Setitik Melamin, Rusak Susu se-Dunia

(Kalau) Versi Indonesia-nya Tahu Berformalin

ITULAH  kalau hanya berorientasi kepada keuntungan materiil semata, tanpa ada pertimbangan etika dan moril sehingga segala cara yang memungkinkan, maka akan
digunakan. Maksudnya ?
__________________

ITU lho penggunaan melamin, bahan yang biasa digunakan untuk membuat plastik dan pupuk, ternyata ditambahkan pada susu bubuk bayi dan produk susu lainnya buatan 22 perusahaan Cina. Bayangkan 22 perusahaan, bisa-bisa itu hampir 80 persen susu yang ada, atau bahkan semuanya.

Gawat!Hal ini tentu dimulai dari seseorang yang pasti diyakini mempunyai kompetensi bidang saint dan pengetahuan yang tinggi. Ahli begitu katakanlah, yang menemukan atau mengetahui bahwa jika ditambahkan bahan tersebut maka meskipun susunya ditambahkan air lagi tetapi kandungan nitrogennya masih tinggi, sehingga ketika dilakukan pengujian susu akan lolos. Hasilnya, biaya produksi akan irit, sehingga ujung-ujungnya keuntungan materi yang didapat menjadi berlipat.
Orang awam tahu, jika ada bahan yang digunakan juga pada produk plastik dan pupuk maka tentunya mengandung resiko jika diterapkan pada produk makanan, apalagi jika orang tersebut ahli di bidangnya. Tetapi mungkin karena reward materi yang didapat lebih menggiurkan, juga merasa yang terkena resiko bukan dirinya maka cuek-cuek aja orang tersebut. Bisa-bisa saja ahli tersebut berpikir seperti ini “Emangnya gue pikirin“.
Untunglah, dampaknya cukup ekstrim, yaitu bayi terserang batu ginjal. Sehingga itu memicu terkuaknya tabir penyelewangan tesebut.
Coba bayangkan, jika dampaknya tidak segera, yaitu bila sifatnya tidak transparan, tetapi mematikan. Jadi sebenarnya, kehebohan tersebut dapat ditangkal sejak awal. Bayangkan saja, jika ahli formulator susu tersebut menyadari bahwa formula barunya mengandung resiko dan mau memikirkan orang lain, meskipun dengan hal tersebut merupakan tindakan yang kontra produktif dengan reward yang mungkin dia dapatkan maka kejadian-kejadian buruk selanjutnya tidak perlu terjadi.
Berita mengenai susu mengandung melamin pun sampai juga di telinga warga Sumsel. Selain pemerintah daerah, pihak terkait seperti BBPOM ikut kebakaran jenggot. Sejumlah petugas BPOM  langsung melakukan sidak dengan men-sweeping beberapa minimarket, supermarket dan hipermarket di Palembang.
Namun hasilnya nihil, tidak ditemukan satu pun dari ke-28 produk yang dimaksud sebagaimana tertuang dalam tabel edaran.
Di Carrefour misalnya, suasana belanja tetap ramai dan pengunjung sama sekali tidak terpengaruh dengan sidak tersebut. “Produk-produk itu tidak ditemukan di Carrefour. Kita selalu siap, sama seperti kemarin waktu ada sidak parcel makanan dan minuman kadaluarsa,” ujar Loss Prevention Manager Carrefour, Lamedren yang membenarkan adanya kunjungan ‘jemput bola’ BPOM terkait 28 produk cina berbahaya tersebut.
Sayangnya dalam kesempatan itu, pria yang akrab disapa Memed, enggan menjelaskan lebih banyak lagi terkait surat edaran ke-28 produk tersebut. Begitu juga ketika ditanya koran ini mengenai prosedur penjualan produk-produk luar apakah akan lebih selektif lagi atau tidak ke depannya menyikapi temuan ini.
Sebab berdasarkan pantauan di sejumlah rak makanan ringan, pasar ritel terbesar di Palembang ini banyak menjual produk luar baik berkode ML, baik makanan maupun minuman. Seperti makanan ringan misalnya cokelat dan agar jeli produksi Malaysia dan susu formula pertumbuhan anak-anak dari New Zealand.  “Tidak bisa komentar lebih banyak.  Yang jelas produk-produk Cina sebanyak 28 item tersebut tidak ditemukan di Carrefour. Baik itu susu maupun makanan ringan seperti permen susu, wafer dan agar-agar jeli,”ulangnya tegas.
Bagaimana dengan pasar swalayan lainnya seperti Super Indo?   Store Manager Super Indo, Erwin Pasaribu menjelaskan terkait dengan 28 item produk yang mengandung susu melamin asal Cina tersebut,  untuk saat ini pihaknya mendapat surat pemeritahuan dari distributornya langsung seperti Mars.
Dalam surat pemberitahuan tersebut menerangkan produknya tidak mengandung bahan susu melamin asal Cina dan telah terbukti dengan pengawasan langsung oleh Badan POM  Pusat diitambahkan Erwin, untuk saat ini kita tidak merasa khawatir karena secara langsng tidak memiliki 28 item tersebut.
Heny , pengelola Minimarket  Kharisma mengungkapkan, hingga saat ini  belum mendapatkan surat edaran dari distributornya langsung  sehingga tidak mengetahui terkait produk mengandung susu melamin asal Cina tersebut.
“Biasanya jika suatu produk terkendala masalah  maka dari distributornya langsung menariknya dari peredaran, dan hingga  berita tersebut bergulir  tidak ada tindakan apa-apa  baik dari pemerintah maupun  distributornya. Untuk saat ini, kita akan menunggu  kejelasannya dan kemungkinan   jika terdapat merek-merek  tersebut di toko Minimarket Kharisma semantara ini tidak dikeluarkan, saya sendiripun belum mengetahui keseluruhan merek-merek yang termasuk 28 produk berbahaya,” imbuh Heny.
Kasus ini memberi kita berbagai pelajaran. Pertama, analisis protein dalam makanan dengan metode penentuan nitrogen dalam kasus ini ternyata dapat dikelabui dengan bahan lain yang kandungan nitrogennya tinggi. Padahal, terdapat cara-cara lain untuk analisis protein selain dengan penentuan kandungan nitrogen, yang dalam kasus seperti ini perlu dilakukan.
Kedua, pengetahuan tentang bahaya penggunaan bahan aditif makanan harus diberikan ke semua lini, terlebih yang terlibat dalam produksi makanan. Keinginan mendapat keuntungan lebih besar, yang mungkin dipadukan dengan ketidaktahuan, ternyata berdampak amat besar.
Dalam skala yang berbeda dan melibatkan bahan yang berbeda, di sekitar kita banyak kasus seperti ini, misalnya kasus boraks, formalin, dan sebagainya. “Saya yakin ‘keuntungan’ yang didapat dari tindak seperti ini tidak akan dapat membayar kerugian yang diakibatkannya, apalagi sampai hilangnya nyawa bayi-bayi tak berdosa,” ujar Ismunandar, seorang pakar kimia berkomenter.(swandra y)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: