Kurangi Pasokan Gas buat Industri

RADAR PALEMBANG, ENERGI-Kalangan industri kembali dipusingkan dengan keterbatasan pasokan gas mulai tahun depan. Pasalnya, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menyatakan untuk lebih memprioritaskan pasokan gas buat PLN ketimbang industri.
Dirut PT PGN Hendi P. Santoso mengatakan, seiring program pemerintah dalam optimalisasi gas pada pembangkit listrik PLN, maka PGN memang diharuskan untuk memrioritaskan pasokan gas buat PLN. ’’Karena itu, pasokan gas ke industri akan berkurang,’’ ujar Hendi saat paparan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR kemarin (25/9).

Menurut Hendi, kontrak pasokan gas kepada seluruh pelanggan PGN, baik industri maupun PLN hingga tahun 2014 mendatang mencapai sekitar 800–900 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Karena itu, jika pasokan ke PLN ditambah, maka sudah pasti pasokan ke industri terpaksa dikurangi. ’’Defisit pasokan gas untuk industri diperkirakan terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Utara,’’ katanya.
Hendi mengatakan, defisit gas berpotensi membesar seiring makin banyaknya industri yang menggunakan gas sebagai energi primernya. ’’Misalnya, pasar tradisional kami di Jawa barat, diperkirakan akan kekurangan pasokan hingga 200 BBTU per hari,’’ sebutnya.
Kekurangan tersebut, lanjut Hendi, belum termasuk permintaan yang tidak bisa terpenuhi sebesar 1.290 BBTU per hari, disebabkan kurangnya pasokan gas dari produsen. ’’Hingga 2014, kami baru mendapat pasokan gas sekitar 800-900 BBTU per hari,’’ terangnya.
Menurut Hendi, PGN memang sepakat dengan pemerintah terkait prioritas pasokan kepada PLN. ’’Ini dengan mempertimbangkan impact (dampak) terhadap perekonomian nasional,’’ ujarnya.
Apalagi, lanjut dia, dari segi harga jual pun, PLN bisa bersaing dengan membeli gas sesuai dengan harga beli pelanggan industri, yaitu sekitar USD 5,5 per MMBTU. Selain itu, PLN juga memberi jaminan berupa stamp of letter credit sebagaimana pelanggan industri. ’’Jadi, tansaksinya komersial,’’ katanya.
Kurangnya pasokan gas ke pelanggan industri bisa memberi dampak serius bagi kelangsungan usaha. Pasalnya, jika industri harus kembali menggunakan solar sebagai energi primernya, maka bisa dipastikan biaya produksi akan membengkak.
Bedasar hitungan Hendi, dengan tingkat penjualan gas semester I 2008 yang sebesar 551 MMSCFD, maka penghematan yang dilakukan industri bisa mencapai Rp 45 triliun jika dibandingkan dengan pemakaian solar. ’’Karena itu, kami juga meminta pemerintah bisa mengusahakan tambahan pasokan gas ke PGN supaya kami bisa mendistribusikan lebih banyak lagi ke pelanggan industri,’’ terangnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMigas) R. Priyono mengatakan, pemerintah akan tetap berkomitmen untuk memrioritaskan pasokan gas dalam negeri. ’’Ini sudah menjadi komitmen pemerintah,’’ ujarnya.
Sejak terbitnya UU No. 22 tahun 2001 tentang kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi, BP Migas memang memiliki wewenang untuk mengontrol PSC (Production Sharing Contract) atau KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) tentang kegiatan distribusi gas mereka.
Keberadaan UU Migas tersebut memang cukup efektif. Sebelum 2001 porsi pasar domestik hanya 28 persen atau sebesar 5,52 TCF (triliun kaki kubik). Sedangkan porsi ekspor mencapai 72 persen atau 13,86 TCF. Setelah diberlakukannya UU tersebut, maka setelah 2001, porsi domestic mejadi 56 persen atau 11,30 TCF sedangkan porsi ekspor menjadi 44 persen atau 9,00 TCF. (owi/bas)

Grafis

Alokasi Penjualan Gas Domestik 2003 – 2007

Sektor        Volume (TCF)
Listrik        5,3
Industri    5,1
Pupuk        2,8
Total        13,3

Sumber : BPMigas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: