Satu Korban China Airlines Lumpuh


Para Korban Berkisah Tragedi Turbulensi

Sekitar pukul 17.00, pihak menejemen dari perusahaan maskapai China Airline perwakilan Jakarta dan Taipe mengunjungi korban ke Wing Internasional. Sayangnya saat hendak dikonfirmasi, tak ada seorang pun yang mau memberikan komentar dan memilih nyelonong menghindari awak media. �Im sorry no comment,� pungkas pria yang mengenakan jas hitam dan berdasi rapi di pelataran Wings kemarin.

Sekitar pukul 17.00, pihak menejemen dari perusahaan maskapai China Airline perwakilan Jakarta dan Taipe mengunjungi korban ke Wing Internasional. Sayangnya saat hendak dikonfirmasi, tak ada seorang pun yang mau memberikan komentar dan memilih nyelonong menghindari awak media. �Im sorry no comment,� pungkas pria yang mengenakan jas hitam dan berdasi rapi di pelataran Wings kemarin.

RADAR PALEMBANg,PENERBANGAN-Para korban pesawat Boeing 747-400 milik Chia Airlines yang terguncang  di perlintasan langit pulau Sulawesi, Kalimantan dan Filipina, Sabtu (20/9) lalu sekitar pukul 13.05, hingga kemarin masih tersisa satu di RS Sanglah.  Dia adalah Huang Hui Min, 32.
Menurut dr Gusti Ngurah Win Aryana SpB, Huang Hui Min mengalami kelumpuhan di kedua kaki, patah tulang rusuk dan betis, serta cidera syaraf.
Win Aryana juga mengatakan dirinya menangani dua pasien dari korban guncangan pesawat dengan nomor penerbangan CAL 687 tersebut.  “Saat itu langsung kita lakukan operasi dan observasi,”  jelasnya.
Dua pasien yang ditangani Win Aryana itu selain Huang Hui Min adalah Huang Yung Te. Pramuara China Airlines itu pergelangan tangan kanannya patah. “Tapi hari ini (Minggu kemarin) Yung Te atas permintaan keluarganya langsung terbang ke Taiwan,” paparnya.


Alasan kepulangan Yung Te, selain karena kondisinya sudah membaik dan tidak ditemukan cidera lain, kerabatnya minta agar Yung Te menjalani pemeriksaan MRI. “Kebetulan di sini tidak ada, jadi harus ke luar negeri,” jelas Win Adnyana.
Sementara itu Hui Min yang sebelumnya sempat dirawat di HCU RS Sanglah, kemarin dipindah ke ruang paviliun Amerta Wings Internasional. “Pasien satu ini dirawat lebih lama karena mengalami kelumpuhan dan cidera syaraf akibat benturan keras saat turbulensi di atas pesawat,” jelas dr Win Adnyana.
Menurutnya, dua orang penumpang yang duduk satu kabin sempat berkisah kepadanya tentang peristiwa mengerikan di langit tersebut. Menurut penuturan kedua penumpang itu, pramugara pesawat sampai terpelanting saat pesawat yang terbang dari Taipe menuju Bandara Ngurah Rai ini diempas jetstream (angin kencang).
Saat itu pramugara tersebut sedang mondar-mandir diantara dua baris kursi yang ada di sisi kiri dan kanan.  Lebih menarik lagi adalah pengakuan Chang Yung An alias Jong Die, 28, satu-satunya korban asal Tiongkok yang fasih berbahasa Indonesia.  Menurutnya, kasus turbulensi pesawat sudah sering terjadi. Namun pengalamannya bersama China Airlines sungguh paling dahsyat. “Kami mengira semua akan mati dan pesawat akan jatuh,” jelasnya.
Maklum, saat itu pesawat berada dalam ketinggian di atas 35 ribu kaki dan “tersangkut” di ruang  hampa udara.

Saat insiden lampu kabin juga masih menyala. Beruntung awak pesawat berhasil mengirim sinyal darurat sehingga pesawat milik ini berhasil mendarat darurat secara “mulus” di parkir apron gate 7 Bandara  Ngurah Rai. (pra)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: