Berebut Zakat 21 Tewas

Sebanyak 21 jenazah yang menjadi korban saat berebutan dan berhimpit-himpitan untuk mendapatkan pembagian zakat mal oleh  pengusaha Kota Pasuruan H Syaikhon Fikri (55). Perisitiwa memilukan ini  terjadi di musala Al Raudatul Jannah di Gg Pepaya Jl Dr Wahidin Sudirohusodo (selatan). Selain korban tewas,  puluhan orang pingsan untuk memperebutkan zakat yang dibagi Rp 30 ribu untuk satu orang tersebut.

TEWAS: Sebanyak 21 jenazah yang menjadi korban saat berebutan dan berhimpit-himpitan untuk mendapatkan pembagian zakat mal oleh pengusaha Kota Pasuruan H Syaikhon Fikri (55). Perisitiwa memilukan ini terjadi di musala Al Raudatul Jannah di Gg Pepaya Jl Dr Wahidin Sudirohusodo (selatan). Selain korban tewas, puluhan orang pingsan untuk memperebutkan zakat yang dibagi Rp 30 ribu untuk satu orang tersebut.

RADAR PALEMBANG, TEWAS – Acara pembagian zakat oleh pengusaha Kota Pasuruan H Syaikhon Fikri (55), kemarin, berubah jadi ladang kematian. Ribuan orang mengantre, berdesakan  hingga sulit bernapas, bahkan injak-injakan.
Akibatnya, 21 orang tewas, seorang kritis,  dan dua belas lainnya sempat pingsan hingga harus mendapat perawatan di RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan. Semua korban adalah perempuan.
Pembagian zakat keluarga Syaikhon kemarin tak kalah dengan pembagian dana bantuan langsung tunai (BLT) versi pemerintah. Ribuan orang memadati arena pembagian zakat yang dipusatkan di musala Al Raudatul Jannah di Gg Pepaya Jl Dr Wahidin Sudirohusodo (selatan).
Sejak sekitar pukul 05.00, calon penerima zakat sudah berdatangan. Terutama mereka yang berasal dari luar Kota Pasuruan. Pukul 07.00 massa semakin bertumpuk.
Keluarga Syaikhon sebenarnya sudah mengantisipasi membludaknya massa. Gapura depan Gang Pepaya sejak pagi itu sudah ditutupi dengan gedhek (anyaman bambu). Saat hari makin siang, lama jumlah massa yang datang semakin bertambah.
Musala Al Raudatul Jannah di tengah-tengah gang menjadi pusat konsentrasi massa. Di musala itulah semua massa yang berdatangan akan menerima santunan zakat sebesar Rp 30 ribu.

Sekitar pukul 08.00, Syaikhon dan putranya, Vivin (30), dan Faruq (28) terlihat sibuk menata pembagian zakat. Keduanya menata pagar untuk jalan akses penerima zakat di dalam musala. Beberapa saat kemudian, terlihat istri Syaikhon, Ny Hanifa (50). Ia berjalan memakai tongkat sambil dituntun beberapa keluarganya menuju musala.
Mulai sekitar pukul 09.00, pintu musala sebelah utara akhirnya dibuka panitia pemberian zakat. “Masuknya satu satu. Jangan dorong-dorongan,” ucap seorang panitia kepada massa yang berkumpul di depan musala.
Walau aksi pembagian zakat berada di dalam musala, namun jumlah massa yang berada di luar musala diperkirakan ada sekitar empat ribu orang.
Panitia yang bertugas membagikan zakat membuka pagar yang berukuran dua meter tersebut. Bukaan pintu pagar dibuka hanya cukup untuk satu orang yang masuk ke dalam musala. Panitia pun membatasi orang yang masuk ke dalam musala sebanyak lima orang sampai sepuluh orang. Jika yang di dalam telah menerima dan keluar lewat pintu selatan, barulah panitia membuka pintu pagar depan kembali. Begitu seterusnya.
Bagi orang yang telah menerima zakat sebesar rp 30 ribu, orang tersebut harus diberi sumba yang diletakkan di pintu keluar sebelah Selatan musala. Dua orang panitia zakat bertugas mencelupkan jari tangan massa yang telah mendapatkan uang.    Sembari Ny Hanifa membagikan zakat, terlihat H Syaikhon berlalu lalang mengawasi pembagian zakat. Sambil mengenakan baju hitam, lelaki tersebut memegang ponselnya. Namun ia lebih sering keluar dari dalam musala melalui pintu keluar.
Memasuki pukul 09.15, hampir sekitar lima puluh orang telah menerima zakat. Usaha mereka berlomba terbilang cukup semangat untuk memasuki pintu masuk musala. Sebab, mereka harus berdesak-desakan dengan sesama penerima. Ada pula massa yang kebingungan dengan anak yang digendongnya.
“Mas, tolong anakku bawa ke dalam. Aku nggak kuat,” ucap Surti sambil mendorong ke atas anaknya melalui celah pagar. Tak pelak massa lain yang membawa anaknya ikut meminta tolong para wartawan yang meliput dari dalam musala.
Lama-kelamaan pun aksi dorong massa semakin brutal. Mereka ingin cepat-cepat mendapatkan santunan zakat. Hingga akhirnya barisan depan yang berada di pintu musala semakin terhimpit. Ada yang menjerit kesakitan dan banyak juga yang menangis histeris. “Mas..mas mbokku (ibuku) pingsan!” teriak salah satu dari mereka.
Tak pelak para panitia turun menolong massayang pingsan tersebut. Terlihat pula putra Syaikhon, Faruq, turun langsung di tengah kerumunan massa untuk membawa beberapa orang yang mulai jatuh pingsan. Panitia yang lain sibuk menyiram air dari selang kran musala untuk membuyarkan massa yang menumpuk.
Awalnya pertolongan dari pantia memang efektif. Siraman air dari panitia bisa sedikit melonggarkan udara dan hawa panas. Banyak dari mereka yang memanfaakan siraman air tersebut untuk minum.
Namun, sekitar pukul 09.30 aksi dorong-dorongan massa semakin hebat. Banyak kumpulan orang yang jatuh tergeletak ke tanah hingga akhirnya terinjak massa yang lain. “Yo’opo iki (bagaimana ini). Jangan dorong-dorongan, kasian yang jatuh,” ucap seorang panitia.
Sayang, penertiban panitia tidak membuahkan hasil. Justru massa semakin menjorok ke pintu masuk musala. Suasana kacau. Massa yang berada di pintu depan musala benar-benar terjebak dan terhimpit pagar.
Jeritan-jeritan histeris menyeruak, bercampur aduk dengan suara orang mengaduh-aduh. Mereka yang sadar dalam kondisi bahaya, berusaha menyelamatkan diri. Tapi, itu tidak mudah bagi yang sudah berada di tengah kerumunan. Tarik menarik demi penyelamatan diri terjadi. Ada wanita yang sampai bajunya robek di tengah tarik menarik itu.
Suasana semakin tak terkendali. Beberapa orang yang terjepit, terinjak, kehabisan napas, berjatuhan. Bahkan sebagian dari mereka ada yang terlihat digotong kedalam musala dalam keadaan meninggal dunia.
Korban yang meninggal tersebut akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Wartawan pun jadi ikut sibuk membantu mengevakuasi korban. Jatuh satu korban jiwa tak membuat kegiatan itu bubar.
Dengan adanya satu korban yang meninggal tidak menurutkan massa memberhentikan aksi dorong-mendorong. Mereka semua justru bingung tidak bisa menemukan jalan keluar karena jalan dari depan gang Pepaya ditutup.
Kontan aksi dorong tersebut semakin menambah jumlah korban. Satu persatu pula korban berjatuhan. Para korban tewas di tempat kejadian lalu dikumpulkan begitu saja di jalan gang.
Sampai pukul pukul 10.15, sudah ada enam orang tewas. Itu belum termasuk mereka yang kritis hingga harus dilarikan ke RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan (RSUD Purut).
Kondisi massa baru dapat dikendalikan ketika petugas Polsek Purworejo dan Polresta Pasuruan datang ke lokasi sekitar pukul 10.55. Sejumlah anggota yang datang dengan mobil patroli langsung mengamankan kerumunan massa. Kerumunan tersebut baru dapat dibubarkan sekitar pukul 11.10.
Bubaran kumpulan massa tersebut tidak serta merta mengatasi masalah. Sebab, ternyata korban meninggal dunia terus bertambah. Petugas pun langsung mengevakuasi para korban baik yang sudah meninggal maupun kritis dengan mobil patroli polisi dan kendaraan ala kadarnya macam pikap bak terbuka.
Satu persatu korban mulai dievakuasi. Sebagian dari mereka terlihat ada yang sekarat karena kehabisan nafas. Ada juga yang cedera akbiat injakan massa.
Sembari membawa korban, petugas lalu mencari pihak keluarga H Syaikhon untuk dilakukan pemeriksaan. Istri Syaikhon, Ny Hanafi terlihat menangis sesenggukan. “Kok jadi begini ya,” katanya.
Kapolresta Pasuruan AKBP Herry Sitompul mengatakan sampai saat ini Polresta masih menyelidiki kasus ini. “Kami masih mengumpulkan  keterangan dari saksi-saksi,” katanya.
Ia menyebutkan sampai saat ini belum bisa menetapkan terangka. Termasuk pemeriksaan keluarga Syaikhon dan beberapa keluarganya, Kapolres hanya menyebutkan  proses penyelidikan masih dalam pemeriksaan saksi-saksi.
“Kami tidak boleh gegabah dalam menetapkan tersangka. Kami harus menyelidiki dahulu apakah kejadian ini musibah atau ada unsur lain,” tutur Kapolres. (fun/via)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. walau bagaimanapun, kita harus berterima kasih kepada h. syaikhon dan para korban. karena, dg peristiwa yg menimpa mereka inilah, kita semakin tersadarkan akan pentingnya zakat dilakukan dg ikhlas dan profesional… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: