Puasa-kan Emosimu

Masih ingat berita orang tua yang menyesal sepanjang hayat? Suatu hari seorang bapak membeli mobil baru dari show room mobil. Pulang dengan harapan bisa memberi surprise kepada isterinya, dia parkir mobil di depan rumah. Dan ketika isterinya diajak ke luar rumah tak disangkah anaknya menyambut keduanya dengan ceriahnya seraya mengucapkan,

“Papa…, kakak menggambar di mobil baru bagus kan pa?”. Kaget bukan main dibuatnya kedua orang tunya dan langsung naik pitam, mobil baru sudah tergores-gores catnya. Wah, seperti orang kesetanan tangan anaknya dipukuli, ada penggaris, penggaris, ada sapu, sapu, ada kayu, kayu dijadikan alat untuk memukuli anaknya terutama kedua tangannya. Anak meronta-ronta kesakitan, ampun…papa, ampun…papa, ampun…tak digubrisnya. Bahkan dak cukup sampai di situ, kemarahan belum menemukan kepuasannya, anak dihukum dengan tidur di kamar pembantunya. Sang isteri juga terbawa arus kemarahan suaminya dengan tidak mampu meredam kemarahan suaminya bahkan seakan setuju dengan apa yang diperbuat oleh suaminya. Malam harinya sang pembantu melapor kalau kakak badannya panas. Ibunya hanya menyuruh kasih minum parasetamol. Besoknya pembantu melapor kalau panasnya tak turun. Dan besoknya lapor kalau tangan kakak keluar darah dan nanah. Sekitar seminggu dari kejadian dibawalah anaknya yang lemas dan terkulai sementara badannya panas ke dokter. Bukan main, kaget orang tuanya setelah dirongsen dan diputuskan oleh dokter kalau kedua tangan anaknya harus diamputasi. Mau diapakan tangan kakak…, tangan kakak mau dipinjam oleh bapak dokter. Air mata penyesalan terus mengalir tidak bisa dibendung dari mata kedua orang tuanya, sementara mulut anaknya terus mengucapkan, “Papa…maafkan kakak, kakak tidak akan menggambar lagi di mobil papa…, tapi kembalikan tangan kakak papa……..”.
Hikmah puasa mengajarkan kepada kita untuk memiliki kecerdasan dalam mengendalikan hawa nafsu terutama mengendalikan nafsu amarah. Benarlah kata pepetah kemarahan itu awalnya adalah kegelapan dan akhirnya adalah penyesalan. Oleh sebab itu dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan mengambil bekal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Orang cerdas itu berfikirnya panjang sehingga tidak boleh bertindak gegabah dan sia-sia oleh karena fikiran kita yang pendek dan sikap kita yang ceroboh. Berkenaan dengan mengendalikan nafsu amarah dalam konteks puasa, Rasulullah berpesan kepada kita, “Sesungguhnya puasa adalah benteng (dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil. Dan seandainya ada orang lain yang mengajaknya berkelahi ataupun menujukan cercaan kepadanya, hendaknya ia berkata: “Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa.”
Puasa kita jalani terus sampai sebulan penuh, bisakah membuat kita bisa berfikir panjang dengan tidak mudah terprovokasi oleh kemarahan dan kebencihan sehingga bisa bertindak penuh dengan kearifan dan tanggung jawab? Semoga dengan petunjuk-Nya kita mampu me-MahaAgung-kan Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: