Defisit Masih Bisa Turun

RADAR PALEMBANG, APBN-Upaya menekan defisit RAPBN 2009 terus dilakukan pemerintah. Meskipun sudah berhasil ditekan dari usulan semula 1,9 persen Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 1,7 persen PDB, defisit masih bisa diciutkan dengan mengubah penggunaan dana optimalisasi Rp 8,7 triliun.

”Dana optimalisasi Rp 8,7 triliun sebaiknya untuk kurangi defisit anggaran saja,” kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Panitia Anggaran DPR kemarin (24/9). Usul pengalihan dana optimalisasi ini berasal dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta.
Besaran defisit hasil pembahasan Panitia Kerja (Panja) Asumsi, sebenarnya sudah disepakati Panitia Anggaran bersama pemerintah. Yakni, pendapatan negara dan hibah Rp 1.027,448 triliun dan belanja negara Rp 1.119,222 triliun. Sehingga defisit tahun 2009 menjadi Rp 91,773 triliun atau 1,7 persen PDB. Angka ini menurun dibandingkan RAPBN-nya sebesar Rp 99,626 triliun atau 1,9 persen PDB.
Namun Panja Asumsi juga menyepakati pengguanaan dana optimalisasi untuk beberapa pos tambahan belanja Rupiah Murni (non utang dan hibah, Red). Usai lebaran nanti, Panja Belanja Negara akan memulai pembahasan. Dana optimalisasi akan dibahas di Panja tersebut. Jika sebagian atau semua usulan Bappenas disetujui, defisit anggaran bisa lebih kecil dari Rp 91,773 triliun.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu mengatakan penggunaan dana optimalisasi akan dibahas lebih lanjut di Panja Belanja. ”Pokoknya nanti kita usulkan,” kata Anggito. Defisit baru bisa dikonfirmasi turun lagi jika sudah ada usulan formal dari pemerintah di Panja Belanja.
Sebelumnya, pemerintah dan Panitia Anggaran DPR berhasil menyisir dana optimalisasi anggaran dari program penghematan dan optimalisasi pendapatan negara sebesar Rp 25,74 triliun. Dari peningkatan penerimaan negara, didapatkan dana optimalisasi Rp 5,58 triliun. Di antaranya, dari penerimaan perpajakan Rp 5,57 triliun, cukai Rp 2 triliun, dan PNBP kementerian/lembaga sebesar Rp 7,02 triliun.
Penerimaan migas berkurang Rp 9,01 triliun karena penurunan asumsi harga minyak menjadi USD 95 per barel. Sementara itu, dari penghematan belanja diperoleh Rp 20,17 triliun. Yakni dari  subsidi listrik yang berkurang Rp 8,1 triliun dan subsidi BBM sebesar Rp 11,9 triliun. (sof)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: