Ke Daerah, Aku ‘kan Kembali

Oleh : Harmanto Edy Djatmiko

Saatnya para pengusaha semakin berpaling ke daerah. Di sanalah kegiatan ekonomi dan bisnis belakangan berdegup kian kencang. Di daerah pula, masa depan negeri ini dipertaruhkan.

Sampai hari ini, kata-kata bombastis yang selalu berusaha menunjukkan betapa hebatnya Jakarta, masih saja dipercaya banyak orang. Yang paling populer, tentu saja, ini: hingga sekarang, sekitar 80% uang dan bisnis di Indonesia berputar di Jakarta. Anda tentu tahu persis dampaknya. Betul, gelombang urbanisasi ke Jakarta tak bisa dibendung dengan cara apa pun, bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Jakarta akhirnya menjadi salah satu kota berpenduduk terpadat di dunia, dengan daya dukung yang terus merapuh. Tak perlu tersinggung, apalagi marah, bila sederet predikat tak enak kini tersandang di pundak ibu kota negara kita: kota dengan tingkat polusi nomor satu di dunia, kumuh, banyak pengemis, disertai tingkat kejahatan yang tinggi.


Entah sejak kapan, kata-kata bombastis penuh kebohongan itu dipercaya orang. Padahal faktanya, sejak 1995 hingga sekarang, DKI Jakarta hanya menyumbang sekitar 15% terhadap pendapatan nasional (PDB). Bank Indonesia juga mencatat, sejak 2003 hingga kuartal kedua tahun ini, jumlah uang yang berputar di Jakarta (yang tercermin dari volume transaksi uang kartal) rata-rata sekitar 25% – jauh dari angka 80% yang dipercayai masyarakat.

Kalau masih belum yakin, dan Anda tak malas membacanya, angka-angka berikut bisa semakin meyakinkan Anda perihal kebohongan itu. Badan Pusat Statistik mencatat, jumlah kredit perbankan periode 2002-2006 untuk DKI Jakarta hanya sekitar 15% dari total kredit yang disalurkan secara nasional. Masih kalah dibanding Sulawesi dan Kalimantan yang masing-masing di atas 20%. Pada periode yang sama, penanaman modal asing langsung di DKI Jakarta malah turun sekitar 5%; sedangkan di provinsi lain di Pulau Jawa rata-rata naik sekitar 8%; di Sumatera dan Papua bahkan naik di atas 15%.

Fakta yang sebetulnya sudah berlangsung lama itu semestinya kian menyadarkan kita bahwa masa depan negeri ini betul-betul tergantung pada potensi yang tersimpan di daerah. Bayangkan, banyak yang serba “ter” di dunia (dalam arti positif) terdapat di daerah-daerah yang membentang di seluruh wilayah negeri ini. Gas alam cair (liquid natural gas/LNG) yang dihasilkan dari berbagai wilayah di Indonesia memasok 20% kebutuhan LNG dunia, sehingga Indonesia merupakan penghasil LNG terbesar dunia. Untuk komoditas pertanian, cengkeh dan pala dari Indonesia menempati peringkat pertama di dunia; sedangkan karet alam dan minyak sawit mentah menduduki peringkat kedua dunia. Sementara untuk industri kehutanan, Indonesia adalah pengekspor kayu lapis terbesar – yaitu 80% – di pasar dunia.

Potensi industri pariwisata Indonesia juga tak kalah eksotis. Di samping dikaruniai keindahan alam yang memukau dan terkenal di seluruh dunia, Tuhan juga menitipkan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang luar biasa di bumi Indonesia, sekaligus serba “ter” di dunia. Biodiversity anggrek di Indonesia adalah yang terbesar di dunia, terdiri dari sekitar 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar yakni anggrek macan (Grammatophyllum speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum), termasuk anggrek hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.

Adapun bunga Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera merupakan bunga terbesar di dunia, ketika bunganya mekar diameternya mencapai satu meter. Negeri ini memiliki pula hutan bakau terbesar di dunia, yang bermanfaat untuk mencegah pengikisan air laut atau abrasi. Begitu pun terumbu karang Indonesia adalah yang terkaya, sekitar 18% dari total dunia.

Masih yang serba “ter” di dunia, Indonesia memiliki spesies ikan hiu terbanyak di dunia, terdiri dari 150 spesies. Binatang purba yang masih hidup, yakni komodo yang hanya terdapat di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, merupakan kadal terbesar di dunia. Primata terkecil di dunia, yaitu Tarsier pygmy atau disebut juga tarsier gunung yang panjangnya hanya 10 cm, terdapat di Sulawesi – binatang ini mirip monyet dan hidup di atas pohon. Masih di Sulawesi, ditemukan ular terpanjang di dunia yaitu Python reticulates sepanjang 10 meter. Adapun ikan terkecil di dunia yang ditemukan baru-baru ini di rawa-rawa berlumpur Sumatera, panjangnya cuma 7,9 mm ketika dewasa.

Dari segi kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Indonesia juga terbilang hebat. Monumen Buddha terbesar di dunia, Candi Borobudur, terdapat di Jawa Tengah, dengan tinggi 42 meter (10 tingkat) dan panjang reliefnya mencapai lebih dari satu kilometer. Candi ini diperkirakan dibuat selama 40 tahun oleh Dinasti Syailendra pada masa kerajaan Mataram Kuno (tahun 750-850). Lalu, di Desa Sangiran, Solo, ditemukan manusia purba tertua di dunia, Pithecanthropus Erectus, yang diperkirakan berasal dari 1,8 juta tahun yang silam.

Semua kekayaan alam dan budaya itu, sekali lagi, tersebar hampir secara merata di seluruh daerah Indonesia. Kalau semua itu dikelola secara serius – dalam arti profesional dan bermoral – pastilah bakal mendatangkan kemakmuran bagi masing-masing daerah. Ada, memang, beberapa daerah yang tak seberuntung daerah lainnya, tetapi jumlahnya sebetulnya terlalu kecil untuk diperdebatkan secara berlarut-larut, yang akhirnya malah sering dijadikan komoditas murahan kaum politisi. Toh, ketimpangan antardaerah ini bisa sebetulnya diatasi dengan sistem manajemen pemerintah daerah yang mengatur hubungan pusat-daerah melalui mekanisme pemerataan pembangunan. Semua itu sudah ada undang-undangnya. Yang kita tunggu adalah pelaksanaannya secara konsisten dan konsekuen dari para pelakunya. Mulai dari mereka yang duduk di birokrasi pemerintah daerah, para wakil rakyat, pengusaha, hingga tokoh-tokoh masyarakat.

Berangkat dari semua kenyataan di atas, Sajian Utama SWA kali ini mencoba mengupas tuntas beragam peluang bisnis dan pariwisata yang terbentang luas di berbagai daerah negeri ini. Sebagai panduan praktis Anda, kami juga melakukan survei untuk mengetahui kota-kota mana saja yang paling menarik untuk investasi, serta kota-kota yang menjadi tujuan utama para wisatawan domestik ataupun mancanegara. Bagaimanapun, di daerahlah masa depan Indonesia dipertaruhkan. Memelesetkan lagu Koes Plus: Ke daerah, aku ‘kan kembali…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: