Hadiah Lebaran Tak Terlupakan saat Reuni Pemilik Hati Baru

Jaga Semangat, si Juru Selamat Simpan Boneka dan Bejana

Saat Lebaran lalu CEO/Chairman Jawa Pos DAHLAN ISKAN menjadi orang asing satu-satunya yang diundang hadir pada reuni hampir seribu orang pemilik hati baru di Tianjin, Tiongkok. Inilah catatannya:

SAYA mendapat hadiah Lebaran yang istimewa: hasil pemeriksaan total setelah satu tahun ganti hati bisa dibilang istimewa. Tekanan darah, gula darah, albumin, protein, sgot/sgpt, bilirubin, wbc, rbc, afp, tacrolimus, jantung, ginjal, paru-paru, dan lain-lainnya sangat normal.
Bagaimana dengan kankernya? Inilah yang sejak semula dikhawatirkan. Sebelum hati saya diganti, sudah tumbuh tiga kanker besar (6 cm, 4 cm, dan 2 cm). Juga sudah terlihat bibit-bibit kanker di seluruh hati dalam jumlah yang tidak terhitung. Yang dikhawatirkan, bibit kanker itu sudah menyebar pula ke bagian lain tubuh saya. Memang sebelum ganti hati dinyatakan tidak ditemukan kanker di tempat lain. Tapi, siapa tahu bibit itu masih terlalu kecil sehingga tidak terlihat.
Karena itu, saya harus melakukan pemeriksaan lagi, setahun setelah ganti hati. Siapa tahu hal-hal yang dulu masih amat kecil kini sudah mulai kelihatan. Alhamdulillah, hasil pemeriksaan intensif dua hari sebelum Lebaran itu menggembirakan: tetap tidak ditemukan sesuatu.
Bahkan, kini saya sudah dinyatakan boleh hidup normal. Boleh makan apa saja dan bekerja seperti sebelum sakit. Tentu saya tetap mendengarkan nasihat banyak orang agar lebih berhati-hati.
Mestinya jadwal pemeriksaan saya adalah tanggal 6 Agustus 2008. Tapi, hari itu ada Olimpiade Beijing. Kota Tianjin termasuk jadi pusat pertandingan, terutama sepak bola. Bahkan, rumah sakit tempat saya ganti hati itu jadi rumah sakit Olimpiade. Tidak boleh menerima pasien baru. Semua harus disiagakan untuk pasien yang ada kaitannya dengan Olimpiade. Karena itu, saya baru ke sana lebih dari sebulan kemudian. Pertimbangan lainnya: sekalian menghadiri reuni para pemilik hati baru. Saya ingin bertemu mereka yang pernah ganti hati di Tianjin.
Hari itu, hampir seribu orang berkumpul di taman bunga yang cukup luas. Salah satunya tentu saya. Semua berbaju seragam: kaus lengan panjang berwarna pink dengan tulisan “hidup baru” dalam bahasa Mandarin di belakangnya. Itulah orang-orang yang sudah ganti hati, yang sedang reuni di Tianjin, Tiongkok, Minggu lalu.
Inilah reuni kedua sejak rumah sakit Di Yi Zhong Xin, Tianjin, berdiri 10 tahun yang lalu. Kini, alumni “ganti hati” rumah sakit tersebut sudah lebih dari 3.000 orang. Namun, tidak semuanya datang. Hanya saya, alumni luar negeri yang diundang – kalau Hongkong tidak dianggap luar negeri.
Karena bertepatan dengan HUT ke-10 rumah sakit itu, acaranya pun macam-macam. Ada olahraga bersama, ada perayaan, ada pula resepsi makan malam. Bintang hari itu sudah pasti orang ini: Prof Shen Zhong Yang. Dialah promotor, pendiri, dan pimpinan rumah sakit itu. Dia juga yang menjadi ketua tim ganti hati saya. Prof Shen Zhong Yang, yang baru berumur 47 tahun, seperti berada di tengah pusaran. Semua orang menyapanya, menyalaminya, merangkulnya, dan memujanya. Dia dianggap “juru selamat” sekian ribu orang yang sudah hampir menyerah kepada kematian.
Prof Shen, yang juga hanya mengenakan kaus, melayani semua “alumni” dengan sikap seperti teman. Para dokter rumah sakit itu membaur jadi satu dengan pasien mereka. Bahkan dalam acara resepsi, orang seperti Prof Deng Yong Lin, yang sudah melakukan ganti hati lebih dari 500 kali (termasuk hati saya), duduk di pojok belakang. Prof Sun Liying yang cantik itu, yang setahun penuh mengawasi penyembuhan saya (termasuk secara jarak jauh), juga tidak duduk di depan. Suaminya, Prof Zhu Zhi Jun, yang sudah melakukan operasi ganti hati sebanyak 1.100 kali, malah jadi panitia.
Dalam resepsi itu ditampilkan secara bergantian: peristiwa penting selama 10 tahun rumah sakit itu disajikan, diselingi atraksi dari “alumni” dan lagu-lagu dari artis Beijing. Di antara alumni yang ditampilkan adalah seorang gadis cantik bersama ibu-bapaknya yang sudah mulai tua. Ternyata itulah gadis yang ketika umur 8 tahun menjalani ganti ganti. Di layar LED lantas ditampilkan rekaman ketika gadis tersebut masih kecil. Juga ketika dilakukan operasi 8 tahun yang lalu. Ibunya menangis karena tidak menyangka bisa melihat anaknya tumbuh menjadi gadis yang dewasa.
Ditampilkan juga seorang ibu muda yang baru mempunyai anak beberapa bulan. Saat itulah diketahui bapaknya menderita sakit liver dan diperkirakan hanya akan bisa bertahan hidup enam bulan saja. Ibu muda itu memutuskan menyumbangkan separo livernya untuk bapaknya. Lalu, bapaknya yang kini kelihatan sangat sehat ditampilkan juga di panggung. Bayinya itu kini sudah berumur dua tahun lebih.
“Apakah tidak takut bayinya terpengaruh?” tanya MC kepada sang ibu muda.
“Kelak, kalau anak saya besar, akan saya beri tahu peristiwa ini. Dia pasti sangat bangga punya ibu yang seperti saya,” katanya. “Saya akan mewariskan kebanggaan itu kepadanya,” tambahnya.  Sang bapak menyambung: “Dia anak yang paling mulia di dunia ini”. Sang anak hanya tersipu-sipu.
Yang juga mengharukan adalah ketika ditampilkan anak berumur 2 tahun. Juga rekaman film ketika anak itu masih sebagai bayi berumur 7 bulan dan sudah  menderita kelainan liver. Bapak-ibunya terus menangis. Akhirnya diputuskan sang bapak menyerahkan sebagian hatinya untuk bayinya. Maka di umur 7 bulan, hati si bayi sudah harus dibuang total. Lalu, sebagian hati bapaknya dipasangkan ke si bayi. Kini sang bayi sudah berumur 2 tahun 1 bulan. Lucunya bukan main. Setiap difoto selalu bergaya dengan mengacungkan dua jarinya. “Untuk bayi berumur 7 bulan, cukup menggunakan 20% saja hati bapaknya,” ujar Prof Zhu kepada saya.
Kini, dialah “alumni” termuda. Juga rekor dunia termuda yang menjalani transplantasi hati. Sedangkan rekor dunia tertua juga terjadi di rumah sakit ini. Yakni dipegang orang yang umurnya 82 tahun. Berarti sudah berubah dibanding dengan apa yang saya tulis di buku “Ganti Hati” yang menyebutkan rekor tertua adalah 79 tahun.
Ada juga atraksi menggembirakan. Yakni tampilnya dua “alumni” yang punya prestasi fisik yang sangat baik. Yang satu menjadi juara renang antarpasien transplantasi dua tahun berturut-turut. Yakni dalam forum Porseni khusus untuk pasien transplant. Satunya lagi seorang pelatih kungfu yang setelah dua tahun ganti hati sudah kembali melatih anak-anak didiknya. Hari itu beberapa anak didiknya juga ditampilkan di panggung bermain kungfu dengan gurunya. Permainannya sudah sangat seru. Sayang, dalam adegan terakhir, ketika sang suhu harus berdiri di atas satu kaki dalam gerakan kungfu penutup, dia gagal. Rupanya, dia sudah kelelahan. Hadirin pun bertepuk tangan riuh.
Prof Shen Zhong Yang tampil sangat low profile di panggung. Itu kelihatan dari adegan berikut ini. Di panggung muncul dua gadis. Yang satu membawa boneka “banana-bajamas”. Satunya lagi membawa bejana terbuat dari kaca. Serupa dengan bejana  yang biasa ditaruh di atas meja untuk memelihara ikan hias. “Boneka dan bejana ini Anda abadikan di ruang kerja Anda. Mengapa?” tanya MC yang tak lain adalah penyiar penting CCTV, stasiun TV milik pemerintah pusat Tiongkok itu.
Prof Shen lantas menceritakan apa hubungan boneka dan bejana itu dalam hidupnya. Boneka itu ternyata milik pasiennya yang masih berumur 7 bulan. Sang anak harus menjalani ganti hati. Namun, tidak segera dapat donor. Sudah 28 orang dicadangkan, tapi tidak satu pun ada yang cocok. Anak itu akhirnya meninggal dunia. Prof Shen sangat sedih. Itu delapan tahun lalu ketika rumah sakit ini belum terlalu kuat.
“Pemilik boneka inilah salah satu yang membuat semangat saya terus meluap-luap untuk memajukan rumah sakit ini. Karena itu, boneka ini selalu saya taruh di kamar kerja saya,” ujarnya. “Sekarang, tidak akan terjadi lagi peristiwa seperti itu,” tambahnya.
Lalu, bagaimana kisah tentang bejana ikan hias itu? “Ini milik seorang pemuda 28 tahun. Dia selalu membawa ikan hias dalam kamarnya. Dia sudah berhasil menjalani ganti hati dengan baik. Tapi kemudian terkena infeksi. Meninggal dunia,” kisahnya. Bejana itu jadi peringatan penting bahwa perawatan setelah ganti hati tidak kalah pentingnya dengan pelaksanaan operasinya. Maka Prof Shen kembali menekankan pentingnya kedisiplinan pasien ganti hati dalam melakukan perawatan dirinya.
Rupanya dua benda itu yang telah membuat prestasi rumah sakit tersebut menjadi yang terbaik di dunia untuk bidang ganti hati.  Jumlah “alumni” ganti hati seluruh dunia, kalau dikumpulkan, sudah kalah dengan satu rumah sakit ini saja. Rekor apa pun dipecahkan di sini. Termasuk rekor operasi tanpa transfusi darah.
Ide dan semangat mendirikan rumah sakit itu juga berlatar belakang sikap “ai guo” (cinta negara)-nya yang luar biasa. “Sebagai orang Tiongkok, saya merasa terhina negara saya diremehkan di dunia luar,” katanya. Perasaan itu muncul saat dia memperdalam bidang transplantasi di Jepang. “Sejak menyelesaikan gelar doktor di Jepang, saya sudah bertekad menjadikan Tiongkok yang terbaik di dunia dalam bidang transplantasi hati,” katanya. “Dalam perjalanan pulang dari Jepang, sambil memanggul buku-buku yang sangat berat, sampai badan saya pegal semua, saya terus memikirkan bagaimana mendirikan rumah sakit ini,” tambahnya.
Hari itu, di sela-sela acara, saya sempat diajak Prof Shen mojok lama di coffee shop Hotel Renaissance. Dia bercerita mengenai banyak hal. Tiba-tiba dia berdiri. “Maaf, saya harus menghormati orang itu. Tidak ada yang lebih penting bagi saya selain menghormati beliau,” katanya. Lalu, dia berlari ke arah orang tua yang berjalan di lobi. Jalannya sudah agak tertatih-tatih, tapi ada istri yang menggandengnya. Itulah Prof  Wu yang sudah berumur 84 tahun.
Prof Wu ternyata orang pertama di Tiongkok yang melakukan transplantasi hati. Yakni pada 1974, di kota Wuhan, tempatnya mengajar. Bersamaan dengan itu, di hari dan jam yang sama, juga dilakukan transplantasi hati pertama di Shanghai oleh seorang profesor yang juga temannya. “Jadi, saya tidak bisa menyebutkan diri sebagai orang pertama. Yang benar, kami berdualah yang pertama,” ujarnya. Saya memang sempat ngobrol dengan Prof Wu dan memberinya kenang-kenangan buku Ganti Hati yang dalam edisi Mandarin.
Apa hubungan Prof Shen dengan orang tua itu? Kok begitu emosionalnya? “Dia laoshi saya,” ujar Prof Shen. Di Tiongkok, menghormati guru memang luar biasa pentingnya. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: