Investasi Rp 950 M Terkendala Listrik

RADAR PALEMBANG, INVESTASI-Kendala pasokan listrik untuk industri baru memaksa empat investor mancanegara untuk menunda investasinya di Jatim.  Empat investor tersebut berasal dari Taiwan dan Korea Selatan.  Dan sedianya, mereka akan membangun dan mengambil alih masing-masing dua industri sepatu. ’’Sebenarnya, secara total mereka akan berinvestasi sekitar USD 100 juta (sekitar Rp 950 miliar),’’ kata Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprindo) Jatim Eddy Widjanarko kemarin (7/10).


Masing-masing pabrik yang rencananya akan dibangun,menggunakan sistem tiga lines dengan kapasitas produksi masing-masing 200 ribu pasang setiap bulannya. Khusus untuk modal kerja saja mereka harus menyediakan USD 24 juta (sekitar Rp 228 miliar) atau USD 6 juta (sekitar Rp 57 miliar) per pabrik. Ini karena biaya produksi untuk setiap pasang sepatu saat ini mencapai USD 10 (sekitar Rp 95 miliar).
Nah, karena ada kabar kalau listrik untuk perusahaan yang akan berdiri baru dipasok  pada September tahun depan, maka realisasi investasi diundur dari rencana awal pada akhir 2008  menjadi April sampai Juni 2009. ’’Belum ada kepastian hingga kini. Hanya satu investor yang membangun pabrik di daerah Driyorejo, Gresik,’’ terangnya.
Selain listrik, kondisi krisis sekarang juga mengancam pembatalan agenda investasi dari keempat investor itu. Pasalnya, hingga kini belum ada kejelasan pasar sepatu pada tahun depan. Terutama dari negara-negara terdampak krisis. Ini karena salah satu negara tujuan ekspor sepatu dari Jatim adalah Amerika Serikat (AS). ’’Sampai saat ini, permintaan dari pasar mancanegara masih normal. Namun, kami belum mengetahui bagaimana tren demand tahun depan,’’ ucapnya.
Permintaan sepatu sampai bulan Agustus pada industri sepatu di Jatim mencapai 100 juta pasang, atau meningkat 20 persen dibanding tahun lalu. Pasar lokal dan mancanegara masing-masing menyumbang 50 persen dari total permintaa, dengan nilai ekspor mencapai USD 220 juta dan Rp 900 miliar untuk penjualan dalam negeri.
Biasanya order untuk tahun mendatang baru dipesan pada bulan November.  Dan saat ini, industri sepatu di Jatim memang agak kualahan memenuhi pesanan dari mancanegara. Salah satunya karena pasokan listrik yang tidak menentu. ’’Seperti diketahui, beberapa saat lalu kami meminta agar para buyer di luar negeri dapat memahami kondisi kami dengan memberikan toleransi penundaan pemenuhan pesanan sampai dua minggu setelah waktu yang dituangkan adalam kontrak,’’ ujarnya.
Imbas keterlambatan pemenuhan waktu order, pengusaha akan terkena penalti berupa pemotongan pembayaran 0,5 persen dari jumlah total nilai kontrak setiap satu hari keterlambatan. ’’Investor mengkhawatirnkan hal ini akan menimpa perusahaannya,’’ ungkap Eddy.
Lebih lanjut, Eddy khawatir rencana investasi itu akan dibatalkan. Karena jika direalisasikan, hal itu merupakan potensi besar bagi industri sepatu Jatim untuk menggenjot produksi. ’’Kami kini punya peluang ekspor lebih besar. Ini lantaran kini ongkos produksi sepatu di Tiongkok dan negara lain mulai meningkat, otomatis ada peluang pasar yang terbuka untuk dimasuki produsen sepatu asal Indonesia,’’ ungkapnya.(luq/bas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: