Jaksa Sebut Aulia Melawan Hukum

Burhanudin  Dituntut 8 Tahun

RADAR PALEMBANG, KASUS BLBI-Upaya Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah untuk bisa lepas dari jerat hukum makin berat. Kemarin Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan lanjutan di Pengadilan Tipikor menuntut mantan Menko Perekonomian itu dengan tuntutan delapan tahun penjara.


Burhanuddin dinilai secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi seperti yang diatur dalampasal 2 ayat 1 juncto pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jucto pasal 55 ayat 1 ke -1 KUH Pidana. Selain hukuman pidana, Burhan juga dituntut hukuman denda  Rp 500 juta. Yang meringankan, Burhanuddin dianggap tak memperkaya diri dengan tindakannya itu.
Yang menarik, tuntutan itu  menyebutkan bahwa Burhanuddin bersama-sama dengan Oey Hoey Tiong dan Rusli Simanjuntak (kedua perkara diajukan ke persidangan secara terpisah) bersama-sama dengan Dewan Gubernur BI lainnya, yakni Aulia Tantowi  Pohan, Bun Bunan Hutapea, Aslim Tadjudin telah secara melawan hukum memperkaya orang lain, yaitu dengan memberikan uang bantuan hukum senilai Rp 68,5 miliar terhadap para mantan pejabat BI, yakni  Paul Soetopo (Rp 10 miliar); Hendro Budiyanto (Rp 10 miliar); Heru Soepraptomo (Rp 10 miliar); Iwan R Prawiranata (Rp 13,5 miliar) dan Soedrajad Djiwandono (Rp 25 miliar).
Bukan hanya itu. Para anggota Dewan Gubernur, termasuk Aulia dan Burhanuddin juga disebutkan bertanggungjawab dalam pengucuran dana kepada anggota DPR RI, Antony Zeidra Abidin dan Hamka Yandhu, senilai Rp 31,5 miliar.
Jaksa KMS A. Roni menyebutkan bahwa pemberian dana tersebut tidak berdasarkan prinsip kehati-hatian. Burhan juga dinilai tidak melakukan pemantauan dan pengawasan sebagaimana prinsip akuntabilitas publik.
Penyebutan nama Aulia Pohan dalam surat tuntutan pidana Burhanudin tersebut juga menjawab keraguan tentang peran besan Presiden SBY tersebut. Dalam persidangan kasus aliran dana BI, tersebut nama Aulia kerap kali disebut berada di balik skandal yang merugikan negara miliaran rupiah itu. Namun pensiunan pegawai BI status hukum pensiunan pegawai BI tersebut masih saja belum terang.  Dengan sebutan melawan hukum itu, KPK tinggal menagih pertanggungjawaban hukum terhadap Aulia. Apalagi, Ketua KPK Antasari Azhar sebelumnya menjanjikan tidak akan melewatkan fakta hukum yang mencuat di persidangan. Bahkan, Antasari pernah mengungkapkan akan meminta pertanggungjawaban kepada siapapun yang  bersalah.
Dalam surat tuntutan yang dibacakan secara bergantian tersebut, JPU membeber kesalahan Burhan. Peran Burhan tersebut bermula saat menyetujui pertemuan Rusli Simanjuntak dengan beberapa anggota DPR, di antaranya Antony Zeidra Abidin, Daniel Tanjung dan Amru Al Mu’tasyin di beberapa hotel di Jakarta, pada Mei 2003. Pertemuan tersebut membahas hal-hal yang terkait dengan penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Awalnya, ketika itu ada permintaan dana Rp 40 miliar. ”Dalam rangka pemenuhan kebutuhan dana, terdakwa meminta Oey Hoey Tiong untuk mencari dana di yayasan di bawah naungan Bank Indonesia,” jelas KMSA Roni. Namun semua yayasan tak bersedia memberikan dana untuk kepentingan itu.
Selanjutnya, Burhanuddin bersama para anggota dewan gubernur lain termasuk Aulia mengadakan rapat yang isinya memutuskan kepada dewan pengawas untuk menyediakan dana yang diperlukan BI. Tahap pertama, dewan meminta pengucuran dana Rp 100 miliar. Aulia dan Bun Bunan Hutapea juga diperintahkan untuk membicarakan penarikan dana yayasan tersebut dengan pengurus Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI).
Namun dengan disposisi 7 Juli 2003, Burhanuddin juga mengizinkan pemberian bantuan dana yang sebesar Rp 25 miliar yang sebelumnya dimohonkan Soedrajad Dijiwandono. Disposisi tersebut dibuat untuk Aulia dan Maman H Somantri, secara berturut-turut Burhanuddin juga mengeluarkan disposisi serupa untuk empat mantan pejabat BI lainnya.
Roni menambahkan, bahwa pencairan dana Rp 100 miliar tersebut tidak melalui mekanisme yang lazim yaitu tidak dicatatkan dalam pembukuan neraca BI, demikian juga dalam pembukuan Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) dihapus bukukan.
Dia juga mengungkapkan bahwa Burhanuddin mengetahui penghapusan harta kekayaan YPPI sebesar Rp 100 miliar dari neraca yayasan. ”Caranya terdakwa memberikan kuasa kepada Maman H Somantri untuk melakukan perubahan akta dan nama yayasan menjadi YPPI, sekaligus perubahan anggaran dasar,” ucapnya. Karena terkuras Rp 100 miliar, kekayaan yayasan berkurang hingga menjadi Rp 174,8 miliar.
Setelah ada temuan ketekoran neraca yayasan dari BPK, Burhanuddin selanjutnya mencari alternative penyelesaian pengembalian dana YPPI dengan membuat akta pengakuan utang terhadap 5 mantan pejabat BI. ”Ini terlihat dari print out laptop Soedrajad. Kalau belakangan menjadi hutang, Soedrajad tak akan mengajukan bantuan karena tak sanggup membayar lagi,” jelasnya.
Menanggapi tuntutan itu, Burhanuddin tak banyak memberikan jawaban. Dia mengungkapkan akan menangkisnya dalam pembelaan. ”Kita lihat saja lagi dalam pembelaan,” ujar Burhanuddin usai persidangan.
Sementara kuasa hukum Burhanuddin M Assegaf mengungkapkan bahwa tuntutan hukum yang diberikan JPU tersebut sangat kelewatan. ”Tuntutan itu sama sekali tak memperhitungkan jasa terdakwa yang mengangkat rupiah dari keterpurukan yang seharusnya setidaknya meringankan,” jelasnya.
Assegaf juga mengungkapkan bahwa jaksa telah membangun opini yang menyesatkan. Ini bisa dilihat bahwa peran Burhanuddin begitu ditonjolkan. ”Padahal semua keputusan tersebut melalui rapat dewan gubernur,”jelasnya. Bahkan munculnya disposisi juga mengacu keputusan rapat.
Pengacara senior itu juga menjelaskan bahwa rapat tersebut hanya persoalan kebijakan saja. ”Selaku gubernur Pak Burhanuddin tidak tahu menahu mengenai pelaksanaan di bawah,” jelasnya. (git/JPNN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: