Surat Bantahan Budi Santoso Muncul Lagi

RADAR PALEMBANG, HAM- Budi Santoso, saksi kunci kasus pembunuhan aktifis HAM Munir dengan terdakwa Mayjen (pur) Muchdi Purwopranjono belum juga muncul di persidangan. Namun kuasa hukum Muchdi mengklaim Budi telah mencabut kesaksiannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di depan penyidik Bareskrim.


M. Luthfie Hakim, kuasa hukum Muchdi mengaku menerima surat dari Budi dari Islamabad, Pakistan, tentang pencabutan BAP tertanggal 13 September 2008. ”Surat tersebut ditujukan kepada ketua mejelis hakim persidangan Muchdi,”  kata Luthfie di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kemarin (25/9).
Dia meyakini keaslian surat yang ditandatangani Budi tersebut. Alasannya surat tersebut menggunakan kop burung Garuda dengan tulisan Kedutaan Besar Republik Indonesia dan alamat Diplomatic Enclave Street: 5, G-5/4, Islamabad. ”Kami sudah cek dengan empat tanda tangan Budi di BAP. Tanda tangannya identik,” terang Luthfie yakin.
Dengan surat tersebut lanjut Luthfei, tim kuasa hukum Muchdi semakin yakin dengan tuntutan yakni, hadirkan Budi dalam persidangan atau coret dari daftar saksi. ”Surat ini merupakan antiklimaks persidangan Muchdi,” tegasnya.
Majelis hakim sendiri tidak terburu-buru menanggapi surat yang ditunjukkan kuasa hukum Muchdi. Suharto, ketua mejelis mengatakan, harusnya surat ditujukan kepada pimpinan PN Jaksel, bukan ke majelis hakim. ”Selama sidang, majelis dilarang berkorespondensi. Banyak surat, tapi tidak saya tanggapi,” kata Suharto.
Jaksa penuntut umum (JPU) juga tidak panik dengan surat pencabutan BAP itu. Ketua tim JPU Cirus Sinaga justru memandang surat tersebut bagian dari rekayasa. ”Pencabutan BAP itu syaratnya harus datang. Nggak bisa pakai surat,” katanya enteng. Hal itu dikuatkan dengan pernyataan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAM Pidum) Abdul Hakim Ritonga melalui Kapuspenkum Jasman Pandjaitan. ”Itu tidak lazim. Tidak diatur di KUHAP,” katanya di Kejagung.
Choirul Anam, anggota tim legal Kasum juga meragukan keaslian surat dari Budi itu. Alasannya, surat berkop KBRI bukan ditandatangani untuk kepentingan pribadi, namun oleh otoritas di sana, yakni duta besar. ”Alasan lain, tempo dulu pernah ada surat yang sama, terang Choirul ditemui usai sidang.
Sebelumnya, dalam persidangan kasus pembunuhan berencana terhadap Munir dengan terdakwa Indra Setiawan, 18 Januari 2008, selebaran gelap berisi bantahan agen BIN Budi Santoso, beredar di PN Jakarta Pusat. Surat tanpa mencantumkan tanggal itu menggunakan kop KBRI di Pakistan.
Dalam surat itu disebutkan, BAP atas nama Budi Santoso tertanggal 3 Oktober 2007 dan 8 Oktober 2007 seharusnya merupakan pelengkap saja dan tidak dibawa ke persidangan. Orang yang mengaku Budi tersebut mengatakan, pemeriksaannya di depan penyidik kepolisian karena adanya perintah langsung melalui telepon dari Seskab (dalam surat tertulis Mensesneg-red) Sudi Silalahi atas petunjuk Presiden kepada Kepala BIN Syamsir Siregar. Perintahnya, meminta Budi memberi keterangan yang mengaitkan hubungan antara Muchdi dengan Pollycarpus Budihari Priyanto. Selebaran serupa, tadi malam juga masuk ke redaksi Jawa Pos melalui faks.
Sementara itu, persidangan Muchdi kemarin kembali melakukan pemeriksaan saksi. Dua saksi yang dihadirkan adalah mantan anggota TPF Hendardi dan secretary chief pilot Airbus 330 Garuda Rohainil Aini. Dalam kesaksiannya, Hendardi kembali mengungkapkan adanya surat kepada ketua TPF Marsudi Hanafi tentang adanya perencanaan pembunuhan terhadap Munir yang diikuti oleh Kepala BIN, deputi V,deputi IV, dan deputi II BIN.
Hendardi juga mengaku pernah mengalami teror seperti yang dialami koleganya, Munir. Teror itu di antaranya melalui telepon tanpa suara, orang tak dikenal datang ke rumahnya, dan perampokan di rumahnya. ”Teror itu karena saya ikut menangangi kasus Talangsari dan Aceh,” jelas mantan ketua PBHI itu.
Seperti diketahui, Muchdi didakwa dengan pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP jo pasal 340 KUHP atau pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 340 KUHP dengan hukuman pidana maksimal, yakni hukuman mati. Mantan Danjen Kopassus itu dianggap telah menyalahgunakan kekuasaan, memberi kesempatan atau sarana, atau sengaja menganjurkan orang lain yakni Polly, melakukan pembunuhan terhadap Munir. (fal/JPNN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: