Menghormati Orang Tidak Berpuasa di Negara Turki (3-Habis)

Tak Ada Job untuk Pelawak dan Artis di Siaran Ramazan

Media Turki juga bebas membuat siaran Ramadan atau tetap ‘’tidak puasa’’. Perbedaan ini cukup kentara. Dan, siaran-siaran agama di Turki sangat berbeda dengan di Indonesia yang sangat banyak bercanda itu.

Rohman Budijanto, Ankara

TELEVISI Turki juga sangat kentara mana yang ’’puasa’’ dan mana yang tidak. Kebanyakan televisi memang membuat acara khusus Ramazan. Baik menjelang iftar (buka) maupun sahur. Baik yang siaran canli (langsung) maupun tidak. Tapi, ada juga yang tak segan tak menyinggung sedikitpun soal Ramadan dalam acaranya.  Tapi, kaum muslim taat Turki pasti bersyukur. Karena lebih banyak televisi yang punya acara khusus Ramazan. Dan setiap televisi Turki yang dipantau di Ankara, berwawasan ‘’NKRT’’ alias Negara Kesatuan Republik Turki. Bukan televisi lokal.


Buktinya, televisi memaparkan daftar jadwal buka dan sahur, meliputi seluruh wilayah-wilayah utama Turki. Wilayah Turki yang merentang sekitar 1.500 km dari timur (Iqdir di dekat Armenia) ke barat (Edirne, dekat Yunani) menjadikan ada cukup signifikan selisih waktu dari satu kota ke kota lain. Ini penting bagi informasi orang buka puasa dan sahur.
Di Star TV saat acara Sahur Ozel, dini hari kemarin, misalnya. Saat Nihat Hatipoglu, sang ulama, memberikan ceramah dan menjawab wawasan keagamaan, di pinggir layar televisi ada daftar kota-kota berikut saat imsak atau subuh tiba. Ketika, misal kota Batman imsak pukul 04.28 dan sudah tiba, warna kotanya dari hijau jadi merah. Untuk Ankara, waktu imsak pukul 05.03.
Begitupun ketika iftar atau buka tiba. Daftar kota yang sudah memasuki saat berbuka puasa, rata-rata hampir pukul 19.00, berubah jadi hijau. Lalu, ketika semuanya sudah masuk maghrib, televisi menyerukan azan. Yang unik, selain ada yang menyajikan dengan utuh, ada azan ini yang diedit. Seperti di TRT TV. Begitu kota terakhir tiba saat maghrib, terdengarlah alunan azan yang sangat merdu dan mendayu. Ternyata suara azan yang indah itu tak bisa dinikmati utuh. Dari Allahu Akbar… ternyata langsung diedit ke bait terakhir, yakni Laa ilaha ilallah…
Tapi ini bukan karena TRT televisi sekuler. Televisi ini justru sangat banyak mengekspos acara Islam saat puasa sekarang ini. Baik berupa ceramah agama maupun acara musik religius. Azan yang dipersingkat itu, rupanya, demi efisiensi waktu. Sebab setelah azan dilanjutkan acara agama lagi. Yang penting warga muslim tahu seluruh Turki sudah maghrib.
Yang membedakan dengan acara-acara Ramazan di Indonesia, semua acara puasa di televisi berpenampilan serius. Pelawak dan artis, kecuali pemusik religius, tak dapat tempat di acara Ramazan. Tak ada tawa canda dan kuis-kuis agama sepele seperti yang mewabah di Indonesia saat puasa. Misal acara yang diasuh ulama Nihat Hatipoglu berupa tanya jawab dan wawasan agama.
Sang ulama terlihat tak pernah tertawa lebar, meski wajahnya ramah dan tampak bijak dengan rambut putihnya. Bahkan, sepanjang acara, agawamawan yang juga dokter ini tak menatap kamera tetapi menatap tiga pria di depannya. Mereka adalah penyanyi religius yang setiap jeda menyelingi dengan lagu religius. Di sela ini rupanya dimanfaatkan sang ulama makan sahur.
Ulama serius Nihat Hatipoglu itu rupanya cocok dengan selera orang Turki. Sebab saat acara sahur, ternyata ada dua televisi yang menyiarkan acaranya. Tentu yang satu canli (live), yang lainnya rekaman. Nihat dengan kalem melayani pertanyaan agama, misal tayamum atau zakat. Nihat sesekali mengutip Hadis Hz (Hazrat) Rasulullah SAW.
Jangan dibayangkan ulama dan penampil di acara Ramazan televisi Turki berpakaian baju koko atau gamis dan berpeci haji, yang telanjur dianggap pakaian muslim itu. Mereka mirip orang Eropa, yakni berjas, berdasi, tanpa penutup kepala. Tak beda dengan penampilan banker atau pengacara di Indonesia. Begitu pula pendukung acara, termasuk penabuh rebana. Semuanya berjas dan berdasi. Bahkan, seni tasawuf yang dilakukan lima penampil di Flash TV dalam acara Sahur Vakti, mereka berkemeja, celana dan sepatu hitam-hitam tapi… berdasi. Hitam pula.
Acara-acara buka dan sahur di televisi juga dihadiri penonton di studio. Penampilan mereka pun tidak direkayasa. Kalau di televisi Indonesia, untuk acara Ramadan, penontonnya pasti para perempuan berjilbab dan lelaki berpakaian ‘’muslim’’. Tapi di televisi Turki, penonton berpenampilan beda-beda. Laki-laki dan perempuan juga tak dipisahkan. Sesekali kamerawan televisi menyorot wanita cantik di antara penonton.
Penonton wanita banyak yang berjilbab, ada juga yang tak berjilbab. Jilbab perempuan Turki pun kelihatan lebih meriah berwarna-warni. Kebanyakan jilbab itu jadi berbentuk ‘’keong’’ karena di belakang ujung kepala ada gulungan rambut yang harus ditutupi. Orang Turki biasanya berambut tebal.
Selain televisi, koran-koran Turki juga banyak yang menyambut Ramadan dengan halaman khusus. Dua koran penting Turki, Takvim dan Sozcu menyediakan satu halaman khusus Ramazan. Selain kisah-kisah seputar puasa, ada juga daftar Iftar Sofrasi il Imsakiye untuk 81 kota. Ada juga kutipan Bir Hadis dan Bir Ayet. Yakni, kutipan sebuah Hadis Rasulullah SAW dan ayat Alquran.
Meski jadi ‘’agamis’’, koran Takvim tetap memuat angka Loto (undian semacam SDSB) di halaman satu, di dekat logo. Sedangkan Sozcu memuat dengan cukup mencolok di halaman terakhir, yang berwarna, Miss Turkey European Union yang baru terpilih. Perempuan ini berbikini!
Dalam kehidupan media di bulan Ramazan ini, ciri negara sekuler Turki tetap terlihat. Ada televisi yang benar-benar cuek terhadap bulan puasa. Fox TV, misalnya, ikut siaran ketika saat sahur tiba. Tetapi, televisi ini menyiarkan acara kuis semacam Who Want to be a Millionaire. Tentu saja acara ini penuh hura-hura dan bersifat entertainmen murni.
Atau juga NTV. Televisi ini juga ‘’bangun’’ ketika sahur. Tetapi, ketika televisi lain yang punya siaran Ramazan menyiarkan daftar imsakiyah kota-kota, televisi ini menyiarkan ramalan cuaca dari kota-ke kota!
Bangsa Turki sudah bertradisi memahami perbedaan tanpa dimasukkan hati.(habis/jpnn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: