Bagi-bagi Dana Kembali Terungkap

RADAR PALEMBANG, DUIT – Dugaan suap terhadap  para wakil rakyat kembali terungkap ke permukaan. Sedikitnya, 25 anggota DPR RI komisi IV masa bakti 2004-2009 diduga  pernah menerima pemberian fulus terkait pelepasan kawasan hutan lindung Pantai Air Telang, Sumatera Selatan.
Mereka mendapatkan jatah bervariasi dari Rp 775 juta  hingga Rp 25 juta. Fakta ini cukup mengejutkan, sebab sebelumnya mantan anggota DPR Hamka Yandhu juga pernah membeber bagi-bagi uang senilai Rp 31,5 miliar dari Bank Indonesia.


Nama-nama wakil rakyat penerima fulus tersebut terungkap dalam persidangan perdana Sarjan Tahir, anggota Komisi IV. Sarjan disidangkan  di pengadilan tipikor karena didakwa melanggar pasal 12 huruf A UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Karena perbuatan itu, Sarjan terancam hukuman seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mochamad Rum yang membacakan surat dakwaan itu membeberkan  keterlibatan para wakil rakyat  serta jumlah uang yang mereka terima sebagai tanda ’’terima kasih”.
Dalam kasus tersebut, memang ada dua tahap pembagian dana. Tahap pertama, sekitar bulan Oktober 2006 Sarjan menerima uang penyerahan dari pengusaha Chandra Antonio Tan, sekitar Rp 2,5 miliar. Chandra merupakan investor pembangunan proyek pelabuhan Tanjung Api-api.
Uang tersebut kemudian dibagi-bagikan. Sarjan mendapatkan Rp 150 juta, Yusuf E Faishal mendapatkan Rp 275 juta, Hilman Indra  mengantongi Rp 175 juta, Azwar Chesputra mendapatkan Rp 325 juta, dan Fachri Andi Leluasa mendapatkan Rp 175 juta. Dana lain diserahkan kepada 17 wakil rakyat yang lain. (selengkapnya lihat grafis).
Jaksa  menyebutkan, kasus tersebut bermula sekitar setahun lalu. Sebelumnya, Sarjan mendapatkan informasi bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan  telah mengajukan surat kepada Menteri Kehutanan untuk pelepasan hutan lindung Pantai Air Telang. Namun setelah berbulan-bulan, surat itu tampaknya belum juga di respons. ’’Ini karena belum ada tanggapan dari parlemen, ’’ jelas Rum.
Karena informasi itu, Sarjan pun mengadakan pertemuan dengan sejumlah anggota komisi IV di gedung parlemen. Ketika itu, Yusuf meminta agar Sarjan menjadi penghubung  antara komisi IV dengan Pemprov Sumsel. Sarjan juga bertugas menanyakan dana yang akan diberikan mana kala proses tersebut berhasil.
Karena permintaan itu, Sofyan kemudian menghubungi Syahrial Oesman selaku gubernur saat itu dan bertemu dengan Chandra Antonio Tan. Chandra merupakan Direktur PT Chandratex Indo Artha yang akan menggarap pembangunan jalan Palembang-Tanjung Api-api.
’’Terdakwa kemudian menghubungi Sofyan Rebuin agar disediakan dana Rp 5 miliar,’’ jelas jaksa.  Rupanya, Chandra menyetujui dana tersebut dana akan diserahkan dalam dua tahap dalam bentuk Mandiri Traveller Cheque (MTC) dan BNI Cek Multi Guna (CMG).
Sebelum persetujuan DPR turun, para wakil rakyat tersebut sempat mengadakan kunjungan kerja ke Pemprov Sumsel. Kunjungan itu merupakan tindak lanjut atas usulan pelepasan hutan lindung tersebut. Ketika itu, Gubernur Sumsel Syahrial Oesman juga sempat mengadakan pemaparan tentang pentingnya pembangunan Pelabuhan Samudera Tanjung Api-api.
Pertemuan itu berlangsung di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Saat pulang, Sarjan kembali menerima dana Rp 170 juta dari Kepala Dinas Pekerjaan Umum Darna Dachlan. Uang itu kemudian dibagi-bagikan lagi kepada sepuluh anggota DPR lain.
Selanjutnya, Juni 2007, Sarjan kembali mengontak Sofyan.’’ Dia meminta pelunasan uang sebesar Rp 2,5 miliar yang sempat dijanjikan,’’ jelasnya. Dana itu kemudian dibagi-bagikan lagi kepada sejumlah anggota DPR.
Di antaranya, Sarjan sendiri mendapatkan bagian Rp 200 juta, Yusuf Erwin sebesar Rp 500 juta, Hilman Indra senilai Rp 260 juta, Azwar Chesputra Rp 125 juta, dan Fachri Andi Leluasa senilai Rp 235 juta. Dana yang lain juga diserahkan kepada empat wakil rakyat yang lain.
Setelah terjadi pelunasan uang tersebut, 4 Juli 2007, DPR akhirnya menyetujui usulan pelepasan kawasan hutan lindung tersebut.
Sebelum sidang perdana Sarjan Tahir, sebelumnya kasus tersebut pernah mencuat. Ketika pemeriksaan anggota DPR Al Amin Nur Nasution, ada rekaman penyadapan petugas KPK, Sagita Hariyadin  yang cukup   mengejutkan.
Sagita saat itu menyebutkan bahwa uang tersebut mengalir ke dua jalur. Yang pertama adalah tim pelobi, yang di antaranya beranggotakan Yusuf E Faishal, Azwar Chesputra, Fahri Andi Leluasa dan Sarjan Tahir. Yusuf kerap menyebut tim pelobi ini sebagai  ’’tim gegana’’. Sementara, anggota dewan lain yang turut kebagian dana disebutkan dengan istilah potong ’’padi rame-rame’’.(git)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: