PTBA Relokasi Pabrik Briket

RADAR PALEMBANG, MUARA ENIM – Di bawah lokasi pabrik briket milik PTBA sekarang ini, terdapat kandungan batubara sekitar 13 juta hingga 15 juta ton yang memiliki kualitas terbaik dengan nilai kalori mencapai 5.900 hingga 6.300 kilo kalori. Untuk itulah, rencananya PTBA akan merelokasi pabrik itu untuk segera dieksploitasi.
PTBA rencananya bakalan mengucurkan dana sebesar Rp 40 miliar untuk relokasi pabrik briket itu ke Banko Barat, Kabupaten Muara Enim. Hal ini sekali sekaligus menepis anggapan beberapa pihak yang menyatakan relokasi itu ke daerah luar Kabupaten Muara Enim.


“Memang benar, saat ini kami sedang melakukan tender untuk pembangunan pabrik baru briket di Banko Barat, Muara Enim. Jadi tidak benar kalau ada isu yang mengatakan bahwa pabrik briket tersebut akan dipindahkan ke daerah di luar wilayah Muara Enim dan Sumsel pada umumnya,” jelas Direktur Utama PTBA H Soekrisno, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan rencana pemindahan pabrik briket tersebut sebenarnya sudah lama, tetapi baru ide tersebut akan direalisasikan. Sebab, menurut ia dari hasil penelitian sebelumnya diperkirakan di bawah lokasi pabrik briket tersebut mengandung potensi batubara sebanyak 13 – 15 ton dengan kalori barubara sekitar 5.900-6.300 kcl. Sehingga dengan harga batubara sekitar 80 – 85 dolar per ton tentu sangat ekonomis jika dilakukan penambangan dan eksplorasi di sana.
“Tidak menjadi masalah kita kucurkan dana sekitar Rp 40 miliar untuk membangun pabrik yang baru karena ada gantinya di bawah pabrik itu. Sesuai rencana awal tahun 2009 pabrik tersebut sudah mulai di bangun dengan kapasitas 5 ribu ton hingga 10 ribu ton per tahun sama seperti kapasitas pabrik briket yang lama. Saya kira pemindahan pabrik briket tersebut ke Banko Barat sangat menguntungkan. Perhitunngan kita itu akan menguntungkan dengan harga batubara saat ini yang mencapai 80 dolar hingga 85 dolar,” jelasnya.
Saat ini, kata dia lagi, PTBA telah mampu memproduksi briket sekitar 17 ribu ton tahun yang tersebar di tiga tempat yaitu di Tanjung Enim sebesar 3 ribu ton/tahun, Lampung sebesar 9 ribu ton/tahun, dan Gresik sebanyak 5 ribu ton/tahun. Ia juga mengatakan pengguna briket batubara akan selalu meningkat mengingat BBM yang harganya melambung. Sementara komposisi utama pengguna briket sendiri, pengusaha rumah makan dan peternak ayam menjadikan briket sebagai bahan bakarnya, sedangkan untuk konsumsi masyarakat umum masih terbatas.
“Pengguna briket ini lebih banyak digunakan home industri seperti pengusaha rumah makan, industri kerakyatan, peternak ayam, dan lainnya. Memang untuk pengguna briket bagi masyarakat umum masih minim di negara kita, tapi kami tidak berkecil hati karena briket juga telah menjadi bahan bakar pilihan dunia. Untuk itu,  kita telah merencanakan akan mengekspor briket batubara tersebut ke Malaysia, India, Jepang, dan Fhilipina,” katanya. (yan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: