Surat Rahasia Ungkap Ketrlibatan BIN

Kesaksian Usman Hamid dalam Sidang Muchdi

RADAR PALEMBANG,HAM- Keterlibatan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam pembunuhan aktifis HAM Munir teryata sudah tercium sejak lama. Paling tidak itu diketahui dari Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir yang dibentuk Presiden SBY pada 23 Desember 2004.


Usman Hamid, mantan sekretaris Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir menyatakan, TPF pernah menerima informasi tertulis dari BIN yang menyebutkan adanya rencana-rencana pembunuhan terhadap Munir. Informasi itu diterima TPF medio Mei 2005. ”Laporan tertulis itu disampaikan seseorang yang ada di BINkepada ketua TPF Pak Marsudi Hanafi,” ungkap Usman.
Hal itu dikatakannya saat menjadi saksi dalam persidangan kasus Munir dengan terdakwa Muchdi Purwopranjono di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kemarin (23/9). Selain Usman, saksi lain yang dihadirkan adalah dua sopir pribadi Muchdi yakni Suradi dan Imam Mustofa.
Dalam informasi tersebut disebutkan, rencana pembunuhan Munir dibicarakan dalam rapat yang diikuti oleh Kepala BIN, Deputi V BIN, Deputi II BIN, dan Deputi IV BIN. ”Ada juga nama Indra Setiawan (ketika itu menjabat Dirut Garuda) dan Rohainil Aini (secretary chief pilot Airbus 330 Garuda),” jelas Usman. Saat itu, Kabin dijabat oleh AM Hendropriyono.
Sebagai sekretaris, lanjut Usman, dirinya bermaksud mengarsipkan informasi tertulis tersebut dalam catatan administrasi. Namun hal itu urung dilakukan karena menurut ketua TPF Marsudi Hanafi, pemberi surat tidak mau diketahui identitasnya.
Meski tidak menjadi alat bukti, namun keberadaan informasi tertulis itu menjadi petunjuk bagi TPF tentang adanya keterlibatan anggota di lembaga telik sandi itu. Serangkaian upaya menggali informasi pun dilakukan, misalnya dengan meminta keterangan dari institusi-institusi resmi seperti Garuda Indonesia, PT Angkasa Pura, dan PT Telkom.
TPF menyebutkan bahwa kasus pembunuhan Munir disebut sebagai pembunuhan konspiratif. ”Awalnya mau disebut persekongkolan jahat,” kata koordinator Badan Pekerja Kontras itu. TPF lantas menyimpulkan empat tingkatan peran dalam pembunuhan suami Suciwati itu. Yakni pelaku di TKP (Tempat Kejadian Perkara), orang-orang yang membantu di TKP, orang-orang yang meminta atau menyuruh, dan orang yang merencanakan pembunuhan.
Usman juga menceritakan, dirinya pernah menghubungi Muchdi untuk meminta keterangan. Saat itu, telepon dari Usman dijawab oleh Muchdi dengan ucapan salam. Usman lantas memperkenalkan diri, “Pak Muchdi, saya Usman Hamid dari TPF.” Kalimat itu diulangi oleh Usman hingga tiga kali karena Muchdi selalu menjawab dengan “siapa?” Hingga akhirnya mantan Danjen Kopassus itu mengatakan “salah sambung” dan menutup telepon.
Namun pengakuan Usman tersebut dibantah oleh terdakwa, Muchdi. Saat diberi kesempatan oleh Suharto, ketua majelis hakim, untuk memberikan tanggapan atas kesaksian Usman, dia menyangkal kesaksian Usman. ”Saya tidak pernah merasa dihubungi oleh saksi Usman. Itu bukan nomor Muchdi,” katanya.
Pengakuan Usman tentang informasi tertulis itu juga mendapat kritikan dari kuasa hukum Muchdi, M. Luthfie Hakim. Dia menggap surat tersebut tidak memiliki kekuatan hukum karena tidak disertai dengan tanggal dan tandatangan. ”Itu hanya sebagai surat kaleng yang tidak ada nilai alat buktinya,” tegasnya usai sidang. (fal)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Surat kaleng kok jadi bahan untuk menghukum orang. Logikanya dimana? Semua praktisi hukum sudah paham bahwa itu sangat lemah dan tidak valid, apalagi surat kaleng itu siapa pun bisa buat. Ini sangat rasional dan tidak ada orang normal dimanapun yang punya persepsi kurang waras, untuk menjadikan surat kaleng sebagai cara untuk menangkap orang. Kita semua ingin kasus ini diungkap, tapi tidak dengan cara salah tangkap/hukum orang, ataupun melanggar hukum itu sendiri. Biarlah masyarakat tahu siapa yang melecehkan hukum, sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: