Mengenal Marga Masyarakat Tionghoa


Muncul Sejak Ribuan tahun Lalu

Marga dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa sangat banyak, ada yang hanya satu karakter yang diletakkan di depan nama seseorang, ada juga yang lebih dari dua karakter atau biasa disebut marga ganda.

Iriansyan.b- PALEMBANG

Marga di dalam kebudayaan Tionghoa telah mempunyai sejarah beribu tahun lebih. Marga biasanya berupa satu karakter yang diletakkan di depan nama seseorang. Namun ada juga yang terdiri dari 2 atau bahkan 3 sampai 9 karakter, marga seperti ini disebut marga ganda.
Marga Tionghoa juga diadopsi oleh suku-suku minoritas yang sekarang tergabung dalam etnis Tionghoa.

Jelang pemilu 2009 banyak warga yang berlomba-lomba terjun ke dunia politik, baik sebagai pengurus partai politik ataupun mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Namun kondisi tersebut sangat bertentangan dengan kehidupan kawula muda Tionghoa. Mereka malah berlaku sebaliknya, enggan dan tidak begitu tertarik dengan dunia politik

Marga dalam suku-suku minoritas ini biasanya berupa penerjemahan pelafalan dari bahasa suku-suku minoritas tadi.
Sejarah marga di dalam kebudayaan Tionghoa bermula sekitar 5.000 sampai 6.000 tahun yang lalu sewaktu masyarakat Tionghoa masih bersifat matrilineal. Pada masa itu, marga diwariskan dari garis ibu, itu yang menyebabkan marga-marga pertama dalam kebudayaan Tionghoa banyak yang mempunyai radikal perempuan.


Dua karakter xing dan shi yang membentuk arti marga sebenarnya berbeda dalam penggunaanya. Seiring bertambah kompleksnya struktur sosial masyarakat Tionghoa, xing merujuk kepada marga dan shi merujuk kepada klan.
Bila xing muncul pada masa 6.000 tahun yang lalu, maka shi baru muncul pada masa pemerintahan Huangdi. Klan (shi) ini sedikit berbeda dengan marga (xing), bertambahnya jumlah penduduk yang memupunyai marga yang sama kemudian menjadikan beberapa keluarga yang sama marga menginginkan adanya pembedaan garis keturunan lagi.
Dari sinilah muncul pembedaan klan dalam marga yang sama. Jadi, shi adalah satu marga kecil dalam marga. Dalam satu marga dibagi lagi atas beberapa klan menurut garis keturunan yang berbeda.
Menurut catatan sejarah, jumlah keseluruhan marga Tionghoa sekitar 12.000 buah marga. Marga dengan karakter tunggal mencapai 5.000 buah, marga ganda mencapai 4.000 buah dan sisanya adalah marga antara 3 karakter sampai 9 karakter.
Namun marga yang masih digunakan sampai sekarang hanya berkisar antara 3.000 lebih marga. Marga tunggal mencapai 2.900 buah sedangkan marga ganda hanya 100 marga. Marga dengan 3 karakter ke atas sangat jarang ditemui. Selain itu banyak pula marga yang telah punah.
Salah seorang warga Tionghoa Harun mengungkapkan marga dalam tradisi masyarakat Tionghoa memang sangat banyak. Hingga saat ini ada ratusan marga Tionghoa yang ada di Palembang. Dari ratusan marga tersebut, Yap adalah marga yang paling banyak warganya. “Itu tidak pasti karena datanya tidak ada, tetapi sepengetahuan saya marga Yap yang terbanyak, “ ujarnya.
Nama marga ini biasanya berasal dari nama perkampungan yang seiring dengan waktu, jumlah penduduknya semakin bertambah. Bagi warga Tionghoa tetap menganut paham patriarkat atau garis keturunan ayah. Artinya kalau anak perempuan menikah dengan anak laki-laki marga lain maka secara tidak langsung marga anak perempuan itu hanya akan hilang.(**/bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: