Diskriminasi Terhadap Warga Tionghoa di Sumsel


Belum Hilang, Tetapi Hanya Memudar

Sejak beberapa puluh tahun lalu, masyarakat Tionghoa sudah hidup berdampingan dengan masyarakat pribumi lainnya. Keberadaannya semakin terlihat ketika pemerintah mulai membuka kran demokrasi dan memperbolehkan perayaan-perayaan hari besar mereka.

Iriansyah.B-Palembang

Sejak berakhirnya masa orde baru, kehidupan warga Tionghoa kembali bergeliat. Beragam kesenian, tradisi, kebudayaan yang sebelumnya ‘hilang’ mulai bermunculan. Namun ditengah kebebasan tersebut, sikap diskriminasi terhadap masyarakat etnis ini masih saja kerap terjadi.

Salah seorang warga Tionghoa Harun mengatakan diskriminasi terhadap warga Tionghoa memang masih ada, namun tidak separah dulu. Hal ini terlihat dengan banyaknya warga Tionghoa yang masuk dan aktif di organisasi kemasyarakatan maupun partai politik.

”Pada prinsipnya diskriminasi terhadap warga Tionghoa itu sudah tidak ada lagi, namun memang ada beberapa orang yang masih melakukan pembedaan terhadap warga dengan pribumi ini, misalnya dalam hal pengurusan surat-surat, “ ujarnya.

Sekarang ini memang masih ada beberapa oknum yang memanfaatkan warga untuk mendapatkan uang lebih. Misalnya jika warga pribumi mengurus suatu surat dikenakan biaya Rp 10 ribu, maka warga etnis dikenakan tarif hingga dua kali lipatnya, karena mereka menganggap semua warga Tionghoa adalah orang yang berada. “Hal ini yang masih kerap dirasakan, kalau untuk yang lain saya rasa tidak lagi, “terangnya.

Namun demikian Harun tetap berharap sikap tersebut bisa dihilangkan, sehingga warga etnis Tionghoa merasa sejajar dengan warga pribumi lainnya.

Hal senada diungkapkan ketua PSMTI Sumsel Fauzi Thamrin. Menurutnya, hingga sekarang diskriminasi terhadap warga etnis Tionghoa masih tetap ada. Hal ini terlihat dari masih ada perbedaan perlakuan terhadap warga etnis tersebut dibandingkan warga pribumi lainnya.

“Dalam mengurus surat-surat misalnya, bahkan sekarang ditengah hebohnya BLT banyak masyarakat Tionghoa yang tidak mendapatkannya, padahal mereka termasuk warga negara yang juga berhak menerimannya, “ terangnya.

Perlu diketahui, bahwa tidak semua warga etnis Tionghoa itu orang kaya. Banyak yang hanya bekerja sebagai buruh, tukang tahu, tukang sayur dan pekerjaan lainnya yang sama dengan masyarakat pribumi lainnya. Namun demikian sambungnya arah perbaikan sikap tersebut sudah mulai berjalan walaupun diakui belum begitu maksimal. (**)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: