Krisis Global, Petani Karet Merasa “KO”

RADAR PALEMBANG, BANYAUSIN – Dampak krisis yang dialami Amerika Serikat (AS), mulai mempengaruhi harga komoditi karet sebagai salah satu sektor andalan ekspor indonesia. Penurunan harga akibat dari penurunan demand dari negara eksportir pun mulai dirasakan petani di pedesaan di Kabupaten Banyuasin secara signifikan.


Seminggu pascalebaran, harga karet mengalami penurunan hingga menyentuh level Rp 5000 per Kg dari harga sebelumnya sebesar Rp 8000 per Kg khusus untuk karet basah. Penurunan juga dialami oleh karet kering dengan waktu tunda jual satu minggu sebesar Rp 2.500, dengan ketetapan harga jual kepada para tauke sebesar Rp 8.000 per Kg dari harga sebelumnya sebesar Rp 10.500.
Penurunan harga karet di atas angka 30 persen tersebut membuat para petani kaget dan menjerit. Pasalnya, penurunan itu sangat mempengaruhi pendapatan dari hasil penjualan karet para petani. Bahkan, penurunan pendapatan bisa saja hingga d iatas 40 persen dari pendapatan harga normal.
Seperti yang diungkapkan Muhadi, warga Pangkalan Balai Kabupaten Banyuasin. Menurutnya, penurunan harga tersebut membuat para petani terpukul. Apalagi, penurunan terjadi sekaligus dengan angka yang sangat besar. Penurunan karet secara tiba tiba dengan angka yang cukup besar tersebut merupakan sejarah terburuk penjualan harga karet bagi para petani. Pasalnya, selama puluhan tahun bertani karet, penurunan tidak pernah melebihi angka 30 persen atau terjadi secara berangsur.  Namun yang dirasakan petani satu minggu pasca lebaran telah merontokan sendi sendi perekonomian masyarakat petani karet di Kabupaten Banyuasin.
“Ini mungkin sejarah terburuk harga penjualan karet di Kabupaten Banyuasin. Harga karet memang selalu naik turun dalam kurun waktu tertentu, tapi penurunan hingga Rp 3.000 per kilogramnya baru kali ini terjadi dan hal tersebut membuat para petani kaget,” terangnya.
Hal yang sama juga diungkapkan Sudarto, salah satu juragan karet di wilayah Pangkalan Balai. Pihaknya mengaku kaget mendengar tingginya penurunan harga karet dari harga biasa. Bahkan, lanjut Sudar, penurunan tersebut dinilai terlalu memberatkan para petani dan penurunan terbesar sepanjang sejarah penjualan harga karet di wilayah Banyuasin.
“Penurunan  kali ini sangat besar dan dampaknya luar biasa pada kehidupan para petani karet. Harga karet sejak beberapa minggu kemaren memang selalu fluktuatif, tapi kali ini petani karet kalah dengan hantaman penurunan harga tersebut,” terang Sudar.
Saat ditanya kenapa pabrik menurunkan harga tersebut, Sudarto menjelaskan, informasi yang didapat dari pihak pabrik, penurunan harga tersebut lantaran dipengaruhi memburuknya perekonomian dunia akibat dari resesi yang dialami oleh AS sejak beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut, lanjut Sudarto mempengaruhi angka ekspor karet sebagai salah satu komoditi andalan eskpor indonesia, dan secara langsung saat demand mengalami penurunan maka harga akan anjlok sesuai dengan hukum pasar.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Banyausin,  Ali Imron mengungkapkan, penurunan harga karet memang dipengarui oleh pasar global yang salah satunya juga dipengaruhi oleh memburukan perekonomian AS sebagai salah satu negara importir karet indonesia. Saat permintaan mengalami penurunan, maka di sana  akan berlaku hukum pasar berupa penurunan harga. (qen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: