Warga Mulai Aksi Borong

RADAR PALEMBANG, BORONG- Dua pekan menjelang lebaran,  warga mulai melakukan aksi borong. Tak cuma memborong pakaian di mal atau pasar tradisional, warga pun kini mulai menumpuk stok kebutuhan pokok berupa sembako. Menurut pantauan koran ini di beberapa pasar tradisional, aksi borong  umumnya dilakukan ibu-ibu rumah tangga untuk beberapa produk sembako seperti minyak goreng, gula, dan telur.
Desahwati, warga kelurahan Ilir Timur I,  mengungkapkan, aksi borong yang dilakukan terutama untuk mempersiapkan lebaran.  Karena itu, dia dan beberapa tetangganya mulai mengincar beberapa bahan sembako yang dapat bertahan lama dan sangat diperlukan nantinya, seperti minyak goreng,  gula, dan telur
“Harga minyak sekarang mengalami penurunan jika sebelumnya mencapai Rp 10.000 sekarang Rp 8.500, takutnya nanti semakin mendekati lebaran akan mengalami kenaikan. Kita pun  mulai membeli dalam takaran 5 liter, dan beberapa keperluan sembako lainnya  yang diperlukan untuk membuat variasi kue,” ujar Desahwati.

Terpisah, salah seorang pedangan kelontongan di Pasar Pahlawan, Weny mengungkapkan, untuk pekan kedua terjadi aksi borong dari ibu-ibu rumah tangga dan sebagian besar diantara mereka membeli dalam jumlah lebih tinggi dibanding hari biasanya. Bahkan, pokok atau sembako diincar seperti minyak goreng,  gula, dan margarin sedangkan untuk gandum belum terjadi pembelian dalam jumlah besar.
“Sehingga, untuk saat ini kita telah menyiapkan persedian stock dua lipat lebih banyak dari hari biasanya, sangat mengejutkan walaupun mengalami kenaikan  permintaan  terus saja mengalami kenaikan dan diprediksikan pekan ketiga mendatang pesanan pelanggan semakin melonjak,” tutur Weny.
Selain itu, produk-produk fres food seperti daging dan sayuran di pasar tradisional mengalami kenaikan. Sehingga, karena tingginya permintaan seperti pantauan koran ini di Pasar Pagi Kelurahan Ilir Timur I, harga ikan dan sayuran mengalami kenaikan,
Untuk ikan laut seperti  ikan bandeng, tongkol, sarden semulanya Rp 14.000 perkilo sekarang melonjak naik menjadi Rp 18.000, untuk ikan tawar seperti ikan mas atau mujahir melonjak tajam seharga Rp 26.000 per kilo, yang lebih mengejutkan ikan yang sering digunakan sebagai pilihan pembuatan makanan khas palembang seperti tenggiri dan gabus yang telah melewati proses pengilingan seharga Rp 60.000 hingga Rp 80.000 per kilo
Rian, salah satu pedangan ikan di pasar pahlawan mengungkapkan, pasaokan ikan mengalami pengurangan, dan hal ini terkendala cuaca, pasalnya setiap musim penghujan  ikan mengalami lonjakan harga.
“Bisannya perhari saya menstok ikan dengan kisaran 50 hingga 70 kilo, sekarang berkurang  menjadi 30 kg perkilo, karena harga dari agenya juga mengalami kenaikan, walaupun begitu permintaan tidak mengalami penurunan, dikarenakan bulan ramadhan ini dari pada mereka membeli daging yang kini harganya sangat tinggi lebi baik beralih ke konsusmsi protein lainnya seperti ikan dan kerang.” Imbuhnya
Kemudian sayur mayur pun mengalami kenaikan dua kali lipat, seperti yang diungkapkan wati  yang merupakan pedangan sayur di pasar pagi Ilir Timur satu mengungkapkan, semua jenis sayur mengalami kenaikan seperti halnya untuk sayur sawi, kentang,  kol, wortel semula dihari biasa bisa dijual brkisar Rp 2.500 hingga Rp 3000, sekarang mengalami kenaikan dua kali lipat yakni Rp 5000 hingga Rp 6000.
Salah seorang warga, Maimuna (50) saat dibincangi koran ini mengaku, sangat kaget dengan harga sayuran bisa sangat mahal padahal sekarang inikan musim hujan. ” Ya, sekarang bingung, dengan tingginya harga-harga sekarang ini, jadi bagaimana lagi kita makan! Kalau untuk semua harga saja setiap harinya naik terus,” ungkapnya.
Maimunah mengatakan, peningkatan harga ini terjadi secara bertahap setiap harinya. Karena sejak menjelang puasa harga sembako sudah mengalami kenaikan yang cukup tinggi, untung saja harga ayam sudah mengalami penurunan.” Untuk harga-harga terigu, beras dan  minyak goreng masih normal belum ada kenaikan harga yang significan,”katanya.
Hal senada juga diungkapkan, Ali pedagang  daging dan ayam  di kawasan Cinde yang mengaku menjual daging seharga Rp 70 ribu perkilo sedangkan ayam dijual seharga Rp 28 ribu.  ”Meski harganya mahal namun masyarakat masih tetap membeli. Tak heran omset saya  hari ini (kemarin, red) meningkat 50 persen,”ucapnya.  (kai/vie)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: