Depdag Perketat Impor Barang

Harga Minyak Mentah Indonesia  Ikut Tertekan

RADAR PALEMBANG, KRISIS EKONOMI-Departemen Perdagangan bertindak cepat dengan mengeluarkan kebijakan pengetatan importasi barang setelah adanya resesi ekonomi yang dialami Amerika Serikat. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya pengalihan ekspor berbagai negara dari AS ke Indonesia.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan bahwa dengan terjadinya lonjakan impor yang mengakibatkan industri dalam negeri mengalami kerugian, perlu dilakukan upaya untuk lebih menjamin keberhasilan tindakan pemulihan (remedy). Untuk itu, diterbitkan Peraturan Menteri Perdagangan No 37/M-DAG/PER/9/2008 tentang penyertaan certificate of origin (SKA/surat keterangan asal). “Diperlukan bukti kebenaran asal barang impor yang dikenakan tindakan safeguards,” ujarnya.

Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin) adalah surat keterangan yang menyatakan negara asal barang, yang diterbitkan oleh instansi/lembaga yang diberi kewenangan oleh pemerintah negara pengekspor. Sementara safeguards adalah tindakan yang diambil pemerintah untuk memulihkan kerugian serius untuk mencegah kerugian industri dalam negeri akibat lonjakan impor barang. “Safeguard itu dilakukan dengan memberlakukan bea masuk tambahan terhadap impor barang,” terangnya.

Importir yang mengimpor barang daari negara diluar yang dikenakan tindakan safeguard juga wajib menyertakan SKA. Jika tidak maka importir tersebut akan dikenakan bea masuk tambahan seperti yang diberikan terhadap importasi dari negara yang terkena tindakan safeguard. Untuk menjamin keefektifannnya, Permen ini akan diberlakukan 60 hari sejak tanggal ditetapkan. “Importir yang tidak memenuhi ketentuan tersebut akan dikenakan tindakan sesuai Undang-Undang,’ lanjutnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menilai dampak krisis finansial di Amerika Serikat diperkirakan akan memicu banyak negara menggenjot ekspornya. Selain sebagai bentuk pengalihan ekspor, hal itu dilakukan sebagai antisipasi menambah likuiditas keuangan masing-masing negara.”Upaya menggenjot ekspor tersebut bisa dilakukan dengan melakukan strategi dumping ke pasar-pasar potensial termasuk Indonesia,” ungkapnya.

Sayangnya, dengan kondisi seperti sekarang ini, upaya menggenjot ekspor tersebut kebanyakan dilakukan melalui dumping. Dia menilai semua negara berpotensi melakukan cara tersebut, ancaman terbesar akan terjadi importasi besar-besaran dari Tiongkok. Sebab, Amerika Serikat selama ini merupakan pasar ekspor tradisional Tiongkok. “Kalau nggak ada pengawasan kita khawatir terjadi lonjakan ekspor besar-besaran, terutama dari negara-negara yang sering terkena sanksi safeguard,” jelasnya.

Harga ICP

Ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia akibat krisis financial di Amerika Serikat (AS), langsung berimbas pada harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Setelah sekian lama bertengger di atas level USD 100 per barel, ICP periode September tertekan hingga ke angka USD 99,06 per barel.

Demikian analisa Tim Harga Minyak Ditjen Migas Departemen ESDM. ICP September tersebut berarti turun 14 persen atau USD 16,5 dari ICP Agustus yang masih berada di level USD 115,5 per barel. ’’Perlambatan ekonomi akan berimbas pada penurunan konsumsi minyak,’’ kata Dirjen Migas Departemen ESDM Evita H. Legowo melalui situs resmi Ditjen Migas kemarin (6/10).

Menurut analisa Tim Harga Minyak Ditjen Migas ESDM, turunnya konsumsi minyak sudah terjadi di AS yang merupakan konsumen minyak terbesar di dunia. Berdasar data Tim Harga, saat ini tingkat konsumsi minyak AS mencapai tingkat terendah dalam 5 tahun terakhir. Selain itu, tingkat pengolahan kilang minyak di AS dalam bulan September juga hanya mencapai 66,7 persen dari kapasitas total.

Selain itu, dampak badai Ike terhadap fasilitas produksi migas di Teluk Meksiko dan kilang-kilang di kawasan Gulf Coast yang sebelumnya diperkirakan bakal berdampak parah pada kegiatan produksi migas, ternyata tidak mengakibatkan kerusakan signifikan. Selain itu, produksi minyak negara-negara eksporter minyak (OPEC) berada pada level di atas kuota produksi yang telah ditetapkan sebesar 29,67 juta barel per hari.

Sedangkan di kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak juga disebabkan oleh menurunnya pengolahan minyak mentah sejumlah kilang di Jepang lantaran penghentian sementara pengoperasian unit CDU untuk perbaikan berkala.

Melorotnya ICP diperkirakan bakal berimbas pada kinerja ekspor migas Indonesia. Sebelumnya, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengatakan, meski volume ekspor tidak akan terganggu karena migas merupakan komoditas energi primer yang dibutuhkan negara-negara importer, namun valuasi atau pergerakan nilai tukar rupiah tetap harus diwaspadai. ’’Nilai tukar ini akan mempengaruhi penerimaan di bidang migas,’’ ujarnya. Penerimaan dari sektor migas merupakan salah satu penerimaan negara dengan porsi terbesar. Untuk 2008 ini, pemerintah menargetkan penerimaan sektor migas sebes

////Grafis

Data ICP 2008

Bulan Harga (USD per Barel)

Januari 92,53

Februari 95,05

Maret 103,11

April 109,31

Mei 124,67

Juni 132,36

Juli 134,96

Agustus 115,56

September 99,06

Rata-rata 111,75

////

ar Rp 157,186 triliun. (owi/jpnn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: