Buka Kucuran Kredit Rp 1,4 M

*Proses di BPR Sriwijaya

RADAR PALEMBANG, KREDIT – Lembaga Penjamin Kredit Daerah (LPKD) Sumsel segera membuka kucuran  kredit tanpa agunan baru senilai total Rp 1,4 miliar, dengan plafound per orang senilai Rp 7.200.000 dan bunga cukup 6 persen per tahun.
Koordinator Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Sumsel Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Ketua LPKD Sumsel, HM Najib Asmani menjelaskan, bahwa prosedur pengurusanya akan dibuka melalui BPR Sriwijaya berkantor di Cinde Palembang.
“Jadi merekalah yang mengkoordinasikan seluruhnya. Kita ini hanya sebagai lembaga pengawasan, tapi BPR yang menjaminya. Bagi berminat, silahkan mengajukan ke BPR Sriwijaya nantinya,” papar Najib.
Minggu ini, lanjut Najib,  Memorandum of Understanding (MoU) antara LPKD Pemprov dengan BPR Sriwijaya juga PT Jamsostek sebagai penyalur dana bantuan usaha mikro itu akan  ditandatangai sebagai peresmian dibukanya alokasi kredit mikro ke masyarakat luas.
Tapi ingat, tandas Najib, kredit ini bukan untuk umum, tapi hanya untuk pengelolaan sapi. Jadi yang berminat mengelola sapi silahkan mengajukan, karena pengkucuran ini bukan dalam bentuk uang cash, tapi bentuk sapi.
Polanya adalah sistem kelompok, dengan jumlah personil kelompok mencapai 10 orang. “Mereka bisa mengajukan bersama dengan BPR sebagai kelompok pengelola petani,”ungkapnya.
Kriteria lain peminjaman adalah, si kreditur tak boleh berusia diatas 40 tahun. Belum punya pekerjaan, dan tergolong marginal atau kurang mampu. “Bila prosenya bisa cepat. habis lebaran sudah bisa mulai berjalan,” jelas Najib.
Kenapa dana bantuan untuk UKM saat ini harus dikelola oleh bank, meskipun tanpa agunan dan tidak lagi langsung dikucurkan ke masyarakat melalui rekening kelompok.
Hal itu diharapkan bisa lebih menimbulkan rasa tanggung jawab pengembalian kredit. Lain halnya bila uang langsung diberikan cash ke masyarakat, biasanya sulit mengembalikanya.
Untuk memperketat rasa tanggung jawab, pihaknya mengharuskan dikela oleh kelompok. Jadi pakai sistem tanggung renteng. Bila ada satu orang tak mau bayar atau macet, maka anggota kelompk yang harus menanggungnya.
Najib juga mengungkapkan bahwa, rata-rata masyarakat Sumsel masih termarginalkan. Baik yang menganggur atau kerja asalan. Jadi wajar, meskipun bank banyak menawarkan kredit usaha kecil mikro, namun banyak ta terserap karena lagi-lagi terkendala anggunan.
Kredit Ketahanan Pangan misalnya yang diprogramkan oleh BRI missal, saat ini sulit diakses masyarakat, juga pemerintah sebagai fasilitatornyam, karena syaratnya juga masih anggunan.
“Lha, kalau masyarakat masih nganggur tak punya pekerjaan tetap. Lantas apa yang mau dianggunkan, padahal mereka butuh modal usaha untuk bisa mendapatkan pekerjaan melalui usaha yang ada,”ungkapnya.
Oleh sebab itulah, Lembaga Penjamin Kredit Daerah ini sekarang berharap BPR bisa mengelolanya dengan baik tanpa agunan. Selain menolong kurang mampu, pola tanggung renteng itu sudah cukup baik untuk menyelematkan pola angsuran mereka. (ayu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: