Pasar Modal Stop Transaksi

RADAR PALEMBANG, BURSA SAHAM-Pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terperosok makin dalam dan menjurus tidak rasional. Otoritas BEI akhirnya menghentikan perdagangan saham mulai pukul 11.08 JATS, karena indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 10,38 persen. Penurunan harga menjurus tidak wajar karena karena nilai transaksi hanya Rp 952,165 miliar. IHSG kemarin anjlok 168,52 poin ke posisi 1.451,669. Ini adalah indeks terendah sejak September 2006.


Dirut BEI Erry Firmansyah mengatakan dengan nilai transaksi yang hanya Rp 952,165 miliar, penurunan harga sudah sangat irasional. BEI akan terus memeriksa transaksi yang terjadi kemarin sebelum perdagangan dihentikan. ”Tapi masih belum bisa dipastikan apakah ada transaksi ilegal,” kata Erry di Jakarta kemarin (8/10).
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom mengatakan dalam kondisi pasar seperti saat ini, otoritas dan regulator tidak bisa membiarkan mekanisme pasar mengatur harga saham. ”Jadi harus dihentikan sementara, untuk memberi kesempatan pasar mempertimbangkan keputusan secara rasional,” kata Miranda.
Harga saham-saham papan utama kemarin menunjukkan kemerosotan cukup dalam, sehingga terkena auto rejection. Saham PT Indosat Tbk (ISAT) terjun bebas hingga Rp 1.200 atau 23,3 persen menjadi Rp 3.950. Kemudian PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) turun Rp 1.750 (25 persen) menjadi Rp 5.250. Lalu, PT Astra Internasional Tbk (ASII) anjlok Rp 3.200 (20 persen) menjadi Rp 12.800.
Investor domestik mulai panik karena asing sudah mulai melepas aset-aset rupiahnya untuk membeli dolar. Terlebih, ada rekomendasi negatif dari JPMorgan Chase & Co, salah satu bank terbesar AS, untuk menjauhi surat utang Indonesia. Ini membuat makin panik.
”Kalau di perdagangan kemarin, yang net-sell justru investor domestik,” kata Analis PT Optima Securities kemarin.
Analis PT Bhakti Capital Budi Ruseno mengatakan pasar domestik saat ini terus panik dan terpengaruh oleh sentimen global. ”Jadi wajar kalau otoritas bursa memberikan kesempatan kepada investor agar tidak panik lagi dengan suspensi,” kata Budi.
Dalam jangka menengah, Budi optimistis harga bisa rebound. Ini karena kinerja perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa masih cukup baik. Begitu pula dengan situasi makroekonomi yang masih kondusif.
Direktur Nikko Securities Adler H. Manurung mengatakan, penghentian perdagangan sebaiknya dilakukan pada saat close market sesi I. ”Sebab, kalau suspense dilakukan di tengah jalan seperti tadi siang, justru akan merusak bursa. Ini patut disesalkan,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.
Menurut Adler, jika otoritas bursa ingin mengkondusifkan pasar, maka setiap langkah yang diambil harus benar-benar menenangkan pasar. ”Nah, kalau seperti tadi justru merusak integritas bursa,” katanya.
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil mengatakan, langkah suspense tersebut merupakan tanggung jawab BEI untuk meng-kondusifkan pasar modal dan meredam kepanikan pelaku pasar. ”Supaya kepanikan berkurang dan agar orang (investor, Red) bisa berpikir ulang,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN kemarin (8/10).
Menurut Sofyan, yang hingga kemarin menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani yang tengah dalam lawatan ke luar negeri, langkah suspense oleh BEI didasarkan pada pertimbangan teknis setelah berkonsultasi dengan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bappepam-LK). ”Sebab, kalau harga (Indeks Harga Saham Gabungan, Red) turun sampai 10 persen, maka mereka bisa melakukan suspense,” katanya.
Sofyan mengatakan, kondisi pasar modal Indonesia memang harus dicermati secara komprehensif untuk melihat detil berbagai aspek yang menggerakkan pasar. ”Saya melihat ada irregularities (hal yang tidak biasa/wajar, Red),” ucapnya.
Dia menilai, anjloknya pasar modal di Indonesia dipicu oleh kepanikan pelaku pasar yang berlebihan, sehingga di luar kewajaran. Pasalnya, penurunan pasar saham lain di luar negeri, tidak separah Indonesia karena hanya di kisaran 2 – 4 persen.
Dia menambahkan, meski tidak dalam irregularities atau dalam kondisi biasa pun, banyak negara yang juga sudah melakukan suspense perdagangan bursanya. ”Misalnya, Rusia sudah men-suspense lebih dari 2 – 3 hari,” terangnya.
Ditanya terkait kemungkinan kapan bursa bisa kembali dibuka, Sofyan mengatakan, tindakan suspense tergantung banyak hal, sehingga perlu dilihat secara komprehensif. ”Kalau mau kembali dibuka, tentu harus ada koordinasi seluruh stakeholder pasar modal,” paparnya.
Namun, langkah otoritas bursa yang menghentikan perdagangan pada saat sesi I masih berjalan (pukul 11.08 WIB), dinilai pengamat justru kontraproduktif.
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa menilai pemerintah bertindak terlalu reaktif terhadap krisis keuangan yang sedang dialami Amerika Serikat. Salah satu hal yang disesalkan pengusaha adalah keputusan Bank Indonesia menaikkan BI rate hingga 25 basis poin. “Dalam kondisi seperti ini pemerintah seharusnya fokus meningkatkan daya saing sektor riil. Bukan ngurusi pasar modal terus,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah tidak perlu mengkhawatirkan pasar modal karena fundamental emiten-emiten dalam kondisi yang baik. Apalagi investor di beberapa emiten sektor telekomunikasi dan pertambangan dalam 1-2 tahun ini mendapatkan windfall profit yang tinggi. “Kejatuhan pasar modal ini tidak perlu ditanggapi reaktif. Representasi ekonomi Indonesia bukan di IHSG. Bukan hanya dari yang listed itu saja tapi juga UKM (Usaha Kecil Menengah) juga harus dijaga,” lanjutnya.
Erwin menilai pasa modal akan kembali membaik dengan sendirinya, sebab harga saham sekarang ini sangat murah. Dengan begitu, investor yang tadinya menarik dana akan kembali melakukan pembelian. “Ini pasti akan terkoreksi lagi. Dana yang sudah keluar pasti measuk lagi. Kan memang di pasar modal itu dananya hot money jadi tidak perlu dikhawatirkan. Biarkan berjalan sesuai mekanisme pasar. Menahan pasar modal itu seperti menggarami air laut,” cetusnya.
Menegnai melemahnya kurs rupiah, Erwin menilai hal itu sesuatu hal yang wajar. Sebab saat ini banyak investor yang memburu dolar sehingga nilainya naik. Jadi menurut dia, pemerintah tidak perlu melakukan intervensi terlalu dalam. Memang para pengusaha berharap rupiah tetap bertengger di kisaran Rp 9000-9500 tapi itu bukan harga mati.”Kalau ada yang bilang batasnya Rp 10.000 itu kan politis. Kalau kita yang penting jangan naik turun secara mendadak saja,” jelasnya. Langkah otoritas bursa untuk mencegah semakin terjerumusnya indeks pasar modal disikapi beragam. Sebagian menilai bahwa langkah tersebut tepat untuk mencegah investor melakukan aksi panic selling. Namun demikian, langkah tersebut juga beresiko membuat investor semakin khawatir untuk menempatkan dananya di Indonesia.
Ketua Panitia Anggaran DPR Emir Moeis mengemukakan bahwa disuspennya Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa berlanjut pada kepanikan pasar yang akhirnya membuat investor lari ke pembelian mata uang asing.
“Ini karena pilihan untuk beralih ke sektor riil belum menjanjikan dan makan waktu. Selain itu saham dan surat berharga internasional juga masih tergunang akibat krisis di Amerika,” lanjutnya.
Larinya modal ke luar negeri membuat Bank Indonesia harus terus melakukan intervensi bahkan menaikkan kembali BI Rate. “Kalau sudah begini, maka sektor riil negara akan terganggu yang akan berdampak pada pertumbuhan dan kesejahteraan sosial. Mudah-mudahan krisis ini segera berakhir,” paparnya. (sof/owi/wir/iw)

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan pemeriksaan intensif terhadap anomali transaksi perdagangan saham yang terjadi hari ini, Rabu (8/10/2008). Sebab, nilai transaksi hari ini hanya sebesar Rp 952,165 miliar, namun IHSG anjlok hingga 10,38%.
“Kami akan melakukan pemeriksaan atas anomali transaksi hari ini. Masih belum bisa dipastikan apakah ada transaksi ilegal. Namun jika melihat nilai transaksi hari ini yang hanya sebesar Rp 952 miliar, sedangkan IHSG anjlok hingga 10,38% sangat irrasional,” ujar Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah dikantornya, SCBD, Jakarta, Rabu (8/10/2008).
Pada perdagangan Sesi I hari ini, IHSG anjlok tajam 168,52 poin (10,38%) ke level 1451,669  dari penutupan kemarin di level 1619,721. Oleh karena itu, BEI melakukan suspensi pada pukul 11.06 WIB. Suspensi juga dilakukan pada Sesi II hari ini.
“Untuk kemungkinan dilakukan suspensi pada perdagangan besok, kami akan melakukan pembicaraan dulu dengan Bapepam dan Departemen Keuangan,” ujar Erry.
“Diduga ada segilintir investor yang melakukan short sell terhadap saham-saham ini meski BEI sudah melarang short sell selama Oktober ini,” kata seorang pelaku pasar, Rabu (8/10/2008).
Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk menutup perdagangan saham pada sesi I mulai pukul 11.08 WIB karena hancurnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 10,38%.

Ketika perdagangan saham ditutup pukul 11.08 JATS, Rabu (8/10/2008) IHSG merosot tajam hingga 168,052 poin atau 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Posisi IHSG ini merupakan terendah sejak September 2006.

Transaksi saham yang dicatatkan sebelum bursa disuspensi, sebanyak 27.494 kali dengan volume 1,129 miliar unit saham senilai Rp 988 miliar. Hanya 6 saham yang naik harga, selebihnya 171 saham anjlok dan 9 saham stagnan.

“Penutupan pasar ini untuk mencegah kejatuhan saham lebih lanjut dan menenangkan pelaku pasar,” kata Direktur Perdagangan BEI MS Sembiring, Rabu (8/10/2008).

IHSG juga mencatat penurunan terburuk dibanding bursa-bursa dunia lain yang hanya turun 4-5%.

Indeks Hang Seng turun 5,44%, Seoul turun 3,54%, KOSPI turun 3,42%, Nikkei turun 4,54%, STI Singapura turun 3,84% dan Taiwan turun 4,34%.

Saham di Australia turun 4,04% dan dibelahan Eropa FTSE pada 7 Oktober malah rebound 0,35%, Xetra Dax turun 1,12%.

Sementara saham-saham di Eropa masih belum buka, sedangkan Dow Jones pada penutupan 7 Oktober 2008 hanya turun 5,11%. Arab Saudi turun 7% pada 7 Oktober 2008.

Kekacauan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia ini karena aksi jual investor asing yang terus berlanjut. Investor asing berburu likuiditas karena di negara asalnya sedang kekeringan likuiditas.

Adanya pernyataan dari JP Morgan Chase untuk menghindari surat utang di Indonesia makin membuat investor menjauhi IHSG.

Sementara kasus gagal bayar Danatama dan disuspensinya 6 saham kelompok Bakrie makin menambah rentetan sentimen negatif di pasar.

Saham-saham yang jeblok harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 700 menjadi Rp 6.450, Indosat (ISAT) turun Rp 1.200 menjadi Rp 3.950, Antam (ANTM) turun Rp 110 menjadi Rp 1.050 dan Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 1.750 menjadi Rp 5.250.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: