Jalur sumbar-Riau Lumpuh Tota


Kelok Sembilan dan Rantau Baringin Dihantam Longsor

RADAR PALEMBANG, LONGSOR-Jalur transportasi darat penghubung Sumbar dengan Provinsi Riau, kembali putus total karena dihantam longsor, dengan panjang dan ketinggian yang berbeda, pada Selasa (7/10) siang.
“Longsor kali ini terjadi di Kilometer 20 dari Kota Payakumbuh, tepatnya di kawasan Kelok Sembilan, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, dan di kawasan Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau,” kata Kapolres Limapuluh Kota AKBP Benny Setyawan kepada Padang Ekspres (grup JPNN) di lokasi longsor.


Khusus untuk longsor yang menghantam kawasan Kelok Sembilan, terjadi sebanyak dua kali, yakni sekitar pukul 14.00 WIB dan pukul 17.30 WIB. Sampai berita ini diturunkan, sejumlah  petugas yang dibekali tiga unit alat berat, masih bekerja keras membersihkan tanah.
Berdasarkan pantauan, longsor di Kelok Sembilan disebabkan batu besar yang  berada di tebing paling atas, tiba-tiba runtuh dan menimbun badan jalan. Untung saja tidak ada pengemudi kendaraan yang ditimpanya. Meskipun demikian, longsor yang menghantam Kelok Sembilan tersebut tetap saja berakibat fatal. Setidaknya lebih dari 800 kendaraan yang rata-rata bermuatan pemudik Lebaran 1429 Hijriah, terjebak dalam antrean panjang.
Diperkirakan, panjang antrean mencapai 6 Kilometer. Mujur saja, sebelum lokasi longsor terdapat puluhan rumah makan dan warung minuman, sehingga para pengemudi kendaraan bisa beristirahat sambil menunggu jalan diperbaiki.
Ketua Satuan Kordinasi Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satkorlak PBP) Limapuluh Kota Irfendi Arbi, optimis, longsor di Kelok Sembilan dapat diatasi.
“Sesuai pembicaraan kami dengan Kapolres, malam ini juga kami yakin longsor di Kelok Sembilan dapat teratasi. Tentu saja dengan do’a, tidak ada lagi longsor susulan,” kata Irfendi Arbi tadi malam.

TELAT PULANG
Masih akibat longsor yang terjadi di Kelok Sembilan, ratusan warga Riau yang baru saja menikmati libur Lebaran di Sumatera Barat, terpaksa harus “telat pulang” ke tanah laskar bertuah.
“Ya, apa boleh buat, jalanan longsor. Lebaran tahun lalu, saya juga mengalami hal begini. Kalau malam ini tidak bisa diperbaiki, alamat akan telat kami sampai di Riau,” kata Andi Malano (42), warga Jalan Tengku Tambusai Riau yang mengaku asal Pariaman. Bukan hanya Andi yang cemas akan telat pulang ke Riau. Sekelompok anak muda yang mudik dengan menggunakan sepeda motor, juga mulai panik.
“Kami sudah berencana, malam ini bisa sampai di Pekanbaru. Karena tadi sebenarnya sudah mulai bekerja. Tapi apa boleh buat, jalan longsor. Mau mutar ke Kiliran Jao, tanggung,”celetuk Edila Deferdo (24).
Kepanikan lebih besar, juga terlihat pada wajah puluhan supir L-300 pengangkut beras, telur, dan sayur mayur dari Sumbar.
“Ondeh mandeh, longsor pulo jalan ko baliak. Lah sansai awak dibueknyo ko mah, batambah pitih kalua,” kata Herman (37), seorang supir asal Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota.
Herman mengatakan, biasanya, setiap kali membawa telur ke Riau, dia sudah punya jatah gaji dan makan yang jelas. Kalau jalanan longsor, tentu jatah gajinya bakal harus lebih diirit. Tiap hari, warga Sumatera Barat memang selalu mengirim komoditi pangan ke Riau. Untuk kabupaten Limapuluh Kota saja, berdasarkan data yang diperoleh dari Wakil Bupati Irfendi Arbi, ada 5 Juta butir telur ayam buras yang dikirim.
“Itu baru telur saja. Kalau nanti dihitung pula puluhan ton beras dan sayur mayur dari berbagai daerah di Sumbar. Coba bayangkan, betapa proses ekonomi akan terganggu,” kata Irfendi Arbi.

TITIK RAWAN
Jalan Sumbar-Riau saat ini memang relatif lebih rawan dengan longsor. Disamping disebabkan curah hujan yang tinggi. Beberapa titik tebing di Kelok Sembilan dan di sejumlah nagari dalam Kecamatan Pangkalan Koto Baru, juga terlihat memerah mulai gundul, misalnya saka di nagari Koto Alam dan di Kelok Sembilan. Masih berdasarkan pantuan wartawan, rata-rata titik rawan longsor Jalan Sumbar-Riau, terdapat di sekitar lokasi penggalian batu.
Penggalian batu ini menurut Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Limapuluh Kota sebenarnya berlangsung liar. Ketika longsor terjadi pada bulan Maret 2008 lampau, Polres Limapuluh Kota sempat meminta warga untuk menghentikan segala aktifitas penambangan batu di pinggir Jalan-Sumbar Riau. Namun sampai sekarang, imbauan tersebut agaknya masih belum terlalu dihiraukan.
Terlepas dari kondisi tersebut, nampaknya para pengemudi kendaraan yang saat ini hendak melewati Jalan negara Sumbar-Riau di Kabupaten Limapuluh Kota, harus pindah atau memakai jalan alternatif lain, yakni melalui Kiliran Jao. Mengapa demikian? Sebab menurut keterangan yang diperoleh Kapolres Limapuluh Kota AKBP Benny Setyawan dari petinggi Polri di Kampar, ruas jalan yang terban di Rantau Baringin, belum bisa diperbaiki dalam dua ataupun tiga minggu ke depan.
“Jadi, kalaupun jalan di Kelok Sembilan yang dihantam longsor bisa dibersihkan malam ini, paling lalu-lintas hanya berjalan lancar sampai di perbatasan Sumbar dengan Riau. Sedangkan di Rantau Barangin, jalan sudah terban lagi,” kata Benny Setyawan yang berada di Kelok Sembilan bersama Kapolresta Payakumbuh AKBP Mahavira Zain. (frv/afi/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: