Pemprov Perlu Buat Perda Zakat

RZI Palembang Salurkan  Rp 100 Juta

RADAR PALEMBANG, ZAKAT- Kasubdin Pembinaan Lembaga zakat Direktorat Pemberdayaan Zakat Departemen Agama Pusat H Isbir Fadli didampingi Seksi Lembaga Pemberdayaan Zakat mengungkapkan, seharusnya gubernur membuat perda zakat. 
Seperti di Sulawesi, saat ini sudah menerapkannya. Sehingga kondisi penyaluran di sana lebih bagus dan terkoordinir. Selain itu juga, tingkat kesadaran zakat naik drastis.
“Sumsel sudah selayaknya buat perda Zakat yang mengatur jenis zakat apa saja yang layak diterapkan sesuai dengan pendapatan masyarakat di sini. Juga sistem pengelolaanya agar lebih terkoordinir dan profesional,” ujar Isbir, di sela-sela sosialisasi professionalisme pengelola zakat, kemarin.
Kalau Sumsel mengandalkan perkebunan, lanjut Isbir, maka pemda mengatur zakat perkebunan, mencapai 5 persen untu tanaman tidak disiram sendiri. Hingga 2,5 persen untuk kebun yang digunakan pengairan sendiri.
“Nah, kan banyak potensi yang belum digali. Selama ini baru zakat profesi saja sebesar 2,5 persen banyak dibayar masyarakat. Tapi zakat komoditi, mana , masih jarang sekali. Ini besar sekali potensinya,  saya optimis, bila zakat kebun tergali bisa menyumbang pengentasan kemiskinan hingga 50 persen,”bebernya.
Sementara itu,  Rumah Zakat Indonesia (RZI) Palembang hingga pertengahan Ramadan ini telah menyalurkan perolehan zakat Rp 1,1 miliar secara nasional. Sedangkan untuk Sumsel sendiri mencatat lebih dari Rp 100 juta telah tersalur selama Ramadan dari total target pendistribusian secara nasional mencapai Rp 2,5 trilliun dan Sumsel mencapai Rp 500 juta.
Kepala Cabang RZI Palembang Ali Mujianto menegaskan, penyaluran dan perhimpunan yang dilakukan hanya dihitung selama Ramadan.  Dengan pola distribusi melalui penyaluran paket iftar (Buka bersama) per paket mencapai Rp 20.000 berisi air minum, kue, tajil dan nasi serta buah.
Penyaluran dalam bentuk lain untuk Ramadan juga diberikan dalam bentuk paket kado lebaran, dengan porsi per paketnya mencapai Rp 150 ribu berisikan baju dan kue juga kebutuahn lebaran.
Sasaran penyaluran, tak hanya lokasi jemaah masjid, anak asuh, janda member layanan bersalin gratis (LBG) yang telah tercatat tidak mampu. Tapi juga disalurkan ke beberapa wilayah Integrated Community Development (ICD) di Sumsel seperti di kawasan Masjid Muhajirain Palembang, juga Prabumulih.
“Pembentukan ICD ini dimaksud, untuk memasatikan bahwa kawasan sasaran adalah tepat, yakni mereka yang benar-benar butuh dan berada dibawah garis kemiskinan,’’ tandas Ali.
Menurut Ali, pihaknya sangat menyayangkan adanya rendahnya minat pemerintah untuk mengelola zakat secara professional. Terjadinya kasus, meninggalkan 21 ibu rumah tangga karena berebut zakat, adalah salah satu indikasi tidak meratanya penggunaan amil zakat secara baik.
Seharusnya pemerintah yang melakukan koordinasi di tingkat propinsi kabupaten hingga kelurahan. Jika setiap penyaluran zakat itu merata dan dilakukan oleh amil professional, pasti tak ada insiden apapun.
Selain potret kemiskinan. Ini juga menandakan masih bobroknya birokrasi pemerintahan. Sehingga butuh kebijakan baru dari pemerint

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: