Ramadhan-kan Hidup Hamba Ya … Rabb

Walaupun Ramadhan sudah memasuki separuh bulan. Rasanya semangat dan hikmat bulan penuh berkah ini tak kunjung pudar. Rasanya baru saja kita mengucapkan, ”Marhaban ya Ramadhan”. Dan aku tak tahu apa yang menyebabkan ada perasaan haru biru, suka cita dengan datangnya bulan suci ini.

Apakah suasana ”qiyamul lail” (shalat tarawih) yang diiringi lantunan suara doa shalawat atas Nabi saw  dan doa ”maghfirah” (ampunan atas segala dosa). Apakah  suasana ”subuh asmara” di mana para muda dan mudi tumplek di taman atau jalan menikmati indahnya suasana pagi hari. Apakah suasana sore hari banyak orang berjubel mengintai dan mencari bukaan dari orang-orang yang memanfaatkan berkah ekonomi di bulan Ramadhan dengan berjualan berbagai macam masakan kue dan makanan. Aku lihat ada celimpungan, lakso, miso, bakso, burgo, combro, kolak, martabak, roket, dawet, dan lain-lainnya. Apakah suasana buka bersama di masjid-masjid, rumah-rumah atau di kantor-kantor yang menciptakan suasana keakraban dan kebersamaan. Apakah suasana tadarus Alquran hingga larut malam yang diteruskan dengan acara bangun sahur, ”sahur…sahur…sahur, sekarang sudah jam 3 pagi, sahur…sahur…sahur”. Ada semarak Ramadhan yang diciptakan di kampung-kampung atau di kota-kota.
”Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah…”, demikian sepenggal riwayat yang disampaikan oleh Rasulullah. Apakah berkah itu? ”Menetapnya kebaikan Allah,” demikian penjelasan al-Raghib al-Asfahani seorang ulama di bidang bahasa Alquran. Kebaikan Allah di bulan ini tidak hanya hadir pada dimensi kebangkitan spiritualitas agama saja, tetapi juga pada dimensi hubungan keluarga, sosial masyarakat, pendidikan, bahkan ekonomi umat.
Keberkahan itu sendiri semakin penting aku rasakan dan aku rindukan selalu, tatkala aku menyadari bahwa hidup yang aku jalani tak boleh berakhir dengan kesia-siaan, ada arah dan tujuan yang harus aku torehkan, ada sasaran yang harus aku targetkan dan ada harapan serta kemenangan yang harus aku perjuangkan. Aku melihat Ramadhan menawarkan sebuah momentum dan metode berupa paket ibadah yang mengantarkan para pelakunya memiliki kekuatan dan kualitas mental dan jiwa asalkan ada kesiapan dan kesediaan diri untuk menjadi pribadi yang bertakwa.
Pribadi yang bertakwa adalah kumpulan harmoni antara kekuatan jiwa dan kualitas mental. Kekuatan jiwa sangat dibutuhkan di tengah berbagai perhelatan dan perjuangan hidup agar tak mudah lelah dan putus asa. Kualitas mental sangat dibutuhkan di tengah percaturan hidup perlu ada kecerdasan dan strategi agar ada nilai dan keindahan. Pribadi yang bertakwa jauh dari krisis karena mampu mengendalikan hawa nafsu dan mengambil bekal untuk kehidupan sesudah kematian. Krisis itu hanya milik orang-orang yang tidak bertakwa.
Hari ini, di kampung-kampung dan kota-kota geliat semarak Ramadhan masih menggelora dengan bangkitnya spiritualitas keagamaan masyarakat sebagai wujud keberkahan di bulan ini.  Adakah suasana ini menyelinap di hati anda? Di bulan penuh berkah, segala kebaikan ditampakkan dengan pahala dilipatgandakan dan kejelekkan ditutup rapat-rapat. Bulan maghfirah wa rahmah (ampunan segala dosa dan rahmat). Bulan tarbiyah (latihan dan pendidikan). Dan dengan segala nama-nama yang menunjukkan keberkahan dan kesemarakkan atau kebangkitan spiritualitas umat, hamba bersimpuh dihadapanmu ya….Rabb, Ramaddhan-kan hidup hamba.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: