BEI Stop Transaksi, Rugi Rp 77 Miliar

RADAR PALEMBNG,BEI- Tutupnya transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) memang menghindarkan indeks saham jatuh lebih dalam. Namun tutupnya transaksi juga membuat SRO (self regulatory organization) dan perusahaan efek rugi operasi. Dari kalkulasi Jawa Pos (Group RADAR PALEMBANG)  kerugian akibat penghentian transaksi sejak Rabu (8/10) pukul 11.06 lalu, sedikitnya mencapai Rp 77 miliar.

Dari mana angka Rp 77 miliar itu? Ini dari hasil penghitungan nilai transaksi rata-rata harian dikalikan dengan fee transaksi. Fee yang tidak diterima selama tutup trading itulah yang menjadi potensi rugi bagi BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan anggota bursa.

Rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp 5 triliun. Sedangkan transaksi pada Rabu (8/10) hingga pukul 11.06 mencapai hampir Rp 1 triliun. Total fee transaksi maksimal jual dan beli adalah 0,7 persen. Dari pengalian Rp 11 triliun (nilai transaksi 2,5 hari) dengan 0,7 persen itulah diperoleh angka Rp 77 miliar.

Namun pelaku pasar modal menganggap potensi rugi ini tidak ada artinya dibandingkan dengan kerugian akibat merosotnya indeks jika bursa tetap buka. “Masih ada kepentingan yang lebih besar daripada sekadar menghindari potensi kerugian tersebut,” kata Leo Herlambang, direktur PT Jatim Investment Management (JIM), kepada Jawa Pos tadi malam.

Buyback saham BUMN, kata dia, tidak akan cukup untuk menyelematkan bursa. Karena itu, lebih baik bursa tetap ditutup hingga kondisi benar-benar stabil. “Mungkin Senin pekan depan pun lebih baik ditutup. Kalau mau dibuka, lebih baik pasar non reguler (negosiasi, Red) saja,” kata mahasiswa program doktor ilmu ekonomi Unair ini.

Pembukaan pasar negosiasi tetap akan memberikan likuiditas di pasar tetapi tidak mengganggu stabilitas bursa. “Di sini mereka yang membutuhkan likuiditas bisa menjual barang mereka (saham). Dan akan kelihatan siapa yang punya barang siapa yang tidak. Ini untuk mencegah transaksi margin bagi mereka yang tidak punya barang.”

Sementara itu, Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) terus berkonsolidasi guna menghadapi krisis finansial yang menggoyahkan pasar modal. Untuk mengkondusifkan pasar, AEI pun mengajukan tiga rekomendasi ke otoritas bursa dan pemerintah.

Ketua AEI Airlangga Hartarto mengatakan, rekomendasi itu terkait pembelian kembali (buyback) saham, short selling, dan menyangkut publikasi kebijakan pemerintah. ”Kami akan sampaikan rekomendasi ini ke pemrintah nanti malam (tadi malam, Red),” ujarnya usai pertemuan dengan anggota AEI di Jakarta kemarin (10/10).

Rekomendasi pertama, kata Airlangga, AEI mengusulkan kepada pemerintah agar tidak membatasi porsi saham yang bisa dibeli kembali. Kamis lalu (9/10), Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam dan LK) meningkatkan porsi saham yang bisa dibeli kembali oleh perseroan. Yakni, dari semula maksimal 10 persen menjadi 20 persen. ”Sebab, kalau hanya 20 persen, itu tanggung,” katanya.

Rekomendasi kedua AEI meminta short selling dilarang dulu. Dan Terakhir, publikasi kebijakan otoritas bursa harus Dipublikasikan secara komplet

Melalui media masa. (aan/owi/fan/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: