Siasati Pasar, Metode Penerbitan Global Bond Diubah

RADAR PALEMBANG, EKONOMI GLOBAL-Kondisi pasar keuangan global yang tidak menentu, membuat pemerintah  mengubah metode penerbitan obligasi internasional. Selama ini, pemerintah selalu mendahului penerbitan dengan road show kepada investor. Kini, metode ini tidak menguntungkan, karena pemerintah tidak bisa mengambil momentum yang benar-benar tepat untuk menerbitkan.

“Dengan adanya road show, market sudah tahu kita akan jual obligasi. Kadang  momentum hilang karena pasar sudah siap-siap dan membuat stategi untuk mendapatkan keuntungan dari deal ini,” kata Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto di kantornya kemarin (24/9).

Mulai tahun depan, pemerintah akan memanfaatkan momentum pasar dengan menjual global bond sewaktu-waktu di saat harga bagus. Road show ke negara-negara basis investor global tetap dilakukan, namun bersifat non deal atau tidak diakhiri dengan transaksi. Non deal road show ditujukan untuk memaparkan prospek ekonomi di tanah air.

Rahmat berpendapat turbulensi di pasar finansial masih akan terjadi tahun depan. Ini membuat peluang penerbitan obligasi sangat singkat. “Market hanya bergairah satu dua hari, atau paling lama seminggu. Maka, begitu ada peluang untuk menerbitkan, kita langsung masuk,” katanya.

Capai Target

Pemerintah dan DPR telah bersepakat menetapkan target penerbitan surat berharga negara (SBN) neto Rp 103,478 triliun. Rahmat optimistis bisa memenuhi target tersebut. Indikator ekonomi makro tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Nilai tukar rupiah akan menguat, inflasi melandai, dan suku bunga akan lebih rendah. Ini akan memberikan sentimen positif bagi pasar.

Tahun depan pemerintah tetap fokus menerbitkan obligasi dalam negeri. Global bond hanya akan menjadi pelengkap agar tidak terjadi crowding out (kelebihan penerbitan) di dalam negeri. “Kita ingin memperkuat basis investor di dalam negeri,” kata Rahmat.

Di sisi lain, pemerintah akan menerbitkan obligasi syariah (sukuk) ritel pada kuartal pertama tahun depan. Menurut Rahmat, penerbitan sukuk ritel harus dilakukan sebelum Pemilu yang digelar April 2009. Dana yang diserap dari sukuk ritel diharapkan bisa melebihi obligasi ritel konvensional (ORI). “Kalau ORI saja bisa sampai Rp 13 triliun, mudah-mudahan sukuk ritel bisa lebih,” kata Rahmat.

Deposan tetap akan menjadi investor potensial sukuk ritel. Sosialisasi akan dilakukan secara nasional, di beberapa kota kunci, dan melibatkan sejumlah pihak seperti, Departmen Agama, Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI serta Bapepam-LK dan Bursa Efek Indonesia. Pemerintah juga akan menunjuk agen penjual sukuk ritel akhir tahun ini.(sof/jpnn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: