Ekonomi Memburuk, SBY Masih Favorit


Popularitas Prabowo Naik karena Iklan

RADAR PALEMBANG, POLITIK- Nama Susilo Bambang Yudhoyono masih yang paling populer sebagai capres 2009. Namanya masih unggul dari mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Itulah hasil survei National Leadership Center (NLC) dan Taylor Nelson Sofers (TNS) yang dipublikasikan, Kamis (9/10).

Survei tersebut dilakukan pada 15-26 September 2008. Popularitas SBY mencapai 34 persen. Persentase tersebut meningkat tujuh persen dibanding hasil survei Juli lalu, yakni 27 persen.

Sementara itu, popularitas Megawati Soekarnoputri hanya 22 persen. Di posisi ketiga ada Prabowo dengan 15 persen. Mantan Danjen Kopassus tersebut populer karena iklan yang gencar. Posisi Prabowo berada di atas Sri Sultan dan Wiranto yang masing-masing mendapat empat persen.

”Kami melihat melejitnya Prabowo disebabkan iklannya yang menyentuh, tidak filosofis, dan mudah dicerna,” ujar Presiden Direktur NLC Taufik Bahaudin. Menurut dia, selain Prabowo, salah seorang yang akan menjadi kuda hitam dalam pilpres 2009 adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Survei yang dilakukan NLC dan TNS juga menanyakan kepuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini. Mereka ditanya perbandingan situasi ekonomi saat ini dengan tahun lalu. Di antara 2.000 responden, 39 persen menjawab lebih buruk. Hanya 27 persen yang menjawab lebih baik dan 34 persen menyatakan sama saja.

Hasil survei tersebut mencerminkan dua fakta yang berlawanan. Ketika mayoritas masyarakat merasa kondisi ekonomi lebih buruk, popularitas SBY justru meningkat. Menanggapi hasil survei yang bertolak belakang tersebut, Taufik Bahaudin memaparkan, hal itu merupakan realitas mayoritas pemilih di Indonesia. Mereka sangat memisahkan figur dengan institusi yang dipimpinnya. ”Mereka memisahkan antara SBY dan pemerintah. Mereka tidak memilih Megawati karena PDIP-nya,” tegasnya.

Menurut dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut, mayoritas pemilih kita masih memisahkan rasionalitas dengan emosional. Jika mereka sudah mendukung idolanya secara emosional, faktor rasional sudah tidak dipertimbangkan.

Karena itu, dengan survei dan pendidikan politik masyarakat melalui media massa, Yanti Zein dari TNS berharap calon pemilih mampu berpikir secara rasional dalam menentukan pilihan. Sebab, kualitas figur yang terpilih mencerminkan kualitas pemilih.

Survei NLC dan TNS itu menggunakan metode random sampling melibatkan 2.000 responden yang tersebar di 30 provinsi. Tingkat kepercayaannya mencapai 95 persen dan sampling errors 2,5 persen.

NLC merupakan lembaga nonpartisan yang memperhatikan pengembangan dan perbaikan kepemimpinan. Didirikan oleh 10 tokoh akademisi, pengusaha, dan militer. Dua purnawirawan di antaranya adalah mantan Kapuspen (Pusat Penerangan) TNI Marsekal Muda (pur) Graito Usodo dan Kolonel (pur) Nono Kadyono, mantan kepala Sub-Unit Psikologi Mabes TNI. (cak/JPNN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: