Mengenal Bela Diri Asal Cina (3)

Butuh Keuletan dan Dukungan

Walaupun cukup diminati namun mempelajari kungfu atau wushu bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh proses yang tidak dapat dilakukan dalam sekejap. Oleh karena itulah tidak perlu heran jika orang yang menguasai salah satu cabang olah raga tersebut kian hari kian menyusut

Iriansyah.b- palembang

Di era digital ini, dimana semuanya serba instant, banyak orang yang juga menerapkan sistem secepat kilat dalam belajar termasuk berlatih kungfu. Sayangnya cara ini amatlah tidak tepat dan keliru besar. Karena untuk mendapatkan hasil yang benar dan tepat diperlukan proses.
Prosesnya juga tidak dapat dilakukan dalam sekejap. Dengan berlatih secara tekun dan intensif,  paling cepat, diperlukan waktu dua sampai tiga tahun baru dapat menguasai kungfu. Hal lain yang turut membuat kerancuan ialah menjamurnya berbagai “aliran” baru dalam kungfu.
Padahal, aliran-aliran besar yang ada sampai sekarang, merupakan suatu sistem yang diciptakan oleh para guru besar yang diakui oleh masyarakat dan telah teruji sepanjang sejarahnya. Jadi bukan suatu aliran yang dibuat oleh individu-individu yang merasa dan menganggap dirinya sebagai guru besar.
Menurut harun salah seorang warga Tionghoa yang juga sempat mempelajari ilmu beladiri tradisional tersebut, wushu sebenarnya masih ada namun tidak berkembang. Karena dukungan dari pemerintah terhadap cabang olah raga ini kurang maksimial dibandingkan dengan cabang olah raga lainnya.
“Orang yang bisa kunfu sebenarnya masih banyak terutama yang tua-tua, tetapi karena kurang banyak kegiatan maka keberadaan mereka tidak terekspos luas, “ ujarnya.
Dijelaskannya, cabang dari wushu sendiri sebenarnya cukup banyak mulai dari tongkat, pedang, toya dan tombak. Semuanya sama namun memiliki keunggulan yang berbeda-beda. Diceritakannya, beberapa tahun lalu, dirinya masih sempat merasakan bagaimana belajar wushu tersebut. “ Saya sempat belajar, tetapi itu dulu sekarang sudah tidak lagi, “ terangnya.
Saat itu, sambungnya ada satu nama yang cukup terkenal kala itu, namanya Ko Jio yang tinggal di kawasan sekip. “Ia cukup terkenal, bahkan sebagian besar warga Tionghoa kala itu mengenalnya. Namun sekarang saya tidak tahu lagi, masih atau tidak, “ pungkasnya seraya mengatakan kalau sebenarnya wushu dapat berkembang jika pemerintah memberi dukungan penuh. (**/tamat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: