Mengenal Marga Masyarakat Tionghoa (2)


Mayoritas Berasal dari Hokkian

Pada zaman dulu, marga-marga tertentu mempunyai tingkatan lebih tinggi daripada marga-marga lainnya. Pengelompokan tingkatan marga ini dikarenakan oleh beberapa hal salah satunya sistem feodalisme yang mengakar zaman dulu di Tiongkok.

Iriansyah.PALEMBANG

Pandangan ini terutama muncul dan memasyarakat pada zaman Dinasti Jin dan sesudahnya. Ini dikarenakan sistem Men Di yang serupa dengan sistem kasta di India. Pengelompokan tingkatan marga ini terutama juga dikarenakan oleh sistem feodalisme yang mengakar pada zaman dulu.

Ini dapat kita lihat di zaman Dinasti Song misalnya, Bai Jia Xing yang dilafalkan pada masa tersebut menempatkan marga Zhao yang merupakan marga kaisar menjadi marga pertama.
”Di masa sekarang tidak ada pengelompokan tingkatan marga lagi di dalam kemargaan Tionghoa. Bila beberapa marga didaftarkan maka biasanya diadakan pengurutan sesuai dengan jumlah goresan karakter marga tersebut, ” ujar Ahua, salah seorang warga tionghoa yang tinggal di Jl ramah kasih.
Marga Tionghoa juga digunakan oleh suku-suku minoritas di Tiongkok dan Taiwan.

Ini dikarenakan suku-suku minoritas tadi menerima pengaruh dari kebudayaan Han yang membawa marga. Banyak suku-suku minoritas yang kemudian juga membawa marga Han, dengan karakter Han. Pada mulanya, mereka juga menggunakan marga suku masing-masing dengan mencari nada pelafalan yang lebih kurang sama dengan marga Tionghoa yang umum.
Di Indonesia, suku Tionghoa masih tetap mempertahanka marga dan nama tionghoa walau telah berganti nama Indonesia. Di indonesia sendiri diperkirakan ada sekitar 300-an marga Tionghoa. Di Sumsel ada sekitar 100-an marga seperti dituturkan Harun.
Marga Tionghoa di Indonesia mayoritas dilafalkan dalam dialek Hokkian. Hal ini tidak mengherankan karena mayoritas keturunan Tionghoa-Indonesia adalah berasal dari Provinsi Hokkian.
Marga yang lazim di kalangan Tionghoa-Indonesia semisal  Lee/Lie yang di indonesia menjadi li, ong menjadi Wang serta masih banyak lagi marga-marga lain yang dapat ditemui. Salah satu fenomena umum di Indonesia adalah karena marga dilafalkan dalam dialek Hokkian, sehingga tidak ada satu standar penulisan yang tepat.
Hal ini juga menyebabkan banyak marga-marga yang sama pelafalannya dalam dialek Hokkian terkadang dianggap merupakan marga yang sama padahal sesungguhnya tidak demikian. (**/berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: