Otoritas Cermati Short Selling

RADAR PALEMBANG, PASAR MODAL-Otoritas bursa terus mencermati aktivitas short selling yang diduga ikut menekan pelemahan indeks beberapa waktu lalu. Mereka merencanakan akan mengeluarkan sebuah petunjuk pelaksanaan (juklak) tentang aktivitas tersebut.


Sekadar diketahui, short selling adalah transaksi jual oleh investor kendati sang investor tak punya saham tersebut. Di sini, sekuritas meminjamkan saham yang dimilikinya, bisa juga milik investor lain, ke investor yang ingin melakukan aksi short selling tersebut. Nah, sesuai perjanjian, investor yang bermain mesti mengembalikan saham tersebut ke pemiliknya— bisa ke sekuritas maupun investor lain yang dipinjamkan sahamnya oleh sekuritas. Investor akan didenda atau disita jaminannya jika tidak mengembalikan saham. Aksi ini, oleh sejumlah otoritas bursa di negara lain, seperti Inggris, sudah dilarang.
”Kami sedang mempersiapkan aturan terkait hal tersebut, mudah-mudahan bisa cepat selesai,” kata Dirut BEI Erry Firmansyah di Jakarta Kamis malam (25/9).
Nantinya, diatur bahwa aksi transaksi short selling dilarang saat saham melemah. Saham yang bisa ditransaksikan juga terbatas hanya pada saham-saham yang punya market cap besar. Terkait saham yang boleh ditransaksikan, besaran koreksi dan likuid belum dapat ditentukan.
Saat ini, aturan soal short selling itu sudah diatur dalam Peraturan No.V.D.6 Bapepam-LK tentang Pembiayaaan Penyelesaian Transaksi Efek oleh Perusahaan Efek bagi Nasabah dan Transaski Short Selling oleh Perusahaan Efek yang diterbitkan pada 30 Juni lalu. Namun, peraturan tersebut belum berlaku efektif, harus ada peraturan bursa yang menjadi juklak. Diharapkan peraturan tersebut efektif pada Januari warsa depan. “Kita ada sistem pengawasan tersendiri terkait hal itu,” ujarnya. Pengawasan akan dilakukan baik oleh BEI maupun KSEI, menunggu efektifnya peraturan dari otoritas bursa.
Selama ini pun, sebenarnya transaksi short selling sudah diawasi. Sebelumnya Direktur BEI Eddy Sugito mengatakan, setiap akhir bulan, BEI menerbitkan saham-saham yang bisa ditransaksikan dalam posisi short.
Menurut otoritas bursa, ada 20 efek yang memenuhi syarat untuk ditransaksikan dalam posisi short. Efek-efek itu, antara lain, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT BRI Tbk (BBRI), PT BNI Tbk (BBNI), PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP), dan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO). Juga, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Sejumlah BUMN juga termasuk kategori ini.
Dalam kondisi pasar yang bearish, transaksi short selling diduga ikut memperdalam pelemahan indeks. Aksi tersebut, kata Erry, sebenarnya tak boleh dilakukan saat market sedang limbung. Investor melakukan aksi tersebut hanya karena ingin menekan pasar. Alhasil, sang investor bisa masuk dan beroleh gain memanfaatkan kejatuhan bursa. “Kalau transaksi tersebut dilakukan saat pasar jatuh, bisa memperburuk keadaan. BEI akan mengkajinya bersama Bapepam-LK,” terangnya.(eri/jpnn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: