PABRIK PUKUK ORGANIK Sumsel Dinilai Belum Layak

RADAR PALEMBANG, BELUM LAYAK-PT Petrokimia Gresik sementara waktu menyimpulkan Sumsel belum layak memiliki pabrik pupuk organik dalam skala besar. Penyebabnya, karena sesuai hasil survei terakhir, tingkat ketersediaan bahan baku pupuk organik dari kotoran binatang masih belum mencukupi.
Padahal untuk membuat pabrik dengan kapasitas  8-10 ton per hari, membutuhkan sekitar minimal 30 ton kotoran per harinya. Ternyata, di beberapa daerah ternak seperti Sungai Lilin dan lainya, belum ada lokasi yang layak untuk didirikan pabrik organic cabang PT Petrokimia Gresik.

Padahal investasi yang ditawarkan oleh Petrokimia, untuk pabrik paling kecil hanya butuh Rp 1,4 miliar. “Itu sudah disambut baik beberapa wilayah di Sumsel. Ternyata setelah disurvei belum layak,” kata kepala Kantor Pemasaran PT Petrokima Gresik wilayah Sumsel Edi N.
Padahal, lanjutnya,  bila dilihat dari sisi tingkat kebutuhan pupuk di Sumsel, untuk seluruh jenis pupuk total bisa mencapai 900 ribu ton. Baik untuk tanaman pangan, perkebunan, hingga holtikultura dan tanaman hias.
Untuk mengantisipasi semakin meroketnya harga pupuk ditingkat petani yang terus naik per minggunya. Pupuk organic lah paling tren saat ini.Menurutnya, saat ini PT Petrokimia Gresik baru memiliki 30 pabrik mini organik di beberapa provinsi di Indonesia. Kepemilikanya bisa atas nama pribadi, kelompok ataupun keluarga. Sedangkan untuk Sumsel belum ada.
“Terakhir pembangunan ada di Lampung, namun Sumsel malah gagal, karena stok bahan bakunya belum mencukupi,”ungkapnya. Padahal seluruh jenis kebutuhan pupuk Urea, SP 36.KCL, NPK, ZA,Ponskha, yang dinyatakan aman baru pupuk urea, yang lainya masih minus.
Sedangkan bila, kondisi minus itu bisa diatasi dengan pembuatan pabrik organik di Sumsel, kata Edi lagi, setidaknya bisa menjadi pupuk alternatif andalan. Karena pupuk organik PT petrokimia yang saat ini sudah mendapatkan, lisensi pupuk organic terbaik di Indonesia bisa memanfaatkan beberapa bahan baku alam yang ada di wilayah tersebut.
Bila masih terkendala seperti saat ini, pihaknya berharap pemerintah daerah mau bekerjasama dengan pihak peneliti, melakukan penelitian lebih jauh.Potensi lain Sumsel yang bisa dijadikan pupuk organic dengan proses tak banyak memakan biaya.
Alternatif, selain kotoran hewan yang prosesnya irit biaya, adalah jerami. Sejauh ini pihaknya berharap ada upaya melihat lebih dekat, berapa rata-rata potensi jerami nganggur di Sumsel.
Karena untuk membuat pabrik, setiap hari harus ada pasokan masuk. Bahan baku tak boleh terputus oleh musim dan lainya. “Ini bisa atau tidak dilakukan Sumsel,”ungkapnya.
Sebab untuk potensi kotoran hewan, Sumsel belum bisa memproduksi minimal 30 ton per hari. “Itu yang terdata di kita. Dilihat dari klasifikasi peternakan hewan khusus, bukan peternakan masyarakat tersebar,”ungkap Edi lagi. (ayu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: