
KAYA: Banyak anggapan bahwa warga Tionghoa hampir seluruhnya kaya. Padahal yang kaya hanya sekitar 10 persen saja
Anggapan bahwa semua warga Tionghoa itu kaya nampaknya sulit untuk dilepaskan. Hal ini terlihat dari sikap beberapa oknum yang memberikan perlakukan berbeda antara warga Tionghoa dengan warga pribumi dalam hal pengurusan surat menyurat. Padahal sebagai warga negara, mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama.
Dewan penasehat Persatuan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Palembang Sakim SH MM mengakui kalau hingga kini masih ada oknum yang menganggap warga Tionghoa itu kaya sehingga dalam mengurus surat menyurat mereka selalu diperlakuan berbeda dengan masyarakat lainnya.
Padahal di Sumsel sendiri yang termasuk kalangan bawah jumlahnya masih cukup besar. Bahkan dari total warga Tionghoa yang ada, hanya sekitar 10 persen yang masuk kategori menengah keatas, selebihnya masuk kelas menengah kebawah.
“Kondisi ini sebenarnya bisa dilihat di lapangan, masih ada warga Tionghoa yang menjadi tukang becak, petani dan usaha kecil lainnya. Kalau di palembang bisa dilihat di daerah Sako, Talang Buruk, dan sebagian Bukit Besar, ”ujar Sakim.
Hal ini pria yang juga bendahara DPD PDIP Sumsel ini sudah menjadi bukti kalau tidak semua warga Tionghoa itu kalangan atas. Untuk itu kepada pihak terkait hendaknya juga lebih memandang warga Tionghoa itu sebagai warga negara yang sama dengan warga pribumi lainnya.
Disinggung keterlibatan dalam politik, Sakim mengaku sudah cukup baik, bahkan tidak sedikit yang duduk dalam jajaran pengurus partai. “Sekarang ini yang aktif dipartai sudah cukup banyak. Ini menjadi salah satu bukti bahwa warga Tionghoa juga memiliki kepedulian dalam memajukan bangsa dan negara, “ ujarnya.
Selain di partai, warga Tionghoa sebenarnya mempunyai keinginan menjadi pegawai negari atau TNI/polri. Namun keinginan tersebut terkadang terkendala oleh birokrasi. “ Yang ingin sebenarnya banyak, tetapi karena masuknya susah ditambah isu penggunaan uang, maka banyak yang memilih balik kanan,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Harun salah seorang warga Tionghoa. Menurutnya sejak beberapa tahun belakangan sikap diskriminasi sebenarnya sudah tidak begitu dirasakan. Ini terlihat dengan banyaknya warga etnis Tionghoa yang masuk dan aktif di organisasi kemasyarakatan maupun partai politik.
”Pada prinsipnya diskriminasi terhadap warga etnis Tionghoa itu sudah tidak ada lagi, namun memang ada beberapa orang yang masih melakukan pembedaan terhadap warga etnis dengan pribumi ini, misalnya dalam hal pengurusan surat-surat, “ ujarnya.(ace)
Ga mungkin 100% dong….
Jangan kena kotak….