Suara Terbanyak Sulit Diterapkan

RADAR PALEMBANG, SULIT – Keinginan sejumlah partai yang mencoba menerapkan suara terbanyak pada pemili legislatif (pileg) 2009 mendatang dinilai sangat sulit untuk diterapkan. Pasalnya, Undang Undang No 10/2008 tentang pemilu legisaltif masih mengakomodir penggunaan nomor urut.
”Soal penerapan suara terbanyak oleh parpol, maka kita harus merujuk pada UU No 10 tahun 2008 tentang pemilu dan PP KPU. Nah, dalam undang-undang tersebut memang tidak mengatur tentang suara terbanyak,” buka Anggota KPU Sumsel Alfian Toni kemarin (17/9).
Adapun yang diatur dalam undang-undang tegas Alfian terpilih tidaknya seseorang pertama ditentukan dengan perolehan BPP (bilangan pembagi pemilih, red). Jika BPP tidak tercapai baru dilihat perolehan 30 persen dari BPP.
”Di Palembang, misalnya jumlah penduduk ada 1,5 juta. Katakanlah mata pilihnya ada 80 persen dari pemilih atau 1,2 juta. Kan saat pemilu ada suara sah, katakanlah suara sahnya ada satu juta. Satu juta itu dibagi dengan semua alokasi kursi di Palembang sebanyak 17 buah,” tegasnya.
Dari pembagian itu, imbuh Alfian akan dirangking dari semua parpol yang ada. Kalau tidak ada yang mencapai BPP, baru dibagi BPP 30 persen. ”Siapa pun mencapai BPP 30 persen maka dia itu berhak untuk mejadi anggoat legislatif dan itu undang-undang. Kalau belum ada akan tetap kembali ke nomor urut. Jadi tidak dikenal perolehan suara terbanyak,” ujarnya.
Bagi KPU imbuh Alfian pihaknya akan tetap mengacu pada undang-undang yang ada. Tidak ada istilah suara terbanyak. Kecuali kemudian pemerintah merevisi terbatas terhadap UU No 10/2008 dan merubah pasal tersebut. Maka hal itu baru bisa diakomodir.
”Yang jelas kalau sekarang dilakukan voting maka yang menang tetap penggunaan nomor urut. Sebab yang menggunakan suara terbanyak hanya sedikit saja. Partai Golkar, PBR, PAN, Partai Demokrat yang saya dengar menggunakan itu. Tetapi yang tidak juga lebih besar lagi yang menolak sistem suara terbanyak,” sambungnya.
Kalau pun hal ini inginditerapkan oleh parpol saran Alfian harus ada hitam diatas putih. Caranya semua calon legislatif harus menandatangani kesepakatan yang dibuat diatas materai dihadapan notaris.
”Atau nanti kalau di daerah itu tidak ada yang mencukupi bilangan. Lalu yang terbanyak dinomor 14. Lantas semua calon membuat kesepakatan internal dan diketahui DPP partai bersangkutan. Kalau hanya perjanjian biasa tidak dikuatkan institusi yang berwenang kami tetap mengacu pada undang-undang yang ada,” urainya.
Hal serupa dikatakan oleh Ketua KPU Kota Palembang Kms Khoirul Mukhlis. ”Sepanjang undang-undang belum berubah maka KPU tetap akan menggunakan sistem yang ada. Bukan kami tidak mau mengakomodir partai yang menginginkan penggunaan suara terbanyak,” terangnya.
Merunut ke undang-undang ulas Mukhlis yang ada tetap berdasar nomor urut jika BBP, jika 30 persen BPP tidak tercapai. Mukhlis mengatakan bisa saja partai mengadakan konsesus yang menerapakan suara terbanyak. Namun syarat utamanya calonyang yang berada dinomor urut kecil harus mengundurkan diri.
”Misal ada kesepakatan seperti itu. Lalu yang suaranya kecil dan dinomor urut kecil mengundurkan diri. Tetapi kalau itu dibuat kesepatakan, lantas saat ditanya KPU benar tidak dan yang bersangkutan membantahnya ya mau apa lagi. KPU tidak bisa berbuat apa-apa. Sekali lagi kecuali dia dengan tegas saya mundur dan tidak mau, dan benar-benar dilaksanakan baru bisa,” tukasnya.
Tetapi sekali lagi Mukhlis mengatakan ini sangat sulit. Ia berkaca dari kejadian pemilu 2004 yang lalu. Saat itu beberapa partai menerapkan sistem suara terbanyak. Namun ternyata sampai sekarang yang nomor urut kecil tetap jadi. ”Ketika ia diminta mundur, dan tidak mau yang mau apa,” tandas Mukhlis.(rul)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: