BI Minta Kredit Konsumsi Direm

RADAR PALEMBANG, PERBANKAN-Bank Indonesia (BI) telah meminta perbankan untuk mengerem laju pengucuran kredit konsumsi. Bank sentral juga meminta perbankan tidak menaikkan lagi suku bunga deposito. Meski demikian, belum ada kesepakatan dari perbankan untuk melakukan anjuran bank sentral tersebut.


”Kita tadi mengecek mengenai kesepakatan bagaimana bisa mengurangi gap antara komitmen kredit dan dana masyarakat. Mereka akan melakukan upaya mengerem kredit (konsumsi). Jadi ini hanya laporan saja,” kata Gubernur BI Boediono di Gedung DPR, Jakarta, kemarin (24/9).
Pertumbuhan kredit hingga Agustus lalu mengalir cukup deras hingga 35 persen, dan masih didominasi oleh kredit konsumsi. Akselerasi tersebut jauh di atas target yang dipatok BI sebesar 22 persen. Juga masih lebih tinggi dari rencana bisnis 15 bank dengan aset terbesar sebesar 24,6 persen.
Boediono menambahkan, fasilitas repo (gadai) surat berharga negara juga sudah dimanfaatkan oleh perbankan. Fasilitas ini diberikan untuk mengatasi kekeringan likuiditas. ”Beberapa hari terakhir ini, repo itu sudah banyak yang mengambil,” kata Boediono.
Likuiditas yang terlalu ketat membuat sebagian bank jor-joran menaikkan suku bunga deposito untuk mencari dana segar dari masyarakat. Jika likuiditas tak dilonggarkan, suku bunga kredit akan cepat naik karena bank harus mengurangi biaya dana atau cost of fund yang meningkat.
Dirut PT Bank Mandiri Tbk Agus Martowardojo mengemukakan, bank sentral mesti menyosialisasikan aksi-aksi pelonggaran likuiditas tersebut secara masif. Ini agar bank-bank tak ragu dalam memanfaatkan fasilitas gadai yang disedikan BI. ”Harus ada sosialisasi lebih untuk memanfaatkan ini,” ujarnya.
Jika tak ada sosialisasi yang komprehensif, dikhawatirkan bank tidak menggunakan fasilitas repo tersebut untuk memperkuat likuiditasnya. Bank-bank bisa enggan menggunakan fasilitas tersebut karena bisa saja dinilai punya masalah dengan kualitas likuiditasnya. ”Karena itu, harus ada sosialisasi,” ujarnya.
Pekan lalu, bank sentral menyerap SBN yang dimiliki perbankan sebesar Rp 2,39 triliun. Sementara untuk SBI sebesar Rp 2,13 triliun. Suku bunga untuk repo SBI sebesar 9,43 persen, sementara untuk SBN sebesar 9,79 persen.
Chief Economist PT BNI Tbk Tony Prasentiantono mengatakan, besaran bunga itu masih terbilang murah, sehingga perbankan semestinya bisa memanfaatkan fasilitas gadai tersebut.
Direktur PT Bank Bukopin Tbk Tri Joko Prihanto mengemukakan, pihaknya telah memanfaatkan fasilitas gadai tersebut, meski tidak dalam jumlah yang besar. Namun, itu bukan berarti pihaknya mengalami kesulitan likuiditas. (sof/eri/jpnn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: