Ingat Keistimewaan Waktu Sahar

DI bulan suci Ramadhan ada waktu-waktu tertentu yang memiliki keistimewaan tersendiri, salah satunya adalah waktu sahar atau dini hari menjelang subuh. Amat disayangkan, kesibukan keseharian khususnya di zaman ini yang hanya membuahkan keletihan jasmani dan ruhani telah membuat kebanyakan orang melupakan keistimewaan maknawi yang ada di waktu sahar.

Bulan Ramadan dan anjuran dari Nabi Muhammad SAW kepada umatnya untuk makan sahur sebelum melaksanakan ibadah puasa, adalah kesempatan emas bagi semua orang untuk mendapatkan kenikmatan ruhani waktu sahar, kenikmatan yang sebenarnya bisa didapatkan pula di bulan-bulan yang lain. Sahar adalah sebaik-baik waktu. Karena keistimewaannya, Allah dalam Alquran bersumpah dengan waktu sahar.

Para pemimpin agama Islam dan ulama besar, menaruh perhatian yang sangat besar kepada waktu sahar hingga masa terbitnya matahari. Mereka memanfaatkannya untuk beribadah, berdoa, bermunajat dengan Sang Khalik dan beristighfar. Sebagian memanfaatkannya untuk belajar, merenung dan memikirkan keagungan penciptaan. Mereka mengetahui dengan benar arti waktu sahar dan kegunaannya untuk bermunajat dengan Allah.

Doa dan munajat di waktu sahar memiliki pengaruh yang sangat besar pada jiwa dan spiritual seseorang. Dalam sebuah hadisnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik masa untuk berdoa adalah waktu sahar.”

Hal yang sama disinggung pula oleh Imam Jafar Shadiq AS saat menafsirkan ayat 98 surah Yusuf. Beliau berkata, “Ketika anak-anak Ya’qub menyesali kesalahan dan perbuatan mereka, mereka meminta kepada Ya’qub untuk memohonkan ampun kepada Allah. Yaqub as menerima permintaan itu dan menjanjikan untuk memohon ampunan di waktu sahar.”

Salah satu faedah yang didapatkan oleh seseorang yang bangun di waktu sahar adalah kesegaran jiwa dan keceriaan. Mayoritas orang yang ceria adalah mereka yang bangun di waktu sahar. Bangun di waktu sahar juga berperan besar dalam meningkatkan aktivitas keseharian. Setelah beristiharat di malam hari, ketika bangun di waktu sahar, tubuh dan otak siap untuk beraktivitas. Karena itulah dalam hadis disebutkan bahwa bangun di waktu sahar akan menambah rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Pergilah untuk mencari rezeki di pagi buta, sebab bangun di waktu sahar memberikan berkah dan keberuntungan.”

Ada tata cara yang dianjurkan bagi orang yang bangun di waktu sahar. Salah satunya adalah menggosok gigi, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Ahlul Bait as. Shalat tahajjud di waktu yang mulia ini sangat besar pahalanya. Membaca ayat-ayat ilahi dalam Alquran di waktu sahar memiliki keindahan tersendiri. Sebab saat itu ketika kebanyakan orang tertidur, seorang hamba akan lebih khusyuk merenungi ayat demi ayat yang diturunkan oleh Allah SWT.

Banyak pula anjuran memanfaatkan waktu sahar untuk merenungi dan memikirkan keagungan alam dan penciptaannya, juga untuk belajar dan menggali ilmu. Imam Baqir as mengenai barakat sahar mengatakan, “Di antara seluruh hambaNya yang mukmin, Allah lebih menyukai hamba yang banyak berdoa. Berdoalah dengan memanfaatkanlah waktu sahar hingga terbitnya matahari. Sebab saat itulah pintu-pintu langit terbuka, rezeki dibagikan dan hajat dikabulkan.”

Ibadah puasa layaknya sebuah benteng kokoh untuk melindungi seorang mukmin dari tuntutan dan godaan hawa nafsu. Dengan berpuasa, seorang mukmin juga membersihkan jiwanya dari kotoran dosa dan kelalaian. Para ulama ahli irfan membagi puasa ke dalam dua kategori, puasa dari makanan dan puasa dari godaan nafsu dan syahwat. Tentunya jika seseorang bisa melakukan keduanya, hasil yang ia dapatkan akan lebih besar.

Orang yang berpuasa akan mampu mengekang jiwanya dari apa-apa yang dilarang oleh Allah, sebab ia telah mendapatkan kesucian hati dari puasa yang ia lakukan. Pada tahap berikutnya ia bahkan tidak pernah akan berpikir melakukan dosa. Dengan terus mengawasi diri untuk tidak terjerumus ke dalam dosa, jiwa manusia mukmin akan bersih dari semua kotoran dan ia akan menjelma menjadi insan yang bertaqwa seperti yang Allah firmankan dalam ayat tentang kewajiban berpuasa. Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Puasa hati untuk memikirkan perbuatan dosa lebih utama dari puasa dari makanan dan minuman.”

Umat Islam di Tajikistan menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan suka cita. Dengan penuh rasa ikhlas dan kecintaan rabbani, mereka menyambut bulan jamuan ilahi ini. Warga muslim Tajikistan memanfaatkan bulan Ramadhan untuk saling memaafkan dan menghilangkan permusuhan di antara mereka. Saling memberi hadiah terutama kepada para tetangga di bulan Ramadhan, merupakan adat dan kebiasaan warga Tajikistan sejak dahulu. Di malam hari, warga muslim yang berpuasa di siang hari, memarakkan masjid dan mushala dengan membaca Alquran.

Zulfiyah Muhammad Awa, yang dulu bertugas sebagai guru, mengatakan, “Empat puluh tahun lalu, ketika Tajikistan masih menjadi bagian Uni Soviet yang komunis, tidak ada seorang pun yang berani berpuasa secara terang-terangan. Meski demikian, warga muslim tetap menjaga keyakinan dan agama mereka. Di sekolah, pemerintah memaksa semua pelajar untuk makan dan minum di bulan Ramadan. Siapa saja yang melawan dan tidak mengikuti ketentuan ini, akan dihukum. Semua itu tidak mengecilkan tekad warga muslim Tajikistan untuk menjaga keyakinan dan agama mereka meski harus menghadapi kesulitan besar.”

Bagi warga muslim Tajikstan, bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk beribadah dan menjalin hubungan dengan Allah. Mereka memarakkan bulan suci ini dengan melantunkan lagu-lagu spiritual dan mengajarkan syair-syair keislaman kepada anak-anak. Upacara adat dengan tema “Rabbe Man” yang berarti Tuhanku, adalah upacara yang paling terkenal di Tajikstan dan digelar khusus di bulan Ramadan. Meski saat ini, acara tersebut kurang dijumpai di kota besar seperti kota Dushanbe, akan tetapi upacara itu masih digelar di kota-kota kecil dan pedesaan.

Acara Rabbe Man dilakukan setelah buka puasa. Anak-anak kecil tergabung dalam beberapa kelompok paduan suara. Mereka berjalan keliling dan mendatangi rumah-rumah warga. Setelah mengucapkan selamat atas kedatangan bulan Ramadan kepada pemilik rumah, mereka melantunkan syair-syair khusus bulan suci ini. Setelah membaca syair, anak-anak akan berdoa untuk pemilik rumah. Sebelum anak-anak itu pergi, pemilik rumah memberikan hadiah  kepada mereka.

Perpaduan antara budaya Tajikistan dan Islam membuat warga muslim di negara ini memandang Ramadan sebagai bulan persahabatan, cinta, dan kasih sayang. Mereka yang memiliki kelebihan harta biasanya menggelar jamuan dengan menyediakan berbagai macam makanan dan kue. Mereka juga tidak lupa membantu kaum fakir miskin dengan membayar zakat dan mengeluarkan sedekah. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: