit tercapai dalam lima tahun ke depan,’’ ujarnya.

Selain berpamitan, Indonesia juga memanfaatkan momen sidang OPEC ke-149 untuk menjalin kerjasama bilateral dengan beberapa negara. Menurut Maizar Rahman, di luar agenda sidang, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro melakukan pertemuan bilateral dengan menteri-menteri dari Aljazair, Irak, dan Equador. ’’Pertemuan dilakukan untuk kerja sama eksplorasi dan produksi migas di negara-negara tersebut, maupun impor minyak mentah dan elpiji dari Aljazair,’’ katanya.

Pangkas Produksi

Hal penting lain yang diambil dalam sidang OPEC kemarin adalah keputusan untuk memangkas produksi minyak OPEC. Menurut Maizar, 13 anggota OPEC melihat bahwa dunia cukup mendapatkan pasokan minyak. ’’Karena itu, OPEC memutuskan untuk kembali pada tingkat produksi September 2007, yakni sebesar 28,8 juta barel per hari, itu termasuk Angola dan Equador, serta di luar Indonesia dan Irak,’’ terangnya.

Dengan kembali ke level produksi 28,8 juta bph, itu berarti OPEC memangkas produksi harian sebanyak 520 ribu barel.

Sebelumnya, hari minggu lalu (7/9), Maizar mengatakan, para petinggi OPEC memang sudah mencapai kesepakatan tidak resmi (unofficial) untuk menjaga harga minyak agar tidak terus turun. Caranya, dengan memangkas produksi minyaknya.

Meski hanya memasok sekitar 37 persen dari total kebutuhan minyak dunia, namun OPEC tetap memiliki peran signifikan dalam mempengaruhi fluktuasi harga minyak dunia.

Keputusan OPEC tersebut langsung direaksi pasar, sebagaimana dilansir AFP. Pada perdagangan pagi kemarin di Asia, minyak jenis light sweet untuk pengiriman Oktober naik USD 84 sen menjadi USD 104,10 per barel. Sementara North Brent Sea naik USD 63 sen menjadi USD 100,97 per barel. (owi)

Tinggalkan Balasan