Konsumsi Terigu Melorot

RADAR PALEMBANG, TERIGU-    Besaran konsumsi tepung terigu pada semester pertama 2008 mencapai 1,69 juta ton, atau melorot 12 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.       Ketua Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang mengatakan, penurunan tersebut lebih disebabkan karena tren meningkatnya harga komoditas secara umum. Dia optimistis, pada semester dua, konsumsi terigu akan kembali rebound.

”Semester dua akan ada kenaikan permintaan karena ditopang banyak momen, seperti puasa, Lebaran, dan Natal,” ujar dia seusai buka bersama, Selasa malam (23/9).
Franciscus yang juga wapresdir PT Indofood Sukses Makmur Tbk itu menambahkan, kebutuhan Lebaran akan cukup signifikan mengatrol permintaan terigu. ”Apalagi, harga terigus perlahan mulai menurun,” ujar Franky, sapaan karibnya. Hingga akhir tahun ini, Aptindo meramal konsumsi terigu minimal bisa sama dengan capaian tahun lalu.
Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Lopies menambahkan, tren permintaan tepung terigu jelang Lebaran biasanya akan mendaki sekitar 20 persen, hingga mencapai 300 ribu ton per bulan dari rerata konsumsi 250 ribu ton per bulan. Pihaknya berjanji tidak akan mengatrol harga terigu hanya karena ingin mengambil untung memanfaatkan momen Lebaran. Harga terigu saat ini berada di kisaran Rp 5.500 per kilogram.
Terkait pertumbuhan konsumsi warsa depan, Franky menyatakan, growth konsumsi tepung terigu akan sama dengan pertumbuhan ekonomi. Yaitu, di kisaran 6,3 persen. ”Ada banyak momen untuk mendorong rebound konsumsi terigu,” katanya. Misalnya, perhelatan pemilihan umum 2009. Saat ini, konsumsi terigu mencapai 3,4 juta ton per tahun. ”Target itu sudah cukup bagus dan realistis,” kata dia.
Franky menambahkan, rata-rata total impor gandum, yang menjadi bahan baku tepung terigu, per tahun mencapai 5 juta ton. Pada semester pertama, produsen tepung terigu tanah air sempat kesulitan mendapatkan gandum karena sejumlah negara produsen membatasi volume ekspornya. ”Namun, sekarang sudah mulai lancar kembali,” katanya. Saat ini, harga gandum mencapai USD 425 per ton. Negara-negara pengekspor gandum yang utama, antara lain, adalah AS, Kanada, dan Australia.
Pada bagian lain, Aptindo juga mendesak agar pemerintah menghapus pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap impor gandum yang merupakan bahan baku tepung terigu. ”Itu memberatkan konsumen,” kata Ratna. Apalagi, bila PPN itu akhirnya ditanggung oleh pemerintah sebagai bentuk intervensi pasar untuk menstabilkan pergerakan harga terigu. ”Kebutuhan masyarakat akan terigu sangat tinggi, seharusnya itu tidak perlu. Lagipula, tidak ada petani gandum di sini.”
Dia menilai, dengan tidak adanya petani gandum di sini, semestinya PPN impor gandum dihapuskan. Sebab, substansinya, regulasi perdagangan seperti itu ditujukan untuk melindung petani dalam negeri yang menghasilkan produk sejenis. (eri/JPNN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: