BI Terus Berada di Pasar

RADAR PALEMBANG, MONETER- BANK Indonesia (BI) akan terus berada di pasar untuk menjaga agar pergerakan nilai tukar rupiah tidak terlalu tajam. Cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat untuk mempertahankan nilai tukar rupiah di tingkat yang wajar.
”BI tetap berada di pasar apabila dibutuhkan, dan juga disesuaikan dengan pergerakan di dunia,” kata Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom di kantornya kemarin (8/10). Meski sempat merosot tajam Selasa (7/10) lalu, bank sentral beranggapan nilai tukar masih berada pada ambang wajar. Ini karena jika dibandingkan dengan posisi awal tahun, depresiasinya baru mencapai 2 persen.


Miranda mengatakan cadangan devisa Indonesia masih dalam batas aman.
Karena masih setara dengan 4,5 bulan impor. ”Cadangan devisa kita masih sangat memadai,” kata Miranda. Namun dia tak bersedia menyebut nominal cadangan devisa secara terbuka.
Perkembangan nilai tukar rupiah akan terus dipantau, karena akan langsung memengaruhi inflasi. JIka terjadi pelemahan, kenaikan harga barang-barang ini ditransmisikan melalui impor. ”Kebijakan stabilisasi rupiah juga diperlukan untuk menghindari gejolak pasar yang berlebihan.
Berbeda dengan saham yang anjlok drastis, rupiah pada perdagangan kemarin hanya menurun tipis sekitar 35 poin ke posisi 9.595 per USD. Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan BI tidak pernah menargetkan nilai tukar rupiah. Namun yang terpenting adalah menjaga volatilitasnya.
Nilai tukar rupiah juga tidak anjlok lagi karena asing masih mengoleksi SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dalam jumlah besar. Menurut Budi, kepemilikan asing atas SBI masih sekitar Rp 20 triliun.
Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR Dradjad Hari Wibowo mengatakan kempuan BI untuk menahan nilai tukar rupiah saat ini tidak terlalu besar. Sehingga dia memperingatkan agar BI tidak memaksakan diri membuat nilai tukar menguat. Pelemahan nilai tukar rupiah, bisa saja digunakan untuk meningkatkan daya saing ekspor. Yang terpenting BI bisa menjaga agar volatilitasnya tidak terlalu lebar.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ikhsan Mojo mengatakan BI tidak bisa menggunakan ukuran tradisional kebutuhan bulan impor untuk mengukur cadangan devisa. Sebab dalam satu krisis, pergerakan kurs dan pelarian modal akan sangat cepat dan menyebabkan tergerusnya nilai riil dari cadangan devisa secara instan.
Dalam kasus Indonesia, hal ini ditambah dengan fakta bahwa separuh cadangan devisa didenominasikan dalam aset dolar AS, seperti US Treasury bond yang saat ini nilainya terus tertekan. ”Sehingga salah kaprah jika dikatakan cadangan devisa Indonesia aman,” kata Ikhsan. (sof/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: