Kalau Puasa Jangan “Cuek”

Aku mau bercerita pada waktu berbuka puasa, seorang kakek dan nenek memesan semangkok sop buntut sepiring nasi dan sepiring kosong plus sendok. Rupanya mereka saling berbagi nasi dan sop. Anehnya sang nenek tidak langsung makan tapi hanya memperhatikan kakek yang lagi makan. Ada orang yang peduli menawarkan kepada nenek untuk dipesankan lagi semangkok sop, tapi nenek menolak dengan lembut.

Terimakasih nak, ini sudah cukup”. Ada orang yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh nenek, mendekat dan bertanya, “Saya perhatikan dari tadi, nenek tidak makan dan hanya memperhatikan kakek yang sedang asyik makan, memangnya nenek lagi nunggu apa?” Spontan nenek menjawab, “Nenek lagi menunggu gigi yang lagi dipakai kekekmu”. “Ha…”. Cerita ini tidak disampaikan kecuali untuk mengambil maksud dan tujuan di balik apa yang disampaikan. Tanggung jawab sosial itu harus selalu ditumbuhkan dari kesadaran diri kita berupa kepedulian. Dan tidak ada kepedulian kecuali bagi mereka yang memiliki kesiapan mental mau saling berbagi.

Sebaliknya, orang yang tidak memiliki jiwa untuk saling berbagi pastikan tak akan memiliki sikap untuk peduli. Dan orang yang cenderung tak peduli atau “cuek together” terhadap lingkungan sekitarnya boleh jadi adalah orang yang “miskin” atau yang tak “memiliki” terutama tanggung jawab sosial untuk bisa saling berbagi. Sebab dalam pepatah Arab disebutkan, “Faaqidu syai’ laa yu’ti” (orang yang tak punya apa-apa tak aka bisa memberi). Dengan demikian, “cuekisme” adalah simbol kemiskinan. Mengapa muncul “cuekisme”? Kalau dalam “teori sebab akibat” disebutkan bahwa kemiskinan itu ada dua: kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural. Maka, sebagai contoh sederhana tersebut dapat pula dijadikan pendekatan istilah, bahwa “cuekisme” itu ada dua yakni “cuekisme” struktural dan “cuekisme” kultural.

“Cuekisme” struktural adalah mazhab atau sistem cuek yang dilakukan dan dihidupkan oleh badan atau orang per-orang yang memiliki wewenang dan kekuasaan, dan “cuekisme” kultural adalah paham tentang cuek yang lebih disebabkan oleh kondisi mental masyarakat atau orang per-orang. Apa akibat dari “cuekisme” ini? “cuekisme” struktural lebih berbahaya dari pada “cuekisme” kultural apalagi dilakukan secara kolektif. Coba lihat negara yang paling kaya sumber daya alamnya ini dan paling besar jumlah penduduknya di dunia serta mayoritas muslim bisa jadi negara miskin, itu tak masuk akal. Kecuali, karena “cuekisme” struktural ini telah melahirkan tindakan yang tidak profesional dan proporsional dalam pengelolahan negara. Berapa banyak kali negara ini mengalami kerugian ketika kerjasama ekonomi, politik dan budaya terutama bidang perdagangan dilakukan dengan pihak luar negeri, gara-gara tidak profesional dan proporsional tadi. Sedangkan “cuekisme” kultural akibatnya paling tinggi terjadinya ketidakharmonisan dalam hubungan antar individu atau masyarakat.

“Cuekisme” telah melahirkan ketimpangan dan dishamonisasi. Bernyanyilah Pak Haji Roma Irama,”Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.” Bagaimana seorang pejabat publik tingkat bupati bisa lebih kaya dari seorang pengusaha sukses nasional? “Astaghfirullah…”. Bagaimana seorang “pejabat publik” bisa bangga dengan piagam penghargaan, sementara masih ada rakyatnya yang mengalami busung lapar dan gizi buruk. “Astaghfirullah…”. Bagaimana seseorang begitu bangga meraih “jabatan publik”, padahal itu amanah yang ada pertanggung-jawaban dihadapan Allah. Bahkan, dalam proses untuk meraihnya, memperoleh kejayaan dan kemenangannya di hadapan “publik” dia sudah harus berlatih bicara manis, bersikap menarik dan penuh simpati, tapi menghadapi pesaingnya yang masih “sedulur” itu dengan “enteng” dan “mudah” dia menjelek-jelekkannya, melukai perasaannya, menghina kehormatannya, dan menampakkan diri “kalo-kalo” dia manusio paling pacak sedunio. “Astaghfirullah…”. Apalagi era sekarang ini sudah jadi era iklan, barang yang buruk pacak jadi padek nian gara-gara iklan. Hati-hati dan ingat, tidak setiap yang “putih” itu “berlian”. “Astaghfirullah…”.

Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk melakukan introspeksi dan perbaikan diri. Proses pencerahan dari setiap kegelapan dan ketidakberdayaan. Proses melakukan pembangkitan spiritual secara individu dan juga secara kolektif atau jamaah. Proses pengaktualisasian nilai-nilai takwa dari dalam agar lahir pribadi yang solih dan muslih. Oleh sebab itu hadis-hadis Nabi tidak hanya berbicara tentang motivasi diri tapi juga sosial. Antara lain dalam suatu riwayat Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa maka dia memperoleh pahalanya, dan pahala bagi yang (menerima makanan) puasa tidak dikurangi sedikitpun”. H.R. at-Tirmizi. Di hari-hari penuh berkah ini, marilah kita wujudkan keberkahan itu dari yang kecil, dari yang mudah dan dari saat ini juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: