BI Rate Naik Lagi

RADAR PALEMBANG, SUKU BUNGA-Pupus sudah harapan pelaku pasar modal untuk mendapatkan insentif dari bank sentral. Ini setelah Bank Indonesia mengumumkan kenaikan BI rate sebesar 25 bps (basis poin) menjadi 9,5 persen.  Keputusan yang diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin itu merupakan kenaikan 25 bps selama enam kali berturut-turut sejak Mei.


Kebijakan bank sentral ini mencerminkan BI lebih memilih stabilisasi angka inflasi daripada memberikan insentif penurunan bunga untuk menggairahkan pasar modal yang sedang terpuruk.
Gubernur BI Boediono mengatakan kenaikan BI rate diputuskan setelah mencermati perkembangan keuangan global dan ekonomi dunia. Juga, meneliti perkembangan di dalam negeri seperti permintaan domestik, prospek neraca pembayaran, dan daya tahan sektor keuangan.
“Ini merupakan langkah untuk menyampaikan kepada para pelaku pasar bahwa BI konsisten kepada strategi pengendalian moneternya yang telah dilakukan saat ini,” kata Boediono dalam jumpa pers usai RDG di kantornya kemarin (9/10). Didampingi Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom, jumpa pers kemarin hanya berlangsung singkat, kurang dari tiga menit.
Kenaikan BI dikawatirkan justru akan memperparah pengeringan likuiditas. Padahal efektivitasnya untuk meredam inflasi masih diragukan. “Kenaikan ini menunjukkan BI belum memandang serius kesulitan likuiditas di sistem perbankan,” kata Chief Economist Danareksa Researh Institute Purbaya Yudi Sadewa kemarin (7/10).
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) A. Erani Yustika mengatakan BI terlalu textbook dalam menerapkan kebijakan moneter. Kenaikan BI rate tidak akan membawa manfaat, karena inflasi sudah tidak bisa diselamatkan. “Ini membuat investasi jadi seret dan krisis menjadi kian dalam. Mestinya BI rate direlaksasi, seperti yang dilakukan bank sentral Australia,” kata Erani.
Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo berpendapat kenaikan BI Rate mencerminkan langkah menaikkan skala pengetatan moneter kita. “Tentu tidak kondusif bagi dunia usaha, karena dengan begitu harga dana atau kredit menjadi lebih mahal,” kata Bambang.
Pendapat berbeda disampaikan ekonom senior Bank BNI Ryan Kiryanto. Menurut dia, kenaikan BI rate tidak akan memperburuk keadaan, karena perbankan dan sektor riil sudah maklum bahwa cepat atau lambat BI akan menaikkan bunga acuan.
“Hanya saja perbankan harus hati-hati dan tidak gegabah ikut-ikutan menaikkan suku bunga simpanan karena akan menggerus laba. Juga, tidak menaikkan suku bunga pinjaman karena bisa menaikkan kredit macet di saat ekonomi yang cukup sulit,” kata Ryan.(sof/fan/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: