ITB harumkan Indonesia


Raih Penghargaan di Kompetisi Pesawat Tak Berawak Korsel

RADAR PALEMBANG, PRESTASI-Pelajar Indonesia kembali mencatatkan prestasi emas di tingkat Internasional. Hal itu setelah tim Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih penghargaan khusus dalam Kompetisi Pesawat Terbang Robot Korea ke-7 yang digelar mulai 27 September silam di Negeri Ginseng tersebut.


’’Semula lomba itu hanya diikuti tim lokal. Baru tahun ini mereka mengundang tim luar negeri. Selain Indonesia, India dan Taiwan juga mengirim wakilnya meski tim Taiwan gagal dalam evaluasi teknik,’’ ujar ketua pembimbing tim ITB Prof. Dr. Ir. Muljowidodo kepada Jawa Pos kemarin.
Pada kompetisi kelas dunia itu, dia menjelaskan Indonesia mengirim dua regu yakni Tim Kumbang dengan pesawat helikopter dan Tim Garuda dengan pesawat bersayap tetap.’’Dua tim ini dikelola keroyokan oleh sembilan orang,’’ ujar Muljowidodo.
Yang mendapat penghargaan adalah Tim Garuda yang memenangkan Special Prize Katagori Best Image System. Mereka gagal menjadi juara umum, kata Muljowidodo, karena terbentur kendalaa kegagalan menyelesaikan satu dari empat misi yang dilombakan. ’’Tapi kami belajar banyak dari kompetisi tersebut sehingga dapat dijadikan modal untuk bersaing dengan lebih matang di kompetisi serupa,’’ tegas dia.
Dalam pertandingan itu, robot pesawat karya mahasiswa itu harus melakukan empat hal yakni menjatuhkan obyek ke target, mengenali target dan lokasi, memotret, dan mencari boneka di laut. Selama pertandingan, pesawat harus bekerja sendiri secara otomatis, tidak dikendalikan sama sekali.
Dari empat misi itu, kata Muljowidodo, obyek yang dijatuhkan Tim Garuda kalah dekat dari target dibanding pesaingnya. Dalam misi mencari boneka di laut, tim ini malah gagal sama sekali. Selain kondisi cuaca dan angin kencang di lokasi pertandingan, Muljowidodo juga menunjuk bahwa timnya kehabisan waktu. Setiap tim hanya mendapat jatah 40 menit untuk seluruh misi. ’’Padahal pada sepuluh menit pertama saja, kami masih melakukan pengaturan awal seperti memasukkan data ke komputer, dan persiapan lain,’’ ujarnya.
Meski gagal menyabet juara umum, Muljowidodo tidak terlalu kecewa karena tim Indonesia cukup mandiri teknologinya. Bentuk rancangan pesawat tak berawak, sistem kendali, sistem sensor, serta stasiun darat yang digunakan dirancang sendiri. ’’Kami tidak menggunakan komponen yang dapat dibeli di pasaran seperti yang dilakukan tim lain,’’katanya.
Guru besar ITB di bidang robot ini optimis, rancangan robot Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara lain. Untuk membuktikannya, ITB akan mengirim tim lagi di kompetisi Micro Aircraft Vehicle di Spanyol tahun depan. Bahkan, ’’Kami juga akan menggelar kompetisi serupa tapi untuk jenis kapal selam,’’ ujarnya. (zul/JPNN)

Satu Tanggapan

  1. thanks ya atas infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: