Puasa itu Pantang Menyerah

Wajahnya layu, rambutnya kusut, pakaiannya kumal, matanya kosong, badannya dekil, masa depan dirasakan suram. Hidupnya oleng, tak percaya diri, jiwanya tak berdaya, akhirnya putus asa dan mencoba untuk bunuh diri. Mau nyebur sumur takut klelep, mau nabrak kereta api malu jadi tontonan orang, akhirnya diputuskan pergi ke hutan dan naik gunung, dilihatnya jurang terjal dan dalam sehingga mau terjun dirasakan masih ngeri, maka berdoalah kepada Allah, “Ya Allah, turunkan makhlukmu yang buas hingga menerkam badan ini dan habis sudah riwayat hidup bernasip jelek ini”. Tiba-tiba muncul harimau menampakkan taringnya dan hendak menerkam, bukan main takutnya. “Ya Allah, gitu aja Engkau kabulkan, aku pingin hidup …. Ya Allah”. Harimau tiba-tiba duduk. “Terimakasih, ya Allah…,terimakasih, terimakasih , ya Allah…”, spontan dia ucapkan. ” Bagaimana kamu bisa bergembira? Aku duduk ini sedang membaca doa mau makan,” tegur Harimau.

Hidup tidak ada yang tidak beresiko. Hidup adalah perbuatan dan perjuangan. Ketidak berdayaan menghadapi hidup melahirkan kekrisisan dan keterputusasaan. Diturunkannya ajaran puasa supaya manusia berdaya, terutama berdaya menghadapi hawa nafsu. Betapa hebatnya hawa nafsu bila kita selalu memperturutkannya. Tapi betapa cerdas dan arif seseorang yang mampu mengendalikan hawa nafsu.

Kesengsaraan hidup harus dihadapi dengan sikap ridha, tentu saja ridha terhadap kenyataan yang dialami, bukan berarti pasrah total, sehingga tidak bertindak apapun. Itu keliru, ridha itu amalan hati, sedangkan pikiran tubuh kita wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridahi Allah. Kondisi hati yang ridha sangat membantu menjadikan proses ikhtiar menjadi positif, optimal, dan bermutu.

Puasa itu mengajarkan kita untuk tidak mudah stress. Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental menerima kenyataan yang ada. Pikirannya tidak realistis, tidak menerima kenyataan dan tidak berpijak kepadanya. Sibuk menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Sungguh, suatu kesengsaraan dan kepedihan hidup yang dibuat sendiri.

Puasa menyadarkan kepada kita tentang kesementaraan. Tak selamanya siang tapi tak selamanya malam. Tak selamanya berpuasa, ada batas waktu untuk sahur dan berbuka. Karenanya, nikmati aja setiap episode dalam kehidupan ini. Kenangilah perjalanan hidup ini dan ambillah kearifan dari peristiwa yang sudah terjadi. Kenanglah dengan lapang dada, dinginnya emosi, dan keikhlasan. Tidak ada gunanya menyelimuti kenyataan hidup ini dengan keluh kesah. Karena itu tak pernah menyelesaikan masalah, bahkan semakin menambah luka saja.

Puasa juga memberikan kesempatan bagi kita untuk mensuplai stok energi yang besar karena sebelas bulan akan datang belum tentu kita bertemu Ramadhan lagi. Lakukanlah di dalam Ramadhanmu dengan menghidupkan malammu dengan shalat wajib dan shalat-shalat sunnah, tilawah Alquran (tadarus), dzikir dan doa-doa. Dan pada siang harinya walaupun puasa masih tetap kerja, bersedekah dan amal kebajikan yang lainnya. Semoga puasa ini bisa meniti jalan keyakinan dan ketakwaan yang dahsyat dan mantap

Puasa itu Pantang Menyerah

Wajahnya layu, rambutnya kusut, pakaiannya kumal, matanya kosong, badannya dekil, masa depan dirasakan suram. Hidupnya oleng, tak percaya diri, jiwanya tak berdaya, akhirnya putus asa dan mencoba untuk bunuh diri. Mau nyebur sumur takut klelep, mau nabrak kereta api malu jadi tontonan orang, akhirnya diputuskan pergi ke hutan dan naik gunung, dilihatnya jurang terjal dan dalam sehingga mau terjun dirasakan masih ngeri, maka berdoalah kepada Allah, “Ya Allah, turunkan makhlukmu yang buas hingga menerkam badan ini dan habis sudah riwayat hidup bernasip jelek ini”. Tiba-tiba muncul harimau menampakkan taringnya dan hendak menerkam, bukan main takutnya. “Ya Allah, gitu aja Engkau kabulkan, aku pingin hidup …. Ya Allah”. Harimau tiba-tiba duduk. “Terimakasih, ya Allah…,terimakasih, terimakasih , ya Allah…”, spontan dia ucapkan. ” Bagaimana kamu bisa bergembira? Aku duduk ini sedang membaca doa mau makan,” tegur Harimau.

Hidup tidak ada yang tidak beresiko. Hidup adalah perbuatan dan perjuangan. Ketidak berdayaan menghadapi hidup melahirkan kekrisisan dan keterputusasaan. Diturunkannya ajaran puasa supaya manusia berdaya, terutama berdaya menghadapi hawa nafsu. Betapa hebatnya hawa nafsu bila kita selalu memperturutkannya. Tapi betapa cerdas dan arif seseorang yang mampu mengendalikan hawa nafsu.

Kesengsaraan hidup harus dihadapi dengan sikap ridha, tentu saja ridha terhadap kenyataan yang dialami, bukan berarti pasrah total, sehingga tidak bertindak apapun. Itu keliru, ridha itu amalan hati, sedangkan pikiran tubuh kita wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridahi Allah. Kondisi hati yang ridha sangat membantu menjadikan proses ikhtiar menjadi positif, optimal, dan bermutu.

Puasa itu mengajarkan kita untuk tidak mudah stress. Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental menerima kenyataan yang ada. Pikirannya tidak realistis, tidak menerima kenyataan dan tidak berpijak kepadanya. Sibuk menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Sungguh, suatu kesengsaraan dan kepedihan hidup yang dibuat sendiri.

Puasa menyadarkan kepada kita tentang kesementaraan. Tak selamanya siang tapi tak selamanya malam. Tak selamanya berpuasa, ada batas waktu untuk sahur dan berbuka. Karenanya, nikmati aja setiap episode dalam kehidupan ini. Kenangilah perjalanan hidup ini dan ambillah kearifan dari peristiwa yang sudah terjadi. Kenanglah dengan lapang dada, dinginnya emosi, dan keikhlasan. Tidak ada gunanya menyelimuti kenyataan hidup ini dengan keluh kesah. Karena itu tak pernah menyelesaikan masalah, bahkan semakin menambah luka saja.

Puasa juga memberikan kesempatan bagi kita untuk mensuplai stok energi yang besar karena sebelas bulan akan datang belum tentu kita bertemu Ramadhan lagi. Lakukanlah di dalam Ramadhanmu dengan menghidupkan malammu dengan shalat wajib dan shalat-shalat sunnah, tilawah Alquran (tadarus), dzikir dan doa-doa. Dan pada siang harinya walaupun puasa masih tetap kerja, bersedekah dan amal kebajikan yang lainnya. Semoga puasa ini bisa meniti jalan keyakinan dan ketakwaan yang dahsyat dan mantap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: