Barang Pasar yang tak Laku Pascalebaran

Cabai Terpaksa Digiling Sendiri

HARGA cabai di Kota Prabumulih mencapai Rp 40 ribu. Melambungnya harga ini disebabkan  hilangnya cabai di pasaran. Bagaimana respons pedagang dan pembeli?

Fauzan Alfarizi – PRABUMULIH

TELAH 3 hari lalu cabai rawit kosong di pasaran bahkan beberapa pedagang mengeluhkan kesulitan untuk mendapatkan produk pedas ini. Seperti yang dirasakan Asmawati, salah satu pedagang sayuran yang juga menyediakan cabai di pasar Inpres.

Menurutnya, selain sulit ditemukan harganya pun ikut melambung yaitu mencapai Rp 40 ribu per kilogramnya.
Dijelaskannya, hal ini juga imbas dari pascahari raya Idul Fitri karena sebagian petani masih merasakan suasana lebaran. “Kemungkinan juga belum ada yang panen. Oleh karena itu, bila menemui cabai pada pedagang dijual dengan harga tinggi dan hal ini sudah biasa bila permintaan meningkat,” kata dia.
Selain itu tambahnya, kendala yang dihadapai adalah masih tergolong sepinya para pembeli. Tak jarang cabai yang tidak laku terjual terbuang percuma karena rusak dan busuk. Dalam satu harinya, Asmawati mengaku menyiapkan cabai untuk dilepas di pasaran sebanyak 10 kg untuk jenis cabai merah dan hijau dan dari jumlah terjual tersebut sebanyak kurang lebih 30 persen tidak laku. Oleh karena itu cara mengatasinya dengan melakukan penggilingan cabai dengan cara dipisahkan antara kondisi cabai yang masih bagus dan sedikit rusak.
Untuk harga cabai merah dan hijau saat ini mencapai harga Rp 20 ribu per kilogram dan masih dalam keadaan normal. Hal senada juga diungkapkan pedagang lainnya Ibnu yang menjelaskan, menjelang lebaran pun penjualan cabai rawit tergolong sedikit dan hal tersebut disebabkan kosongnya stok.
Disingungnnya juga, harga yang ditetapkan untuk cabai rawit yang mencapai Rp 40 ribu dirasakan sangat tinggi. Bahkan jika dilihat permintaan sekarang yang tergolong sedikit maka cabai akan terbuang percuma.
Sementara itu, harga kebutuhan pokok dipasar tradisional masih normal. Tak jauh beda dengan harga saat menjelang lebaran, harga telur masih Rp 14 ribu, gula pasir Rp 6 ribu dan minyak curah Rp 7 ribu.
Yuni, pemilik Toko Pendi yang berlokasi di Pasar Inpres mengeluhkan sepinya pembeli pembeli yang datang. Bahkan, sejak lebaran omzet pembelinya cenderung turun sekitar 30 persen.
“Kalau pembelinya saja sedikit, tentunya keuntungan kita juga berkurang,” ujarnya. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: