Krisis AS Ancam Ekonomi Sumsel

Investor Lokal Harus Digairahkan

RADAR PALEMBANG, KRISIS-Krisis ekonomi AS  yang telah merambat ke berbagai belahan dunia,  diprediksi pada enam bulan hingga satu tahun ke depan akan  merembet ke Indonesia, termasuk ke Sumsel.
Krisis tersebut bahkan mengancam perlambatan pertumbuahn ekonomi di Sumsel dari 6,5 persen saat ini menjadi dibawah 6 persen. Prediksi tersebut megemuka disela-sela rapat rutin Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Sumsel kemarin.

Menurut Ketua Kadin Sumsel Ahmad Rizal, krisis subprime mortgage yang sudah berlangsung sejak 2007 lalu dan belum juga teratasi hingga saat ini, meskipun pemerintah AS telah mendapatkan persetujuan konggres mendapatkan dana persetujuan bail out sektor keuangan sebesarUSD 700 miliar, namun diprediksi belum mampu membayar angka kerugian AS saat ini.
“Apalagi seluruh sektor perekonomian AS digerakkan oleh negara-negara tetangga termasuk Indonesia yang ikut mensuplai ekspor hingga 11,5 persen, terbesar dibandingkan negara importir lainya. Ini akan sangat membahayakan bagi negara eksportir seperti Indonesia,’’ urai Rizal.
Ditambah lagi, tandas Rizal, kesiapan iklim investasi lokal yang masih minim sekali sinerginya, akan memperparah kondisi perekonomian tahun depan, jika tak ada tindakan kongkrit dalam waktu dekat. Baik sektor perbankan yang masih enggan melakukan transparsni penyaluran dana, hingga pembebanan  bunga cukup tinggi. Atupun kebijakan BI yang malah menaikan BI rate, juga kesiapan kepastian hukum bagi investor yang ada.
”Jejaring inilah yang bila tidak segera dibenahi, dengan melakukan penyaluran kredit ke sektor produktif seperti investasi, mendukung financing pool khusus membiayai proye-proyek prioritas, maka bakal berdampak pada cash flow sustainability,’’ ungkap Rizal.
Apalagi dikabarkan, saat ini BI mencatat ada pinjaman komersil luar negeri  merupakn institusi asing sebesar USD 83,147 miliar. Ini membahayakan sektor perbankkan bila, tak ada kebijakan sehat segera menyelematkan sektor investasi tingkat lokal.
Apalagi, dampak tidak langsung dari krisis keuangan global ini juga sudah bisa dirasakan, adanya penurunan komoditas utama eksportm seperti beberapa bulan terakhir yaitu Crude Palm Oil (CPO)  dan batubara (Coal) mengalami penurunan harga.
CPO di pasar Rotterdam turun dari harga USD I,207 per metric tonne Juni 2008 menjadi USD 705 per metric tonne di September 2008 lalu. Juga batubara di pasar US Spot Big Sandy  juga turun dari USD 133,5 per short ton pada Juni 2008 menjadi USD 112,5 per short ton September lalu. Volumen eksport mengalami perlmabartan 2,65 persen dari USD 12,9 miliar pada Juni lalu menjadi USD 12,5 miliar di posisi Juli 2008.
“ Makanya, prediksi terjadi kondisi penggerusan besar-besaran enam bulan hingga satu tahun mendatang. Ditandai dengan mulai menurunya repeat order pasar ekspor, juga kemungkinan besar terjadinya gagal bayar untuk kontrak yang masih berlaku,’’ ungkap Rizal.
Bila ini terjadi, tentu imbas ke bawah mulai ke karyawan hingga pergerakan sektor riil akan terus melemah. Apalagi bila lembaga perbankan memang tak merespon kondisi ini, dengan menurunkan suku bunga, juga memprioritaskan kredit investasi. Wah, tambah gawat bagi Sumsel.
Karena itu, masih kata Rizal, pihaknya berharap pemerintah bisa melihat ini dan segera menindaklanjutinya melalui percepatan dana anggaran APBN/APBD, menurunkan pembebasan pajak untuk meningkatkan permintaan domestik, mempercepat proyek infrastruktur, dan juga mengurangu aturan retribusi biaya tinggi di seluruh sektor.
Juga meningkatkan disversifikasi perekonomian sehingga mengurangi ketergantungan pada ekonomi AS dan eropa, melalui peningkatan kerjasama perdagangan dengan negara-negara gulf country  yang sejauh ini belum terlihat terpengaruh dengan kondisi ekonomi AS.
“Terakhir, perlunya pengambilan kebijakan pengambilan upah minium regional (UMR) yang seyogyanya diserahkan kepada hasil perundingan masing-masing perusahaan dan serikat pekerja dengan mempertimbangkan kepetingan ekonomis dan tetap melindungi kepentingan pekerja,’’ pungkas Rizal.
Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumsel, H Yuan Sjamsi MT, mengungkapkan, krisis ekonomi yang dialami Amerika Serikat belum terlalu mempengaruhi perusahaan provinsi ini. Dampak langsung akan dirasakan bagi perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor. Sementara perusahaan yang bergerak dibisnis ini tercatat hanya ada sekitar lima persen saja.
Apalagi, kata dia, secara keseluruhan, negara tujuan ekspor provinsi ini tidak sepenuhnya ke AS melainkan ada negara tujuan lainnya seperti Jepang ataupun Cina yang sampai sekarang belum terimbas krisis tersebut.
Pantauan Apindo sejauh ini terhadap anggota yang berjumlah 480 perusahaan untuk sembilan sektor usaha berbeda serta dengan 180 ribu tenaga kerja, masih terbilang bagus. Penutupan perusahaan serta pemutusan hubungan kerja karyawannya, tidak terjadi. ”Tapi mungkin saja pengaruhnya akan terasa apabila krisis ini terjadi berkepanjangan,” tandas Yuan, kemarin.
Menyikapi tindakan bank sentral yang bakal terus menaikan suku bunga guna mengendalikan gejolak rupiah yang kini kian melemah sekaligus sebagai langkah mengatasi inflasi tinggi, dikatakan dia, menjadi ganjalan bagi pengusaha. Dalam Rakernas Apindo yang digelar beberapa waktu lalu, diharapkan pemerintah menetapkan tingkat bunga acuan yang sifatnya tetap (fixed).
Selama ini, pemerintah menentapkan suku bunga acuan (BI rate) secara mengambang yang menyesuaikan kondisi internasional. Terbukti, kebijakan itu belum mampu diterima bagi perekonomian negara ini. Ekonomi masih belum bisa stabil dan sektor riil sulit bergerak. ”Maunya kami, bunga dibuat pasti tidak mengalami perubahan meskipun situasi luar negeri morat-marit.”
Bunga kredit yang kini ada dikisaran 13-14 persen pertahun, dinilai pengusaha sudah terlalu tinggi. Pengusaha masih bisa menerima apabila rate ada di kisaran 10 persen. Tapi, bukan berarti kini pengusaha tidak bisa mendapatkan kredit perbankan. ”Masih bisa hanya saja tidak bisa leluasa,” ucap Yuan.
Sementara itu bagi perusahaan karet, krisis yang dialami AS ini bakal sangat berdampak, sebab sekitar separuh ekspor karet Sumsel dijual ke negara adikuasa itu. ”Sejauh ini belum ada pengaruhnya, tapi kami khawatir kalau krisis ekonomi terus melanda AS dampaknya akan terasa kemudian, apalagi lebih dari 50 persen ekspor karet masih ke sana,” kata Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Alex K Eddy, belum lama ini.
Meski belum mengetahui pasti kondisi selanjutnya di AS, Alex berharap krisis itu jangan sampai berdampak berlebihan pada volume ekspor. Namun, jika memang krisis selanjutnya sulit untuk diatasi, Gapkindo secara nasional sudah mulai melakukan penjajakan ke pasar negara lain seperti Cina, Jepang, Eropa Timur maupun Eropa Barat.
Diakui dia, perdagangan karet ke Cina sudah dilakukan Gapkindo sejak lama. Tapi transaksi tersebut tidak dilakukan secara langsung melainkan melalui dealer. Belum ada kepercayaan importir Cina untuk langsung berhubungan dengan eksportir negara ini.
Sedangkan ekspor ke Jepang, masih dalam tahap penjajakan Gapkindo pusat. Negeri Sakura itu selama ini menggunakan karet produksi Thailand. Penjajakan yang dilakukan Gapkindo sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Ada tiga pabrik ban yang sudah dijajaki yakni Pabrik Ban Toyo, Pabrik Ban Yokohama, serta Pabrik Ban Bridge Stone.
”Tadinya mereka belum berminat tetapi kini sudah mengenal dan mulai percaya karet kita. Seperti Pabrik Ban Yokohama, tadinya tidak mau tapi sekarang sudah mulai. Begitu pula Pabrik Toyo yang sekarang sudah mulai membeli karet kita meski dalam jumlah terbatas,” jelas Alex. Ekspor setelah AS banyak ke Cina, Jepang dan Eropa Timur.
Ditanya mengenai Arab Saudi yang jadi negara tujuan ekspor selanjutnya, diungkapkan dia, belum dilakukan langsung masih melalui dealer. Selanjutnya, ucap Alex, Gapkindo pusat sudah mencoba lakukan ekspor ke Timur Tengah. ”Negara itukan termasuk negara kaya, kebutuhan karetnya juga tinggi.”
Sementara itu, produksi karet yang dihimpun oleh 24 pabrik dan 23 perusahaan selama Januari hingga Juli 2008 mencapai 360.396 ton, sedangkan tahun 2007 lalu untuk periode yang sama hanya 315.976 ton. Adapun untuk ekspor periode Juli tahun 2007 lalu hanya 299.774 ton sedangkan Juli 2008 naik jadi 315.976 ton.(ayu/ade)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: